Edukasi Obat & Apotek

Furosemide (Obat Diuretik): Dosis, Kegunaan & Efek Samping

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi • 01 November 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Furosemide

Furosemide (frusemide) adalah obat pengurang cairan (diuretik) paling kuat yang tersedia saat ini. 

Obat ini digunakan secara luas untuk mengatasi penumpukan cairan berlebih (edema) pada berbagai kondisi medis serius, termasuk gagal jantung, gagal ginjal kronis, dan sirosis hati.

Pada dasarnya, obat ini bekerja dengan mendorong ginjal membuang kelebihan air dan garam melalui urin. Dengan begitu, cairan yang menumpuk di tubuh dapat berkurang dengan cepat.

Oleh karena itu, pastikan Anda memahami cara kerja, dosis, dan efek samping obat ini, khususnya bagi pasien yang menggunakannya sehari-hari maupun bagi keluarga yang merawatnya di rumah!

Apa Itu Furosemide?

Furosemide termasuk golongan diuretik loop yang bekerja langsung di dalam ginjal, yakni dengan menghambat proses penyerapan kembali garam sebelum zat-zat itu ikut terbuang bersama urin.

Normalnya, ginjal menyaring darah lalu “mengambil kembali” sebagian besar garam dan air agar tidak terbuang percuma. 

Furosemide seolah-olah “membuka keran” penyaringan tersebut, sehingga garam yang tidak diserap kembali akan menarik air bersamanya dan volume urin meningkat secara signifikan. 

Efek ini sangat nyata bagi pasien. Seseorang yang tungkainya membengkak hingga bekas tekanan jari tidak segera hilang biasanya akan melihat pembengkakan itu berangsur berkurang setelah beberapa hari menggunakan furosemide. 

Obat ini tergolong terjangkau dan tersedia melalui resep dokter di fasilitas kesehatan pemerintah maupun rumah sakit.

Indikasi Penggunaan Furosemide

Furosemide diresepkan pada berbagai kondisi yang ditandai oleh penumpukan cairan berlebih, yaitu ketika tubuh gagal membuang kelebihan cairan secara alami sehingga menimbulkan bengkak. Adapun beberapa indikasi penggunaannya yaitu:

1. Gagal Jantung Kongestif

Furosemide adalah obat untuk mengatasi penumpukan cairan pada gagal jantung, baik akut maupun kronis. 

Ketika jantung melemah dan tidak mampu memompa darah secara efektif, cairan cenderung menumpuk di paru-paru dan tungkai bawah, menyebabkan sesak napas dan kaki bengkak. Furosemide suntikan dapat memulai efek buang cairan dalam waktu 5 sampai 10 menit.

2. Edema pada Gagal Ginjal dan Sirosis

Pada pasien gagal ginjal kronis, furosemide seringkali diperlukan dalam dosis yang lebih tinggi karena kemampuan ginjal mengolah obat sudah menurun. 

Pada kasus asites akibat sirosis hati, furosemide umumnya dikombinasikan dengan spironolakton yang bekerja dengan cara berbeda, sehingga efek lebih optimal sekaligus mencegah kadar kalium turun terlalu drastis. 

Pasien sirosis dengan perut membuncit karena asites kerap merasakan perbaikan kenyamanan yang bermakna setelah cairan berhasil dikeluarkan secara bertahap.

3. Hipertensi Refrakter

Furosemide juga dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol meski sudah menggunakan beberapa obat sekaligus (hipertensi refrakter). 

Manfaat ini paling terlihat pada pasien yang juga mengalami pembengkakan atau penurunan fungsi ginjal, karena kelebihan cairan di dalam tubuh turut berkontribusi terhadap tingginya tekanan darah.

Dosis dan Cara Pemberian

Dosis furosemide bervariasi tergantung pada kondisi pasien dan seberapa banyak cairan yang menumpuk.

Untuk penggunaan sehari-hari dalam bentuk tablet, dosis umumnya berkisar antara 20 sampai 80 mg per hari, bisa diminum sekali atau dua kali sehari sesuai arahan dokter. 

