Edukasi Obat & Apotek
Metformin (Obat Diabetes Tipe 2): Cara Kerja, Dosis & Efek Samping
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 01 November 2026

Metformin adalah satu-satunya obat diabetes yang terbukti menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung pada penyandang diabetes tipe 2, sebuah manfaat yang jarang dimiliki obat lain.
Metformin menjadi andalan dokter karena mudah didapat di apotek maupun puskesmas, sehingga perjalanan mengontrol diabetes bagi banyak pasien sering kali dimulai dari obat ini.
Jika Anda direkomendasikan konsumsi obat ini, mari simak cara kerja, cara minum, dan efek samping yang mungkin muncul sangat penting agar pengobatan berjalan optimal sekaligus aman.
Apa Itu Metformin dan Cara Kerjanya?

Metformin | Sumber: Medical News Today
Metformin adalah obat golongan biguanid yang bekerja melalui beberapa cara sekaligus, meliputi hal-hal berikut. Cara utamanya adalah menahan hati agar tidak memproduksi terlalu banyak gula.
Bayangkan hati seperti “pabrik gula” di dalam tubuh. Pada penderita diabetes tipe 2, pabrik ini sering bekerja berlebihan sehingga kadar gula darah tetap tinggi bahkan saat berpuasa atau tidak makan, dan metformin membantu memperlambat produksi berlebih tersebut.
Selain itu, metformin membantu sel-sel otot dan lemak menjadi lebih “peka” terhadap insulin, yaitu hormon yang bertugas membuka pintu sel agar gula bisa masuk dan digunakan sebagai energi.
Metformin tidak membuat gula darah terjun terlalu rendah (hipoglikemia) bila digunakan sendiri, sehingga risiko pusing mendadak, gemetar, atau keringat dingin sangat kecil.
Metformin juga tidak menambah berat badan, bahkan pada sebagian pasien sedikit membantu menurunkannya.
Indikasi dan Keunggulan Metformin
Selain mengontrol gula darah, metformin memberikan sejumlah manfaat tambahan dan digunakan pada beberapa kondisi, yaitu diabetes tipe 2, seperti diuraikan berikut ini:
1. Diabetes Mellitus Tipe 2
Metformin adalah pilihan pertama ketika diabetes tipe 2 tidak lagi bisa dikendalikan hanya dengan mengubah pola makan dan rutin berolahraga.
Obat ini bisa diberikan baik pada pasien yang kelebihan berat badan maupun yang berat badannya normal, dengan atau tanpa penyakit penyerta, selama tidak ada alasan medis yang melarang penggunaannya.
2. Pencegahan Diabetes pada Prediabetes
Metformin juga bermanfaat pada tahap prediabetes, yaitu kondisi ketika kadar gula darah sudah mulai naik melewati batas normal namun belum cukup tinggi untuk disebut diabetes.
Pada kelompok prediabetes, metformin terbukti secara bermakna menurunkan risiko berkembangnya kondisi ini menjadi diabetes penuh.
3. PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)
Metformin juga digunakan pada wanita dengan PCOS (sindrom ovarium polikistik), yaitu gangguan hormonal yang sering ditandai dengan siklus haid tidak teratur, jerawat, dan kelebihan berat badan.
Kondisi ini erat kaitannya dengan resistensi insulin, yaitu keadaan ketika sel-sel tubuh kurang peka terhadap insulin, sehingga metformin yang memperbaiki kepekaan insulin bisa turut membantu memperbaiki keseimbangan hormon.
Dosis Metformin
Prinsip pemberian dosis metformin, yaitu memulai dari dosis kecil lalu menaikkannya secara bertahap, bukan langsung dosis besar sejak hari pertama.
Terapi biasanya dimulai dengan dosis 500 mg sekali atau dua kali sehari, diminum bersama makan.
Setiap 1-2 minggu, dosis dapat dinaikkan sedikit demi sedikit sesuai toleransi tubuh dan hasil pemantauan gula darah oleh dokter.
Dengan cara bertahap ini, tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dan keluhan pencernaan bisa jauh berkurang.
Setelah fase penyesuaian, sebagian besar pasien akan minum metformin sebanyak 1000-2000 mg per hari, dibagi menjadi 2-3 kali minum bersama makan.
Dokter akan menentukan dosis yang paling sesuai dengan kondisi dan target gula darah masing-masing pasien.
Efek metformin bukan instan, sebab butuh waktu beberapa minggu hingga hasilnya terlihat konsisten pada pemeriksaan gula darah.
Penyesuaian pada Gangguan Ginjal
Metformin dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal, sehingga kondisi ginjal sangat memengaruhi keamanan penggunaannya.
Jika ginjal tidak bekerja dengan baik, metformin bisa menumpuk di tubuh dan menimbulkan risiko.
Karena itu, dokter akan memeriksa fungsi ginjal secara berkala melalui tes darah sederhana untuk mengukur kadar kreatinin dan menghitung nilai eGFR (laju filtrasi ginjal, yaitu ukuran seberapa baik ginjal menyaring darah).
Tergantung hasil pemeriksaan, dokter akan memutuskan apakah dosis perlu dikurangi, ditunda sementara (misalnya sebelum CT scan dengan cairan kontras atau operasi besar), atau dihentikan sama sekali bila fungsi ginjal sudah sangat menurun.
Efek Samping dan Kontraindikasi
Sebagian besar bersifat ringan dan bisa diminimalkan dengan cara pemakaian yang benar. Efek samping metformin yang perlu Anda kenali, meliputi:
-
Mual
-
Diare
-
Nyeri perut
-
Rasa seperti logam di mulut
Kunci untuk mengurangi keluhan ini ada dua, yaitu selalu minum bersama makan dan mulai dari dosis kecil.
Pasien yang langsung minum dosis besar atau minum dengan perut kosong jauh lebih sering mengalami keluhan dibanding mereka yang mengikuti panduan titrasi bertahap.
Asidosis Laktat (Sangat Jarang)
Asidosis laktat adalah kondisi ketika asam laktat menumpuk berlebihan di dalam darah, yang bisa berbahaya bila tidak ditangani.
Kondisi ini bisa terjadi pada pengguna metformin, namun kejadiannya sangat jarang dan hampir selalu hanya terjadi pada pasien yang memang tidak seharusnya menggunakan metformin, misalnya mereka dengan gangguan ginjal berat, gangguan hati berat, atau sakit keras.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan bila gula darah tetap tidak terkontrol meski sudah minum metformin sesuai anjuran.
Beri tahu dokter sebelum menjalani CT scan dengan kontras atau operasi. Segeralah ke UGD bila timbul nyeri perut hebat mendadak, sesak napas, mual-muntah berat, atau tubuh sangat lemah, karena bisa mengarah pada asidosis laktat.
Gula darah yang terkendali sejak dini adalah kunci mencegah komplikasi jantung, ginjal, dan saraf.
Jangan menunda jika ada keraguan pada terapi Anda. Segera jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital untuk evaluasi gula darah dan fungsi ginjal, atau temukan spesialis yang tepat lewat Cari Dokter. Layanan Tzu Chi Hospital terbuka untuk Anda kapan saja!
Referensi
-
ADA Standards of Medical Care in Diabetes 2024. Diabetes Care, 47(Suppl 1).
-
PERKENI. (2021). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. Jakarta.
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Stefani Yoelita, Sp.PD, FINASIM, AIFO-K, CPM, FISQua
Topik
