Gaya Hidup Sehat

Cara Menghitung BMI dengan Mudah: Rumus, Contoh, dan Arti Hasilnya

logo author

Ditulis Oleh

Admin • 04 November 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Cara menghitung BMI cukup sederhana: bagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. Hasilnya menunjukkan apakah berat badan Anda tergolong kurang, normal, berlebih, atau obesitas. BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung, tetapi menjadi langkah awal yang praktis untuk menilai risiko kesehatan terkait berat badan.

Di Indonesia, BMI dikenal juga sebagai Indeks Massa Tubuh (IMT). Berikut panduan rumus, contoh perhitungan, kategori hasil menurut Kementerian Kesehatan RI dan WHO, serta hal yang perlu diperhatikan saat membaca angka BMI.

Apa Itu BMI atau Indeks Massa Tubuh?

BMI (body mass index) adalah perbandingan antara berat badan dan tinggi badan yang digunakan untuk memperkirakan status berat badan orang dewasa. Pemeriksaan ini mudah, murah, dan bisa dilakukan sendiri di rumah dengan timbangan serta alat ukur tinggi badan.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menegaskan bahwa BMI adalah alat skrining, bukan alat diagnosis. Artinya, BMI membantu menandai kemungkinan masalah berat badan, sedangkan penilaian kesehatan yang lengkap tetap memerlukan pemeriksaan lain.

Rumus dan Cara Menghitung BMI

Rumus BMI yang digunakan Kementerian Kesehatan RI dan WHO adalah:

BMI = berat badan (kg) ÷ [tinggi badan (m) × tinggi badan (m)]

Langkah Menghitung BMI

  1. Timbang berat badan di pagi hari, sebaiknya sebelum makan dan dengan pakaian ringan.

  2. Ukur tinggi badan tanpa alas kaki, lalu ubah satuannya dari sentimeter ke meter. Misalnya, 160 cm menjadi 1,6 m.

  3. Kalikan tinggi badan dengan tinggi badan itu sendiri.

  4. Bagi berat badan dengan hasil perkalian tersebut.

  5. Bulatkan hasilnya menjadi satu angka di belakang koma, lalu cocokkan dengan tabel kategori.

Contoh Cara Menghitung BMI

Contoh 1. Seseorang memiliki berat badan 65 kg dan tinggi badan 160 cm.

  • Tinggi badan dalam meter: 1,6 m

  • Kuadrat tinggi badan: 1,6 × 1,6 = 2,56

  • BMI: 65 ÷ 2,56 = 25,4

Contoh 2. Seseorang memiliki berat badan 55 kg dan tinggi badan 165 cm.

  • Tinggi badan dalam meter: 1,65 m

  • Kuadrat tinggi badan: 1,65 × 1,65 = 2,72

  • BMI: 55 ÷ 2,72 = 20,2

Cara Menghitung Kisaran Berat Badan Ideal dari BMI

Rumus BMI juga bisa dibalik untuk mengetahui kisaran berat badan normal sesuai tinggi badan Anda. Kalikan kuadrat tinggi badan dengan 18,5 untuk batas bawah dan dengan 25,0 untuk batas atas. Untuk tinggi 160 cm, kisaran berat badan normal menurut kategori Kemenkes adalah sekitar 47,4–64 kg.

Kategori BMI untuk Orang Dewasa

Setelah mengetahui angka BMI, cocokkan hasilnya dengan kategori berikut. Indonesia memiliki ambang batas sendiri yang disesuaikan dengan karakteristik orang Indonesia, sehingga sedikit berbeda dari kategori WHO.

Kategori BMI Menurut Kementerian Kesehatan RI

Kategori

Keterangan

BMI (kg/m²)

Sangat kurus

Kekurangan berat badan tingkat berat

Kurang dari 17,0

Kurus

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0 – kurang dari 18,5

Normal

Berat badan normal

18,5 – 25,0

Gemuk

Kelebihan berat badan tingkat ringan

Lebih dari 25,0 – 27,0

Obesitas

Kelebihan berat badan tingkat berat

Lebih dari 27,0

Kategori BMI Menurut WHO

Kategori

BMI (kg/m²)

Berat badan kurang

Kurang dari 18,5

Normal

18,5 – 24,9

Berat badan berlebih

25,0 – 29,9

Obesitas

30,0 atau lebih

Dengan acuan Kemenkes, contoh pertama dengan BMI 25,4 tergolong gemuk, sedangkan contoh kedua dengan BMI 20,2 tergolong normal. Ambang batas untuk populasi Asia umumnya lebih rendah daripada kategori WHO, karena risiko diabetes dan penyakit jantung pada orang Asia sudah meningkat pada BMI yang lebih kecil. Karena itu, gunakan kategori Kemenkes sebagai acuan utama di Indonesia.

Cara Menghitung BMI pada Anak dan Remaja

Rumus BMI pada anak sama dengan orang dewasa, tetapi hasilnya tidak bisa dibaca dengan tabel dewasa. Komposisi tubuh anak berubah seiring usia dan berbeda antara anak laki-laki dan perempuan.

Untuk anak usia 5–18 tahun, Kementerian Kesehatan RI menggunakan indeks BMI menurut umur (IMT/U) yang dibandingkan dengan standar antropometri anak. Hasilnya dinyatakan dalam skor-z: normal berada pada rentang −2 SD hingga +1 SD, gemuk di atas +1 SD hingga +2 SD, dan obesitas di atas +2 SD. Pada anak di bawah lima tahun, status gizi dinilai dengan grafik pertumbuhan lain sesuai usia.

