Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
Penyebab Hasil EKG Abnormal dan Tindakan Lanjutannya
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 24 Agustus 2026

Melihat tulisan "EKG abnormal" pada hasil pemeriksaan sering kali membuat seseorang langsung khawatir. Rasa cemas tersebut tentu wajar, apalagi jika Anda belum memahami arti dari hasil yang diterima.
Kabar baiknya, tidak semua hasil EKG abnormal menandakan penyakit jantung yang berbahaya. Sebagian temuan hanya berupa variasi normal yang tidak memerlukan pengobatan khusus.
Namun, ada pula pola tertentu yang memang menjadi tanda kondisi serius dan membutuhkan penanganan segera.
Melalui artikel ini, Anda akan memahami berbagai jenis kelainan EKG yang paling sering ditemukan, penyebabnya, kapan perlu waspada, serta pemeriksaan lanjutan yang biasanya dianjurkan dokter.
Apa Arti “EKG Abnormal”?
Istilah "EKG abnormal" sebenarnya memiliki makna yang sangat luas dan tidak selalu berarti seseorang mengalami penyakit jantung serius.
EKG sendiri merupakan pemeriksaan yang merekam aktivitas listrik jantung melalui elektroda yang ditempelkan pada dada, lengan, dan kaki.
Apabila bentuk gelombang, irama, atau waktu hantaran listrik jantung berbeda dari pola normal, mesin EKG dapat menandainya sebagai abnormal.
Namun, karena EKG hanya merekam aktivitas jantung selama sekitar 10 detik, hasilnya tidak boleh ditafsirkan secara terpisah.
Dokter tetap akan menghubungkannya dengan keluhan, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang lainnya sebelum menentukan diagnosis.
Perubahan Segmen ST: Tanda yang Perlu Diwaspadai

