Edukasi Obat & Apotek

Gabapentin: Dosis, Efek Samping & Kegunaan untuk Nyeri Saraf

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi • 01 November 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Pernahkah Anda merasakan nyeri seperti tersengat listrik, rasa terbakar, atau kesemutan hebat yang tak kunjung hilang, bahkan di saat sedang beristirahat? 

Bagi banyak penderita nyeri saraf atau epilepsi, kondisi ini bisa sangat mengganggu kualitas hidup sehari-hari.

Gabapentin adalah salah satu obat yang sering diresepkan dokter untuk membantu mengatasi keluhan tersebut. 

Obat ini awalnya dikembangkan untuk epilepsi, namun seiring waktu terbukti sangat efektif untuk meredakan nyeri saraf kronis.

Gabapentin memiliki profil keamanan yang relatif baik dan tidak berinteraksi dengan enzim hati, sehingga menjadi salah satu obat nyeri saraf yang paling sering diresepkan. 

Meski demikian, seperti semua obat, gabapentin tetap perlu digunakan dengan bijak di bawah pengawasan dokter.

Melalui artikel ini, Anda akan memahami cara kerja, kegunaan, dosis, hingga efek samping gabapentin!

Apa Itu Gabapentin dan Cara Kerjanya?

Gabapentin adalah obat yang bekerja pada sistem saraf untuk meredam sinyal nyeri berlebihan.

Meskipun namanya mengandung kata “GABA”, gabapentin sebenarnya tidak bekerja langsung pada reseptor GABA di otak. 

Pada kondisi nyeri saraf, jalur penghantar sinyal di dalam tubuh menjadi terlalu aktif dan terus-menerus mengirim sinyal rasa sakit, bahkan ketika tidak ada cedera baru. 

Gabapentin bekerja dengan menempel pada saluran kalsium di sel saraf, sehingga pelepasan zat-zat pemicu nyeri berkurang. 

Hasilnya, sinyal nyeri yang sampai ke otak melemah dan rasa sakit yang dirasakan pasien menurun.

Dari sisi bentuk sediaan, gabapentin tersedia dalam beberapa pilihan mulai dari kapsul, tablet, hingga sirup bagi pasien yang kesulitan menelan. 

Di Indonesia, gabapentin beredar dengan berbagai nama dagang seperti Neurontin, Gabahexal, Gabantin, dan Gapentin.

Indikasi Klinis Gabapentin

Gabapentin memiliki cakupan penggunaan yang cukup luas, namun bukti ilmiah terkuat menunjukkan manfaatnya terutama pada nyeri saraf dan epilepsi fokal sebagai terapi tambahan. 

Selain kedua kondisi utama tersebut, gabapentin juga dimanfaatkan untuk beberapa kondisi lain seperti:

1. Nyeri Neuropatik

Nyeri neuropatik atau yang sering disebut nyeri saraf sangat berbeda dari nyeri biasa seperti nyeri otot atau nyeri akibat luka. 

Nyeri saraf sering digambarkan sebagai rasa terbakar, kesemutan hebat, tertusuk-tusuk, atau seperti tersengat listrik yang muncul tanpa pemicu yang jelas. 

Keluhan ini bisa muncul kapan saja, bahkan di malam hari saat tubuh sedang beristirahat, sehingga tidur pun terganggu.

2. Epilepsi Fokal (Terapi Tambahan)

Gabapentin telah disetujui sebagai terapi tambahan untuk jenis epilepsi tertentu, yaitu kejang fokal (parsial) pada pasien dewasa dan anak berusia 12 tahun ke atas. 

Artinya, gabapentin tidak digunakan sendirian, melainkan dikombinasikan dengan obat antiepilepsi utama untuk membantu mengendalikan frekuensi kejang yang belum terkontrol sepenuhnya.

3. Sindrom Kaki Gelisah (Restless Leg Syndrome)

Gabapentin, terutama dalam bentuk khusus yang disebut gabapentin enacarbil, telah disetujui untuk menangani RLS tingkat sedang hingga berat. 

Dengan cara kerjanya yang menenangkan aktivitas saraf berlebihan, gabapentin membantu meredakan sensasi tidak nyaman tersebut dan memperbaiki kualitas tidur penderita. 

Dosis dan Cara Penggunaan Gabapentin

Pada hari pertama, dokter biasanya memulai dengan satu kapsul malam hari. Kemudian ditingkatkan menjadi dua kali sehari pada hari kedua, lalu tiga kali sehari pada hari ketiga. 

