Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit

Kanker Ovarium, Gejala, Diagnosis, & Pilihan Pengobatan

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi24 Agustus 2026

BAGIKAN
artikel feature image

kanker ovarium

Kanker ovarium dijuluki “silent killer” karena gejalanya samar dan mudah dikira gangguan pencernaan atau kembung biasa. Akibatnya, lebih dari 70% kasus terdiagnosis pada stadium III sampai IV saat sel kanker sudah menyebar di rongga perut.

Mengenali gejala awal dan melakukan pemeriksaan rutin dapat meningkatkan peluang hidup secara signifikan.

Apa itu Kanker Ovarium?

Kanker ovarium adalah keganasan yang berkembang dari sel-sel pada organ reproduksi wanita, yakni ovarium (indung telur), tuba falopi, atau peritoneum (selaput yang melapisi rongga perut). Sekitar 9 dari 10 kasus berasal dari lapisan permukaan ovarium dan disebut kanker epitelial; sisanya berasal dari sel telur atau jaringan penyokong ovarium.

Tipe yang paling sering ditemukan sekaligus paling ganas cenderung menyebar ke organ-organ di rongga perut sebelum sempat menimbulkan gejala jelas. Secara genetik, wanita yang mewarisi kelainan pada gen BRCA1 atau BRCA2, yaitu gen yang bertugas memperbaiki kerusakan dalam sel, memiliki risiko jauh lebih besar terkena penyakit ini. Di Indonesia, kesadaran untuk memeriksakan faktor keturunan ini masih relatif rendah, padahal mengenali risiko sejak awal dapat sangat menyelamatkan.

Gejala Kanker Ovarium

Gejala kanker ovarium seringkali samar sehingga mudah disalahartikan sebagai keluhan ringan sehari-hari. Berikut gejala utama yang perlu diwaspadai.

  1. Kembung Persisten

Perut yang terasa penuh, kembung, atau tampak membesar secara nyata dan tidak kunjung reda selama lebih dari dua minggu adalah tanda paling awal kanker ovarium. Bedanya dengan kembung biasa, kondisi ini menetap meski sudah menghindari makanan pemicu gas. Hal ini terjadi karena tumor menekan organ di sekitarnya sekaligus memicu penumpukan cairan di rongga perut (asites). Banyak wanita keliru mengira ini masalah pencernaan biasa sehingga penanganannya kerap tertunda.

  1. Nyeri Panggul atau Perut

Nyeri tumpul atau sensasi tekanan di perut bawah maupun panggul kerap diabaikan karena dianggap nyeri haid atau gangguan saluran kemih. Nyeri muncul karena tumor menekan saraf dan jaringan sekitar panggul, atau karena peradangan akibat sel kanker. Selain itu, nyeri dapat menjalar ke punggung bawah sehingga beberapa wanita keliru menghubungkannya dengan masalah tulang belakang. Jika nyeri panggul berlangsung terus-menerus tanpa sebab yang jelas, konsultasi ke dokter spesialis adalah langkah yang tepat.

  1. Cepat Kenyang

Merasa cepat kenyang atau tidak mampu makan dalam porsi normal, meski sebelumnya tidak bermasalah dengan nafsu makan, terjadi karena tumor menekan lambung sehingga kapasitasnya mengecil. Penumpukan cairan di rongga perut juga memberi tekanan tambahan. Akibatnya, banyak penderita mengalami penurunan berat badan tanpa sebab jelas karena asupan hariannya berkurang tanpa disadari.

  1. Sering Berkemih dan Perubahan Pola BAB

Dorongan berkemih lebih sering atau tiba-tiba, terutama tanpa disertai tanda infeksi saluran kemih, bisa menjadi sinyal massa di rongga panggul yang menekan kandung kemih. Jika frekuensi berkemih tidak membaik setelah pengobatan ISK atau tidak ditemukan bakteri dalam urin, evaluasi kondisi panggul sangat dianjurkan. Demikian pula, konstipasi mendadak atau diare yang tidak dapat dijelaskan terutama bila terjadi bersamaan dengan gejala lain perlu diperhatikan, karena tumor di dekat usus besar dapat mengganggu pergerakan usus secara mekanis.

  1. Kelelahan dan Perdarahan Abnormal

Kelelahan yang tidak sebanding dengan aktivitas fisik dan tidak membaik meski beristirahat cukup adalah gejala sistemik kanker ovarium. Tubuh menghabiskan banyak energi merespons sel kanker, sementara gangguan pola makan akibat perut penuh memperparah kekurangan nutrisi. Selain itu, perdarahan di luar siklus menstruasi terutama setelah menopause tidak boleh diabaikan sama sekali, karena setiap perdarahan pervaginam pada wanita pascamenopause harus segera dievaluasi dokter.

Penyebab Kanker Ovarium

Kanker ovarium tidak muncul dari satu penyebab tunggal, melainkan dari kombinasi beberapa faktor risiko, antara lain faktor genetik, hormonal, dan kondisi kesehatan tertentu.