Salah satu bagian EKG yang paling diperhatikan dokter adalah segmen ST, karena perubahan pada bagian ini dapat menjadi petunjuk adanya gangguan aliran darah ke otot jantung.
Secara umum, perubahan segmen ST dibedakan menjadi elevasi dan depresi, yang masing-masing memiliki makna klinis berbeda:
1. Elevasi ST: Waspadai Serangan Jantung
Segmen ST menggambarkan fase singkat setelah otot jantung selesai berkontraksi sebelum memasuki proses pemulihan.
Apabila segmen ST tampak terangkat (elevasi), terutama pada beberapa sadapan yang berdekatan dan disertai nyeri dada hebat, sesak napas, atau keringat dingin, kondisi ini dapat menjadi tanda serangan jantung akut (STEMI).
Hal tersebut umumnya terjadi akibat penyumbatan total pembuluh darah koroner sehingga sebagian otot jantung kehilangan pasokan darah secara mendadak.
Karena termasuk keadaan darurat medis, pasien memerlukan penanganan secepat mungkin untuk membuka kembali aliran darah ke jantung.
2. Depresi ST: Tanda Iskemia
Sebaliknya, pada depresi segmen ST, garis ST tampak turun di bawah garis dasar.
Temuan ini dapat menjadi tanda iskemia miokard, yaitu kondisi ketika otot jantung kekurangan pasokan darah tetapi belum mengalami kerusakan permanen.
Depresi ST sering kali muncul saat seseorang melakukan aktivitas fisik atau menjalani uji latih jantung (stress test), karena kebutuhan oksigen jantung meningkat.
Jika dokter mencurigai adanya penyempitan pembuluh darah koroner, pemeriksaan lanjutan seperti CT angiografi atau angiografi koroner dapat dianjurkan.
Aritmia: Gangguan Irama Jantung
Aritmia adalah gangguan irama jantung yang terjadi ketika pembentukan atau penghantaran impuls listrik di jantung mengalami gangguan.
Kondisi ini dapat menyebabkan denyut jantung terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan.
1. Fibrilasi Atrium (AF)
Fibrilasi atrium (AF) merupakan aritmia menetap yang paling sering ditemukan.
Pada kondisi ini, serambi jantung berdenyut sangat cepat dan tidak teratur sehingga darah tidak mengalir secara optimal. Pada EKG, AF ditandai dengan hilangnya gelombang P serta irama yang benar-benar tidak teratur.
Sebagian pasien tidak mengalami keluhan, tetapi banyak pula yang merasakan jantung berdebar, cepat lelah, atau sesak napas.
AF juga meningkatkan risiko stroke karena darah yang menggenang di serambi dapat membentuk bekuan yang kemudian terbawa menuju otak. Oleh sebab itu, sebagian pasien memerlukan obat pengencer darah untuk membantu menurunkan risiko tersebut.
2. Takikardia Ventrikel dan Fibrilasi Ventrikel
Takikardia ventrikel (VT) yang menetap dan fibrilasi ventrikel (VF) merupakan aritmia yang mengancam nyawa.
Pada kedua kondisi ini, bilik jantung tidak mampu memompa darah secara efektif sehingga aliran darah ke otak dan organ vital dapat terhenti.
Penanganan harus dilakukan segera melalui resusitasi jantung paru (RJP) dan defibrilasi apabila diperlukan. Tanpa pertolongan cepat, kondisi ini dapat berakibat fatal dalam hitungan menit.
3. Blok Atrioventrikular (AV Block)
Blok atrioventrikular (AV block) terjadi ketika penghantaran sinyal listrik dari serambi menuju bilik jantung mengalami perlambatan atau terhenti.
Blok AV derajat satu umumnya tidak menimbulkan gejala dan sering kali tidak memerlukan terapi khusus. Blok AV derajat dua tipe I (fenomena Wenckebach) juga dapat ditemukan pada atlet atau saat tidur.
Sebaliknya, blok AV derajat dua tipe II maupun blok AV derajat tiga merupakan kondisi yang lebih serius karena denyut jantung dapat menjadi sangat lambat hingga menyebabkan pusing atau pingsan.
Pada kondisi tertentu, pemasangan alat pacu jantung (pacemaker) diperlukan untuk menjaga irama jantung tetap stabil.
Bundle Branch Block: Gangguan Konduksi Jantung
Bundle branch block merupakan gangguan pada jalur penghantar impuls listrik menuju bilik jantung.
Berdasarkan lokasi gangguannya, kondisi ini dibedakan menjadi Right Bundle Branch Block (RBBB) dan Left Bundle Branch Block (LBBB).
1. Right Bundle Branch Block (RBBB)
Pada RBBB, impuls listrik menuju bilik kanan berjalan lebih lambat sehingga kompleks QRS pada EKG tampak melebar dengan pola khas.
RBBB dapat ditemukan pada orang sehat tanpa penyakit jantung, tetapi juga dapat berkaitan dengan penyakit paru kronis (PPOK), emboli paru, kelainan jantung bawaan, maupun penyakit jantung koroner.
Karena itu, dokter akan menilai temuan ini bersama gejala dan kondisi klinis pasien sebelum menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.
2. Left Bundle Branch Block (LBBB)
Berbeda dengan RBBB, LBBB lebih sering berkaitan dengan penyakit jantung struktural sehingga memerlukan perhatian lebih.