Selanjutnya dosis disesuaikan secara bertahap berdasarkan respons pasien, hingga nyeri terkendali dengan baik. 

Evaluasi efektivitas biasanya dilakukan setelah 2-4 minggu pemakaian pada dosis yang ditentukan dokter.

Mengapa dimulai malam hari? Karena pada awal terapi, gabapentin bisa menyebabkan rasa mengantuk. 

Dengan mengonsumsinya di malam hari, efek kantuk tersebut justru bisa membantu pasien tidur lebih nyenyak, bukan malah mengganggu aktivitas siang hari.

Penyesuaian untuk Penderita Gangguan Ginjal

Gabapentin dikeluarkan dari tubuh sepenuhnya melalui ginjal, bukan melalui hati. Artinya, jika fungsi ginjal terganggu, obat ini bisa menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan efek samping yang lebih berat. 

Hal ini perlu diperhatikan khusus karena di Indonesia gangguan ginjal cukup umum dijumpai pada penderita diabetes dan hipertensi, yaitu kelompok yang juga sering membutuhkan gabapentin untuk nyeri sarafnya.

Efek Samping dan Risiko Penyalahgunaan

Meskipun relatif aman, gabapentin tetap dapat menimbulkan efek samping dan memiliki potensi penyalahgunaan yang perlu diwaspadai, di antaranya sebagai berikut.

Mengantuk

Pusing

Sedikit limbung atau tidak seimbang 

Pembengkakan pada tungkai

Penambahan berat badan

Gangguan penglihatan ringan seperti pandangan ganda

Kabar baiknya, keluhan ini umumnya hanya bersifat sementara dan biasanya berkurang sendiri setelah tubuh beradaptasi dalam 1-2 minggu pertama. 

Untuk meminimalkan efek samping tersebut, kuncinya adalah mengikuti jadwal titrasi yang diarahkan dokter, yaitu mulai dari dosis rendah dan naikkan secara perlahan.

Risiko Penyalahgunaan dan Ketergantungan

Pada dosis tinggi, gabapentin dapat menimbulkan rasa euforia atau perasaan senang berlebihan, sehingga obat ini memiliki potensi untuk disalahgunakan, terutama pada orang dengan riwayat kecanduan zat. 

Hal ini menegaskan bahwa gabapentin harus selalu digunakan sesuai resep dokter dan tidak boleh diberikan kepada orang lain.

Gabapentin juga tidak boleh dihentikan secara mendadak. Berhenti tiba-tiba bisa memicu gejala putus obat seperti sulit tidur, mual, kecemasan, bahkan kejang pada kasus tertentu. 

Jika Anda perlu menghentikan penggunaan gabapentin, konsultasikan dulu dengan dokter. Penghentian harus dilakukan secara bertahap, yaitu dosis dikurangi sedikit demi sedikit, agar tubuh punya waktu menyesuaikan diri.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika nyeri tidak kunjung membaik setelah 4-6 minggu pemakaian, rasa kantuk dan pusing sangat mengganggu, tungkai membengkak atau berat badan naik tidak wajar. 

Jangan pula menghentikan obat sendiri tanpa arahan dokter. Nyeri saraf yang tepat penanganannya bisa membuat tidur dan aktivitas Anda kembali nyaman. 

Konsultasikan keluhan Anda ke Tzu Chi Hospital untuk memastikan dosis gabapentin sesuai kondisi tubuh. 

Anda dapat jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital atau memilih dokter saraf yang tepat lewat Cari Dokter agar bisa melakukan pemeriksaan sesuai waktu luang Anda.

 

Referensi

  1. Wiffen PJ, et al. (2017). Gabapentin for chronic neuropathic pain in adults. Cochrane Database Syst Rev, 6:CD007938.

  2. Treede RD, et al. (2015). A classification of chronic pain for ICD-11. Pain, 156(6):1003-1007.

  3. Pergolizzi JV, et al. (2021). The relevance of gabapentin misuse, abuse, and diversion. Expert Opin Drug Saf, 20(4):429-445.

  4. BPOM RI. (2023). Informasi Produk Gabapentin. Jakarta.

  5. Kemenkes RI. (2022). Formularium Nasional 2022. Jakarta.

 

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Melya Arianti Umbul, Sp.N


 


Related Article



VIDEOS