Syifa, Pasien Talasemia Akhirnya Melakukan Transplantasi Sel Punca di Tzu Chi Hospital

Wajah bahagia dari tim dokter dan perawat transplantasi sel punca Tzu Chi Hospital menyambut hari baru pasien Assyifa Salsabila Balqis setelah menerima transplantasi sel punca darah dari adiknya Sultan Muhammad Alfatih.

Saya tak pernah menyangka, momen mendebarkan pada proses transplantasi sel punca darah atau yang biasa dikenal dengan transplantasi sel sumsum tulang belakang berlangsung begitu halus dan mulus, juga mengharukan. Semua momen akan proses transplantasi itu terlihat jelas dari luar ruangan steril di Instalasi Sel Punca Darah di lantai 11 Tzu Chi Hospital, Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

Saya sempat berpikir prosesnya akan diwarnai dengan adegan operasi ataupun pembedahan yang dramatis. Namun ternyata semuanya tidak lagi diperlukan karena berkat teknologi, kecanggihan alat kesehatan, dan perkembangan ilmu pengetahuan yang luar biasa membuat proses ini terkesan jauh lebih sederhana. Buahnya adalah ekspresi dari wajah-wajah bahagia penuh harapan, kelegaan, juga senyum yang terus merekah menghangat memenuhi ruangan.

Ya, Assyifa Salsabila Balqis (11), pasien Talasemia Beta Mayor kini sudah menerima sel punca darah dari adiknya, Sultan Muhammad Alfatih (6).

Melihat Kakak Beradik yang Sangat Kuat

Apabila orang awam seperti saya melihatnya, proses transplantasi ini terlihat seperti proses donor darah dan transfusi darah. Namun jangan salah, proses ini sangat jauh lebih rumit dari yang dilihat.

Proses transplantasi dimulai dengan proses harvest dari Fatih. Proses harvest ini memakan waktu 3 hingga 5 jam.

Sel punca milik Fatih dipanen dan disaring melalui mesin apheresis dan diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.

Untuk pendonor yang kali ini adalah Fatih, sudah lebih dulu dipersiapkan untuk harvest (atau proses pemanenan sel punca darah). Menuju proses ini, setiap hari selama 4 hari sebelum harvest, tim dokter memberikan obat rutin untuk menstimulasi jumlah sel punca dalam darah Fatih. Fatih juga sudah dipasang kateter di bagian paha untuk mempermudah pengambilan darah. Kemudian di hari-H harvest, sel punca milik Fatih dipanen dan disaring melalui mesin apheresis dan diambil sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan.

Sementara untuk pasien penerima donor, Syifa juga dipersiapkan untuk menerima sel punca dari Fatih. Sebelumnya ia lebih dulu menjalani kemoterapi, tujuh hari sebelum melakukan transplantasi. Kemoterapi dosis tinggi ini tujuannya untuk menekan sumsum tulang miliknya yang rusak sekaligus untuk menekan daya tahan tubuhnya sehingga ketika ada ‘benda asing’ dalam hal ini sel punca masuk ke dalam tubuh, tidak akan ditolak oleh badan penerimanya. Tim dokter transplantasi sel punca Tzu Chi Hospital yang kali ini diwakili oleh dr. Rendi Prawira menjelaskan bahwa efek kemoterapi ini tentu cukup berat bagi pasien, "Bisa muntah, sakit kepala, dan daya tahan tubuh jauh melemah. Untuk itu, pasien transplantasi ditempatkan di ruangan isolasi demi menjaga pasien dari risiko-risiko infeksi pascakemoterapi."

Tim dokter melakukan proses transfusi atau transplantasi sel punca untuk Syifa. Prosesnya berlangsung selama 3 hingga 5 jam pula. Proses transplantasi sel punca darah ini berlangsung dua kali selama dua hari, 20 dan 21 November 2023.

Setelah persiapan bagi pendonor maupun penerimanya dilakukan, proses transplantasi dimulai dengan proses harvest dari Fatih yang kemudian sel punca itu ditransfusikan untuk Syifa. Proses harvest memakan waktu 3 hingga 5 jam (setiap harinya). Begitu juga dengan proses transfusi atau transplantasinya, 3 hingga 5 jam pula (setiap harinya). Proses transplantasi sel punca darah ini berlangsung dua kali selama dua hari, 20 dan 21 November 2023.

Proses bagi Fatih selesai di sini, Fatih pun sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit di tanggal 22 November 2023 setelah menjalani berbagai pemeriksaan dan dinyatakan dalam kondisi yang prima. Sementara bagi Syifa kini memasuki waktu tunggu engraftment, tim dokter juga menyebut hari pertama ketika transfusi itu dilakukan sebagai day zero yang artinya adalah memasuki hari ke-nol waktu tunggu proses penempelan sel punca di tubuhnya. Proses ini rata-rata memakan waktu 10 hingga 20 hari ke depan. Harapannya sel ini akan berkembang menjadi sel-sel darah yang akan menghasilkan darah baru di badan penerima.

“Sel darah ini kan sel darah yang sehat dibandingkan dengan sel punca yang sebelumnya yang menghasilkan darah yang tidak baik. Jadi diharapkan yang tadinya membutuhkan transfusi (darag) seumur hidup, nantinya bisa bebas dan tidak perlu lagi melakukan transfusi,” kata dr. Rendi.