Karena perhitungannya memerlukan grafik pertumbuhan, penilaian BMI anak sebaiknya dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan saat pemantauan tumbuh kembang.

Keterbatasan BMI yang Perlu Diketahui

BMI tidak dapat membedakan berat otot, lemak, tulang, dan cairan tubuh. Karena itu, hasilnya bisa kurang tepat pada beberapa kelompok:

  • Atlet atau orang berotot besar, yang dapat tergolong gemuk meski kadar lemak tubuhnya rendah.

  • Lansia, yang cenderung memiliki lemak tubuh lebih banyak daripada orang muda dengan BMI yang sama karena massa otot berkurang seiring usia.

  • Perempuan, yang rata-rata memiliki lemak tubuh lebih tinggi daripada laki-laki pada BMI yang sama.

  • Ibu hamil, karena kenaikan berat badan selama kehamilan tidak bisa dinilai dengan kategori BMI biasa.

BMI juga tidak menunjukkan di mana lemak tersimpan. Padahal, lemak di area perut lebih erat kaitannya dengan diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

Lengkapi BMI dengan Mengukur Lingkar Perut

Ukur lingkar perut dengan pita ukur melingkari perut, tepat di pertengahan antara tulang rusuk terbawah dan tulang panggul, setelah membuang napas secara normal. Mengacu pada kriteria yang digunakan di Indonesia, seseorang dikatakan mengalami obesitas sentral bila lingkar perutnya 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan.

Seseorang dengan BMI normal tetapi lingkar perut besar tetap perlu memperhatikan risiko kesehatannya. Sebaliknya, BMI sedikit di atas normal dengan lingkar perut yang baik dan otot yang kuat belum tentu bermasalah.

Langkah Setelah Mengetahui Hasil BMI

Jika BMI Kurang dari Normal

Berat badan kurang dapat berkaitan dengan asupan gizi yang tidak cukup, gangguan penyerapan makanan, atau kondisi medis tertentu. Tingkatkan asupan makanan bergizi seimbang secara bertahap dan periksakan diri bila berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

Jika BMI Normal

Pertahankan pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, dan tidur yang cukup. Pantau berat badan dan lingkar perut secara berkala, misalnya setiap beberapa bulan.

Jika BMI di Atas Normal

Mulailah dari perubahan kecil yang bisa dipertahankan, seperti mengurangi minuman manis, memperbanyak sayur dan buah, memilih porsi yang lebih kecil, serta rutin bergerak setiap hari. Penurunan berat badan secara bertahap lebih aman dan lebih mudah dipertahankan daripada diet ketat. Bila disertai tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, atau kolesterol tinggi, konsultasikan dengan dokter untuk program penurunan berat badan yang aman.

Pertanyaan Seputar Cara Menghitung BMI

Berapa BMI normal untuk orang Indonesia?

Menurut Kementerian Kesehatan RI, BMI normal untuk orang dewasa berada pada rentang 18,5–25,0. BMI di atas 25,0 hingga 27,0 tergolong gemuk, dan di atas 27,0 tergolong obesitas.

Apakah BMI laki-laki dan perempuan dihitung berbeda?

Rumus dan kategorinya sama untuk laki-laki dan perempuan dewasa. Namun, pada BMI yang sama, perempuan umumnya memiliki lemak tubuh lebih banyak, sehingga lingkar perut perlu ikut dinilai.

Apakah BMI bisa dipakai untuk ibu hamil?

BMI sebelum hamil berguna untuk menentukan target kenaikan berat badan selama kehamilan. Namun, BMI yang dihitung saat sedang hamil tidak dapat dibaca dengan kategori dewasa biasa. Diskusikan target kenaikan berat badan dengan dokter kandungan.

Seberapa sering sebaiknya BMI diperiksa?

Tidak ada aturan baku. Memeriksa berat badan, BMI, dan lingkar perut setiap beberapa bulan sudah cukup untuk memantau perubahan, atau lebih sering bila Anda sedang menjalani program penurunan berat badan.

Apakah BMI normal berarti pasti sehat?

Belum tentu. BMI hanya menggambarkan perbandingan berat dan tinggi badan. Kesehatan juga dipengaruhi oleh lingkar perut, tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, kebiasaan merokok, dan aktivitas fisik.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?

Konsultasikan hasil BMI Anda ke dokter jika:

  • BMI kurang dari 17,0 atau berat badan turun drastis tanpa sebab yang jelas;

  • BMI lebih dari 27,0 atau lingkar perut melebihi batas obesitas sentral;

  • BMI di atas normal disertai tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, mendengkur berat, atau nyeri sendi;

  • Anda sudah berusaha menurunkan atau menaikkan berat badan tetapi belum berhasil;

  • Anda khawatir dengan pertumbuhan berat badan anak.

Cari dokter spesialis gizi klinik atau spesialis penyakit dalam Tzu Chi Hospital untuk membaca hasil BMI dan menyusun program berat badan yang sesuai, serta dokter spesialis anak untuk pemantauan berat badan si Kecil, atau jadwalkan konsultasi melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital maupun hubungi Call Center di 021 5095 0888.

Ditinjau oleh Tim Medis Tzu Chi Hospital

Artikel Terkait

Topik


Related Article



VIDEOS