Apabila LBBB baru muncul bersamaan dengan nyeri dada atau sesak napas, dokter akan mempertimbangkannya sebagai kondisi darurat hingga terbukti bukan serangan jantung.
LBBB juga sering ditemukan pada pasien dengan penyakit jantung koroner, kardiomiopati, maupun hipertensi yang telah berlangsung lama.
Hipertrofi Ventrikel Kiri (LVH)
Hipertrofi ventrikel kiri (Left Ventricular Hypertrophy/LVH) adalah kondisi ketika dinding bilik kiri jantung menebal akibat bekerja terlalu keras dalam waktu lama.
Pada EKG, LVH ditandai dengan gelombang listrik yang amplitudonya lebih tinggi dari normal. Dokter juga dapat menemukan pola strain, yaitu perubahan gelombang yang menunjukkan adanya beban berlebih pada otot jantung.
Penyebab tersering LVH adalah hipertensi yang tidak terkontrol. Namun, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh penyakit katup jantung, kardiomiopati hipertrofik, maupun penyakit ginjal kronis.
Meskipun bukan keadaan darurat, LVH penting dikenali karena berkaitan dengan peningkatan risiko gagal jantung, gangguan irama, dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Dengan mengendalikan tekanan darah sejak dini, risiko komplikasi dapat dikurangi secara signifikan.
Varian Normal yang Sering Disalahartikan
Tidak semua hasil EKG yang tampak berbeda dari biasanya merupakan tanda penyakit. Ada beberapa variasi normal yang cukup sering ditemukan dan tidak memerlukan pengobatan khusus, di antaranya:
-
Early repolarization, yaitu sedikit elevasi segmen ST yang sering ditemukan pada pria muda dan umumnya tidak berbahaya.
-
Sinus bradikardi, yaitu denyut jantung kurang dari 60 kali per menit yang sering dijumpai pada atlet atau orang dengan kebugaran fisik yang baik.
-
Gelombang tinggi yang menyerupai LVH pada pria muda bertubuh kurus karena sinyal listrik jantung lebih mudah tertangkap oleh elektroda, padahal struktur jantungnya normal.
-
Gelombang T terbalik pada sadapan tertentu yang dapat menjadi variasi normal pada sebagian wanita muda maupun kelompok etnis tertentu.
Meski demikian, seluruh temuan tersebut tetap perlu dinilai bersama kondisi klinis pasien agar dokter dapat memastikan apakah merupakan variasi normal atau bagian dari suatu penyakit.
Langkah Diagnostik Selanjutnya Setelah EKG Abnormal
EKG merupakan langkah awal dalam mengevaluasi kondisi jantung. Apabila ditemukan kelainan, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan lanjutan sesuai jenis abnormalitas yang ditemukan.
Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:
-
Ekokardiografi (USG jantung) untuk menilai struktur, ukuran ruang jantung, fungsi pompa, serta kondisi katup jantung.
-
Uji latih jantung (stress test) untuk melihat respons irama jantung dan segmen ST saat aktivitas fisik, terutama bila dicurigai penyakit jantung koroner.
-
Holter monitor, yaitu perekaman EKG selama 24–48 jam untuk mendeteksi aritmia yang tidak muncul pada EKG standar.
-
Pemeriksaan laboratorium, seperti troponin, elektrolit, fungsi tiroid, maupun pemeriksaan darah lainnya untuk membantu mencari penyebab kelainan.
Perlu diingat bahwa hasil EKG abnormal bukanlah diagnosis akhir.
Dokter akan menggabungkan hasil EKG dengan gejala, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya agar penyebab kelainan dapat dipastikan serta penanganan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi pasien.
Kapan Harus ke Dokter?
Segeralah mencari pertolongan medis jika hasil EKG Anda dilaporkan abnormal, terutama bila disertai nyeri dada hebat, sesak napas, keringat dingin, jantung berdebar tidak teratur, atau rasa mau pingsan.
Pola seperti elevasi ST baru, takikardia ventrikel, dan fibrilasi ventrikel tergolong kondisi gawat yang tidak boleh ditunda.
Untuk temuan yang tidak darurat seperti LBBB baru, LVH, atau AF, deteksi dan evaluasi dini tetap penting agar komplikasi serius bisa dicegah. EKG abnormal selalu perlu dibaca dalam konteks klinis lengkap oleh dokter terlatih, bukan ditafsirkan sendiri.
Jangan tunda kepastian soal kondisi jantung Anda. Jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital untuk konsultasi dengan dokter spesialis, atau gunakan fitur Cari Dokter di situs Tzu Chi Hospital untuk menemukan spesialis yang sesuai.
Referensi
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Agill Agassi Tsalitsa, Sp.JP, FIHA
Topik
Related Article
Artikel Populer

Omeprazole: Manfaat, Dosis, Cara Minum, & Efek Samping

19 Ciri-ciri Hamil Muda pada Wanita, Kenali Sebelum Terlambat!

10 Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Tidak Berbahaya & Cara Mengatasinya

8 Cara Menurunkan Demam Anak tanpa Obat, Pakai Minyak Kayu Putih!