Pada kondisi darurat seperti cairan yang memenuhi paru-paru, furosemide diberikan langsung melalui suntikan oleh tenaga medis agar bekerja lebih cepat. 

Di ruang perawatan intensif (ICU), cara pemberian dan dosisnya disesuaikan secara ketat oleh tim dokter sesuai kondisi pasien yang terus dipantau.

Untuk penggunaan di rumah, minumlah furosemide pada pagi hari, atau paling lambat pagi dan siang, karena obat ini meningkatkan frekuensi buang air kecil. 

Jika diminum menjelang tidur, Anda bisa terbangun berkali-kali ke kamar mandi dan tidur menjadi tidak nyenyak. 

Selain itu, pantau berat badan setiap pagi sebelum sarapan; jika berat badan turun lebih dari 1 kg dalam sehari, segera laporkan kepada dokter agar dosis dapat disesuaikan.

Efek Samping dan Pemantauan

Efektivitas furosemide dalam membuang cairan datang bersama risiko kehilangan mineral melalui urin. 

Untuk itu, mari simak efek samping dan cara memantaunya sebagai berikut:

1. Gangguan Elektrolit

Furosemide memperbanyak pembuangan kalium melalui urin, padahal kalium berperan besar dalam menjaga irama jantung tetap normal. 

Kekurangan kalium dapat memicu gangguan irama jantung, terutama berbahaya pada pasien yang juga menggunakan digoksin.

Gejalanya dapat berupa rasa lemas yang tidak biasa, kram otot terutama di betis, jantung berdebar tidak teratur, atau kesemutan. 

2. Dehidrasi dan Tekanan Darah Rendah

Waspadai tanda-tanda seperti pusing saat berdiri tiba-tiba, mulut terasa kering, produksi urin yang mendadak sangat sedikit, serta kram otot. 

Pasien lansia berisiko lebih tinggi, terutama saat cuaca panas atau sedang sakit. Diskusikan dengan dokter berapa banyak cairan yang sebaiknya dikonsumsi setiap hari.

3. Ototoksisitas (Gangguan Pendengaran)

Furosemide dalam dosis sangat tinggi, terutama bila suntikan diberikan terlalu cepat atau dikombinasikan dengan antibiotik tertentu, dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang menetap (ototoksisitas). 

Inilah alasan mengapa suntikan furosemide harus diberikan secara perlahan oleh tenaga medis terlatih. 

Jika selama mendapat suntikan furosemide Anda merasakan telinga berdenging atau pendengaran terasa berkurang, segera beritahu perawat atau dokter yang merawat Anda.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika berat badan naik lebih dari 2 kg dalam 2 hari, produksi urin mendadak sangat sedikit dan pusing berat saat berdiri hingga hampir pingsan.

Waspadai juga telinga berdenging selama mendapat suntikan furosemide, serta gejala dehidrasi seperti mulut sangat kering dan lemas berlebihan.

Pantau berat badan setiap pagi dan catat hasilnya. Data ini sangat membantu dokter menilai apakah dosis perlu disesuaikan. Jangan tunda konsultasi jika muncul gejala yang mengkhawatirkan.

Jika Anda atau anggota keluarga membutuhkan evaluasi terapi furosemide, jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital atau temukan dokter yang sesuai melalui Cari Dokter.

Referensi

  1. ESC Guidelines. (2021). 2021 ESC Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure. Eur Heart J, 42(36):3599-3726.

  2. Ellison DH & Felker GM. (2017). Diuretic treatment in heart failure. N Engl J Med, 377(20):1964-1975.

  3. BPOM RI. (2023). Informasi Produk Furosemide. Jakarta.

  4. Kemenkes RI. (2022). Formularium Nasional 2022. Jakarta.

  5. Faris RF, et al. (2012). Diuretics for heart failure. Cochrane Database Syst Rev, 2:CD003838.

 

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Agill Agassi Tsalitsa, Sp.JP, FIHA


 


Related Article



VIDEOS