  1. Mutasi BRCA1/BRCA2

Kelainan bawaan pada gen BRCA1 atau BRCA2 sangat meningkatkan risiko kanker ovarium. Bayangkan gen BRCA sebagai tim reparasi di dalam sel yang memperbaiki kerusakan kecil pada materi genetik. Ketika tim ini tidak bekerja normal, kerusakan menumpuk dan sel abnormal bisa berkembang menjadi sel kanker. Di Indonesia, pemeriksaan gen BRCA kini sudah tersedia di beberapa rumah sakit besar, termasuk di Tzu Chi Hospital Jakarta.

  1. Riwayat Keluarga dan Endometriosis

Memiliki kerabat dekat yang pernah didiagnosis kanker ovarium atau kanker payudara meningkatkan risiko secara nyata, terutama jika lebih dari satu anggota keluarga dari pihak ibu maupun ayah terkena kondisi yang dikenal sebagai sindrom kanker payudara dan ovarium herediter (HBOC). Selain itu, endometriosis meningkatkan risiko kanker ovarium jenis endometrioid dan clear cell hingga dua sampai tiga kali lipat. Di Indonesia banyak wanita dengan endometriosis tidak terdiagnosis bertahun-tahun karena menganggap nyeri haid berat sebagai hal normal.

  1. Faktor Hormonal dan Usia

Wanita yang tidak pernah hamil memiliki risiko lebih tinggi karena jumlah siklus ovulasi sepanjang hidupnya lebih banyak, sehingga peluang mutasi sel epitel ovarium pun lebih besar. Penggunaan terapi hormon pengganti (HRT) estrogen tunggal jangka panjang pascamenopause juga dikaitkan dengan peningkatan risiko melalui stimulasi berlebihan pada sel epitel ovarium. Risiko secara keseluruhan meningkat seiring usia dan paling tinggi pada wanita di atas 55 tahun, meski kanker ovarium jenis tumor sel germinal justru lebih sering ditemukan pada usia 20 sampai 30 tahun.

Diagnosis Kanker Ovarium

Diagnosis kanker ovarium tidak bisa ditegakkan hanya dari satu pemeriksaan. Dokter memadukan beberapa metode agar hasilnya akurat dan penanganannya tepat sasaran.

Langkah pertama yang paling umum adalah USG transvaginal, yaitu pemeriksaan menggunakan gelombang suara untuk melihat ukuran, bentuk, dan karakter benjolan di ovarium. Bersamaan dengan USG, dokter biasanya meminta pemeriksaan darah untuk mengukur kadar CA-125. Perlu dipahami, kadar CA-125 yang tinggi tidak selalu berarti kanker karena angkanya juga bisa naik pada kondisi jinak seperti endometriosis atau miom.

Bila kanker dicurigai, CT scan perut dan panggul digunakan untuk memperlihatkan kondisi organ di sekitar ovarium serta kelenjar getah bening yang mungkin sudah ikut terkena. Pada benjolan yang sulit dinilai, MRI digunakan untuk melihat detail jaringan lunak secara lebih jelas. Kepastian diagnosis hanya bisa ditegakkan lewat pemeriksaan sampel jaringan (biopsi) di bawah mikroskop yang biasanya diambil saat operasi, karena mengambil sampel sebelum operasi berisiko menyebarkan sel kanker. Pemeriksaan gen BRCA juga sangat dianjurkan bagi semua pasien, karena hasilnya membantu dokter memilih pengobatan paling tepat sekaligus memberi informasi berharga bagi anggota keluarga.

Cara Mengobati Kanker Ovarium

Pengobatan kanker ovarium tidak bersifat satu ukuran untuk semua. Pilihan terapi disusun sesuai jenis, stadium, dan kondisi masing-masing pasien.

Penanganan kanker ovarium disesuaikan dengan kondisi dan stadium pasien:

  1. Debulking Surgery (Sitoreduksi)

Operasi debulking bertujuan membuang sebanyak mungkin jaringan tumor, umumnya mencakup pengangkatan rahim, indung telur, saluran telur, omentum, serta kelenjar getah bening yang ikut terkena. Prinsipnya sederhana: semakin sedikit sisa tumor yang tertinggal, semakin baik respons tubuh terhadap kemoterapi dan semakin tinggi peluang bertahan hidup. Di Tzu Chi Hospital Jakarta, operasi kanker organ reproduksi wanita ditangani oleh tim dokter spesialis berpengalaman dengan dukungan fasilitas operasi modern.

  1. Kemoterapi Platinum-Based

Kemoterapi dengan kombinasi obat berbahan dasar platinum menjadi pengobatan utama pilihan pertama untuk kanker ovarium jenis yang paling umum. Dapat diberikan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor besar agar lebih mudah diangkat, atau sesudah operasi untuk membasmi sel kanker yang tersisa. Obat ini merusak kemampuan sel kanker menggandakan diri. Efek samping seperti mual, rambut rontok, dan penurunan daya tahan tubuh memang umum terjadi, tetapi semuanya dapat dikelola dengan obat-obatan pendukung yang tersedia.