Fatih ikut melihat langsung proses transfusi pada kakaknya. Ia bersama sang ayah dan juga para perawat turut memberikan semangat pada Syifa dan tim dokter yang berada di dalam ruang steril.

Suasana yang Menghangatkan Hati

Dari segala kompleksnya tindakan medis pada dua kakak beradik Syifa dan Fatih, ada begitu banyak tangan yang terus mendukung keduanya dan keluarga mereka, mulai dari dokter, perawat, relawan pemerhati, pihak Tzu Chi dan lainnya. Pada proses transplantasi ini, tim medis juga sudah menyiapkan balon warna warni juga bando bertuliskan happy birthday untuk menyambut tetesan sel punca darah pertama yang masuk ke dalam tubuh Syifa. Sungguh meriah karena semuanya juga bernyanyi lagu Happy Birthday, mengibaratkan ini adalah kehidupan baru untuk Syifa dengan sel punca barunya.

“Happy birthday to youuu… happy birthday to you… Happy birthday.. Happy birthday.. Happy birthday to youuu….”

“Yeiyyy….. Happy birthday Syifa…,” ungkap seluruh dokter dan perawat yang berada di dalam dan di luar ruangan steril bergantian sambil bertepuk tangan. Tak lupa dokter yang bertugas di dalam ruang steril memberikan sepiring cupcake cantik untuknya.

Pada proses transplantasi ini, tim medis juga sudah menyiapkan balon warna warni juga bando bertuliskan happy birthday untuk menyambut tetesan sel punca darah pertama yang masuk ke dalam tubuh Syifa. Hal ini mengibaratkan kehidupan baru untuk Syifa dengan sel punca barunya.

Senyum manis Syifa terus terlihat sejak awal proses transplantasi ini dilakukan, padahal hari sebelumnya dokter mengatakan ia masih berjuang melawan rasa mual dan sakit kepala pascakemoterapi. “Tapi hari ini Syifa senyum terus, senang sekali lihatnya. Hebat banget ya,” seloroh seorang perawat melihat Syifa dari luar ruangan steril.

Fatih yang juga diperbolehkan melihat langsung proses transplantasi itu pun ikut senang. “Emang Ayuk (panggilan kakak) hari ini ulang tahun?” tanyanya lugu dan menggemaskan membuat semua yang ada di sana tertawa.

Momen hangat ini tak ubahnya membuat semua orang ikut senang dan bergembira. Tanpa sadar, beberapa perawat juga menghapus air mata mereka sambil tersenyum haru.

Di dalam ruangan steril, Syifa banyak mendapatkan cerita manis akan proses penyembuhan penyakitnya, bahwa semua tim berusaha dengan maksimal, jadi Syifa pun harus tetap semangat menjalani sisa dari proses pengobatannya. Tim itu juga termasuk orang tua, dan juga adik ketiganya, Fatih, yang juga sempat ikut merasakan sakit ketika proses pengambilan sel punca darah dilakukan.

Mendengar penjelasan Dokter Edi Setiawan Tehuteru, tangan Syifa langsung otomatis membentuk tanda hati yang ditujukan kepada adiknya, Fatih.

Dokter Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A(K), MHA., Ketua Tim Transplantasi Sel Punca Darah Tzu Chi Hospital pun memberi tahu Syifa bahwa sel punca yang menggantung di tiang infus dan tengah masuk ke dalam tubuhnya itu diambil dari Fatih. “Ini diambil dari Fatih buat Ayuk Syifa,” tutur dr. Edi sambil menunjuk Fatih di luar ruangan.

Sontak pandangan Syifa langsung mengarah ke Fatih yang masih duduk di kursi roda. Matanya mengisyaratkan rasa sayang yang dalam dan senyum lebar langsung mengembang di wajahnya. Tangan Syifa pun otomatis membentuk tanda hati. Tanda cinta sederhana itu rasanya langsung sampai tepat sasaran.

Membalas sang kakak, Fatih mengikuti isyarat tangan bentuk hati, sama dengan Syifa. Ia juga langsung menulis pesan “Ayuk Syifa, semangat ya, cepat sembuh” di kaca ruangan.

“Aku senang sekali bisa bantu Ayuk, tapi memang sedikit sakit,” kata Fatih sambil tertawa dengan polosnya.

Fatih menulis pesan untuk menyemangati Syifa: “Ayuk Syifa, semangat ya, cepat sembuh” di luar kaca ruangan steril.

Keberanian Fatih yang menjadi penolong dan super hero bagi kakaknya diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat di luar sana tentang betapa tubuh ini bisa bermanfaat bagi orang lain, salah satunya dengan menjadi donor sel punca darah atau sel sumsum tulang belakang. Hingga nanti harapannya ketika pengobatan ini semakin massive, masyarakat bisa turut ikut serta menjadi penolong bagi siapapun malalui donor sel punca.

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari

Editor: Hadi Pranoto

Previous
Previous

Bahagianya Karsam Mendapat Kacamata Baru

Next
Next

Layanan Transplantasi Sumsum Tulang Sudah Dibuka di Tzu Chi Hospital