  1. PARP Inhibitor dan Bevacizumab

Terapi pemeliharaan dengan PARP inhibitor merupakan terobosan penting yang terbukti memperpanjang masa bebas kanker secara bermakna, terutama pada pasien dengan kelainan gen BRCA yang sebelumnya merespons baik terhadap kemoterapi platinum. Obat ini mematikan alat reparasi cadangan sel kanker sehingga sel tidak mampu bertahan hidup. Bevacizumab bekerja dengan cara berbeda, yakni memutus pasokan pembuluh darah baru yang dibutuhkan tumor untuk tumbuh. Bevacizumab dapat digabungkan dengan kemoterapi aktif atau dipakai sebagai terapi pemeliharaan setelah kemoterapi selesai, dan terutama bermanfaat pada kasus stadium lanjut atau kambuh.

  1. Imunoterapi

Imunoterapi melatih dan mengaktifkan sistem pertahanan tubuh sendiri agar mampu mengenali dan menghancurkan sel kanker. Berbagai jenis imunoterapi masih terus diteliti secara aktif untuk kanker ovarium. Meski belum menjadi pilihan pertama, hasil penelitian menunjukkan potensi yang menjanjikan terutama untuk jenis kanker tertentu atau kasus yang tidak lagi merespons kemoterapi. Pasien yang ingin mengetahui pilihan ini dapat mendiskusikannya langsung dengan dokter spesialis onkologi.

Cara Mencegah Kanker Ovarium

Kanker ovarium tidak sepenuhnya dapat dicegah, tetapi risikonya bisa ditekan dengan beberapa langkah berbasis bukti ilmiah, di antaranya konseling genetik, kontrasepsi oral, pemberian ASI, dan tindakan pencegahan bedah.

  1. Konseling Genetik BRCA untuk Wanita dengan Riwayat Keluarga

Wanita dengan riwayat keluarga kanker ovarium atau kanker payudara sangat dianjurkan menjalani konseling genetik dan pemeriksaan gen BRCA1/BRCA2. Dengan mengetahui kondisi genetiknya sejak dini, seseorang dapat mengambil keputusan lebih matang tentang langkah pencegahan, misalnya pemantauan kesehatan lebih ketat atau tindakan pencegahan tertentu. Di Tzu Chi Hospital Jakarta, layanan konseling genetik tersedia sebagai bagian dari layanan kanker menyeluruh.

  1. Penggunaan Kontrasepsi Oral Mengurangi Risiko hingga 50%

Penggunaan kontrasepsi oral kombinasi selama lima tahun atau lebih dapat mengurangi risiko kanker ovarium hingga 50%, dan efek protektifnya bahkan bertahan beberapa tahun setelah penggunaan dihentikan. Mekanismenya adalah menekan ovulasi sehingga mengurangi jumlah total siklus ovulasi sepanjang hidup wanita. Namun, keputusan ini harus selalu dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter karena ada pertimbangan risiko kesehatan lain yang bersifat individual.

  1. Pemberian ASI Eksklusif dan Salpingo-Ooforektomi Profilaksis

Menyusui secara eksklusif memberikan efek protektif karena menekan ovulasi dan mengubah lingkungan hormonal sel ovarium menjadi kurang kondusif bagi perkembangan sel kanker manfaat ini semakin kuat pada wanita yang menyusui lebih lama. Bagi wanita yang terbukti membawa kelainan gen BRCA1 atau BRCA2, operasi pengangkatan indung telur dan saluran telur secara profilaksis (salpingo-ooforektomi profilaksis) terbukti menurunkan risiko kanker ovarium hingga lebih dari 80%. Keputusan ini sangat pribadi dan memerlukan diskusi mendalam bersama dokter kandungan, dokter spesialis kanker, dan konselor genetik.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasi ke dokter jika Anda mengalami kembung menetap lebih dari 2 minggu, nyeri panggul persisten, atau perut membesar tanpa sebab jelas. Bagi wanita dengan kelainan gen BRCA atau riwayat keluarga kanker ovarium, lakukan pemantauan rutin berupa USG dan tes CA-125 setiap 6 bulan.

Jangan tunda pemeriksaan, deteksi dini kanker ovarium memberi peluang kesembuhan yang jauh lebih besar. Di Tzu Chi Hospital, Anda dapat jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital atau temukan spesialis kandungan dan onkologi yang tepat di halaman Cari Dokter. Layanan tersedia untuk pasien BPJS Kesehatan, asuransi swasta, maupun biaya mandiri.

Referensi

  1. American Cancer Society. (2024). Cancer Information & Resources. cancer.org

  2. World Health Organization. (2023). Cancer Fact Sheet. who.int

  3. Mayo Clinic. (2024). Cancer – Symptoms and Causes. mayoclinic.org

  4. Cleveland Clinic. (2024). Cancer: Types, Symptoms & Treatments. my.clevelandclinic.org

  5. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Panduan Nasional Penanganan Kanker. kemkes.go.id

 

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG


 


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS