Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit

Akupuntur untuk Saraf Kejepit, Manfaat dan Bukti Ilmiah

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi24 Agustus 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Saraf kejepit atau hernia nukleus pulposus (HNP) adalah kondisi ketika bantalan di antara ruas tulang belakang mengalami penonjolan dan menekan saraf di sekitarnya. 

Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan otot yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Rasa nyeri akibat saraf kejepit sering kali membuat penderita kesulitan bekerja, tidur, maupun melakukan aktivitas sederhana seperti duduk atau berjalan dalam waktu lama.

Karena keluhan tersebut dapat berlangsung cukup lama, banyak pasien mencari pilihan terapi tambahan selain pengobatan medis standar. Salah satu metode yang semakin banyak digunakan adalah akupuntur.

Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah akupuntur benar-benar efektif untuk saraf kejepit? Apakah terapi ini dapat menggantikan pengobatan medis atau hanya berperan sebagai terapi pendukung?

Artikel ini akan membahas bagaimana akupuntur bekerja, manfaatnya berdasarkan bukti ilmiah, serta posisi akupuntur dalam penanganan saraf kejepit.

Apa Itu Saraf Kejepit (HNP)?

akupuntur untuk saraf kejepit

Saraf kejepit atau HNP terjadi ketika diskus intervertebralis, yaitu bantalan elastis yang berada di antara tulang belakang, mengalami robekan atau penonjolan sehingga menekan akar saraf di sekitarnya.

Tekanan tersebut dapat memicu peradangan dan gangguan fungsi saraf yang menyebabkan munculnya berbagai keluhan.

Gejala Saraf Kejepit

Gejala saraf kejepit dapat berbeda-beda tergantung lokasi dan tingkat tekanan pada saraf. Beberapa keluhan yang sering muncul meliputi:

  • Nyeri menjalar: Rasa nyeri dapat menjalar dari punggung bawah menuju bokong, paha, hingga kaki (sciatica), atau dari leher menuju bahu dan lengan.

  • Kesemutan dan mati rasa: Sensasi seperti tertusuk jarum, kebas, atau rasa terbakar dapat muncul pada area yang dipersarafi oleh saraf yang tertekan.

  • Kelemahan otot: Tekanan saraf yang lebih berat dapat menyebabkan otot tertentu melemah sehingga aktivitas seperti berjalan atau menggenggam menjadi terganggu.

  • Gangguan fungsi kandung kemih atau usus: Kondisi ini merupakan tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi medis segera.

Pada saraf kejepit di area leher, nyeri biasanya menjalar dari leher menuju bahu, lengan, hingga ujung jari tangan. Gerakan tertentu seperti menoleh atau menengadah dapat memperburuk keluhan.

Penyebab dan Faktor Risiko Saraf Kejepit

Salah satu faktor risiko terbesar saraf kejepit adalah proses degenerasi akibat pertambahan usia. Seiring waktu, diskus tulang belakang dapat kehilangan elastisitas dan kandungan airnya sehingga lebih mudah mengalami kerusakan atau penonjolan.

Selain faktor usia, beberapa kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko saraf kejepit antara lain:

  • Aktivitas mengangkat beban berat berulang: Gerakan mengangkat dengan posisi tubuh yang tidak tepat dapat memberikan tekanan berlebih pada tulang belakang.

  • Postur tubuh yang buruk: Kebiasaan duduk membungkuk atau mempertahankan posisi tertentu terlalu lama dapat meningkatkan beban pada tulang belakang.

  • Berat badan berlebih: Beban tubuh tambahan dapat meningkatkan tekanan pada struktur tulang belakang.

  • Kebiasaan merokok: Rokok dapat mengganggu aliran nutrisi menuju diskus sehingga mempercepat proses degenerasi.

  • Cedera: Benturan atau gerakan mendadak tertentu dapat memicu penonjolan diskus, bahkan pada usia muda.

Apakah Akupuntur Bisa Menyembuhkan Saraf Kejepit?

Akupuntur tidak dapat mengembalikan bantalan tulang belakang yang sudah menonjol ke posisi semula atau memperbaiki kerusakan struktur tulang belakang secara langsung.

Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa akupuntur dapat membantu mengurangi nyeri, mengurangi ketegangan otot, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam menjalani aktivitas maupun rehabilitasi.

Dengan demikian, akupuntur lebih tepat diposisikan sebagai terapi pendukung dalam penanganan saraf kejepit, bukan sebagai pengganti diagnosis dokter, fisioterapi, obat-obatan, maupun tindakan operasi apabila memang diperlukan.

Bagaimana Akupuntur Bekerja untuk Nyeri Saraf?

Akupuntur bekerja melalui beberapa mekanisme yang berkaitan dengan sistem saraf dan respons tubuh terhadap nyeri.

1. Mekanisme Neurofisiologis

Ketika jarum halus ditusukkan pada titik akupuntur tertentu, rangsangan tersebut mengaktifkan reseptor sensoris pada kulit, otot, dan jaringan di sekitarnya.

Sinyal tersebut kemudian diteruskan melalui sistem saraf menuju sumsum tulang belakang dan otak, sehingga dapat memengaruhi cara tubuh memproses rasa nyeri.

Salah satu teori yang sering digunakan untuk menjelaskan mekanisme ini adalah gate control theory of pain, yaitu konsep bahwa stimulasi tertentu dapat membantu menghambat transmisi sinyal nyeri sebelum mencapai otak.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa akupuntur dapat memengaruhi pelepasan zat kimia alami tubuh seperti endorfin dan neurotransmiter tertentu yang berperan dalam pengaturan rasa nyeri dan relaksasi.

2. Efek terhadap Peradangan

Pada saraf kejepit, tekanan dari diskus yang menonjol dapat memicu peradangan di sekitar akar saraf sehingga rasa nyeri menjadi lebih berat.

Akupuntur diduga dapat membantu memodulasi respons peradangan melalui pengaruhnya terhadap sistem saraf dan sistem imun.

Efek tersebut berpotensi membantu mengurangi intensitas nyeri sehingga pasien dapat lebih nyaman menjalani aktivitas sehari-hari maupun program rehabilitasi.

Namun, akupuntur tidak bertujuan menghilangkan penyebab struktural saraf kejepit seperti tonjolan diskus.

3. Perspektif TCM (Traditional Chinese Medicine)

Dalam pendekatan Traditional Chinese Medicine (TCM), gangguan seperti saraf kejepit dikaitkan dengan ketidakseimbangan aliran qi (energi vital) dan xue (darah) pada jalur meridian tertentu.

Penusukan jarum pada titik tertentu bertujuan membantu mengembalikan keseimbangan tersebut.

Dalam praktik modern, terapi akupuntur umumnya tetap dilakukan dengan mempertimbangkan diagnosis medis, kondisi pasien, serta keamanan prosedur.

Di Tzu Chi Hospital, pendekatan akupuntur dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh sehingga terapi dapat diberikan secara lebih tepat.

Integrasi Akupuntur dengan Fisioterapi dan Pengobatan Konvensional

akupuntur

Bukti ilmiah saat ini lebih banyak mendukung penggunaan akupuntur sebagai bagian dari pendekatan multimodal, yaitu kombinasi beberapa metode terapi yang saling melengkapi.

1. Pendekatan Multimodal

Akupuntur dapat membantu mengelola nyeri, sementara fisioterapi berperan dalam memperbaiki fungsi tubuh secara bertahap.

Fisioterapi biasanya berfokus pada:

  • Penguatan otot inti (core muscle) untuk membantu menopang tulang belakang.

  • Perbaikan postur tubuh.

  • Peningkatan fleksibilitas dan rentang gerak.

  • Edukasi mengenai aktivitas yang aman untuk tulang belakang.

Ketika nyeri lebih terkendali, pasien biasanya dapat mengikuti latihan rehabilitasi dengan lebih nyaman dan konsisten.

2. Urutan Penanganan Saraf Kejepit

Penanganan saraf kejepit umumnya dilakukan secara bertahap sesuai kondisi pasien.

Tahap awal biasanya meliputi:

  • Evaluasi dokter dan pemeriksaan pencitraan seperti MRI atau CT scan bila diperlukan.

  • Penggunaan obat pereda nyeri atau antiradang.

  • Fisioterapi.

  • Modifikasi aktivitas.

  • Terapi tambahan seperti akupuntur pada pasien tertentu.

Pada pasien tanpa tanda bahaya neurologis, terapi konservatif dapat dilakukan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan sambil melihat respons pengobatan.

Tindakan operasi biasanya dipertimbangkan apabila terapi tanpa operasi tidak memberikan perbaikan atau muncul gangguan saraf yang semakin berat.

Siapa yang Cocok Mendapat Terapi Akupuntur?

Akupuntur tidak diberikan untuk semua kasus saraf kejepit. Pemilihan pasien perlu mempertimbangkan kondisi medis, tingkat keparahan gejala, serta hasil pemeriksaan dokter.

1. Pasien yang Tepat

Akupuntur dapat dipertimbangkan pada pasien dengan:

  • Nyeri saraf kejepit yang masih dalam tahap konservatif.

  • Keluhan nyeri kronis yang mengganggu aktivitas.

  • Kondisi yang belum membutuhkan tindakan operasi segera.

  • Pasien yang ingin mendapatkan terapi tambahan untuk membantu mengelola nyeri.

Pada kondisi tersebut, tujuan utama akupuntur adalah membantu meningkatkan kenyamanan dan fungsi tubuh selama proses pemulihan.

2. Kontraindikasi dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Walaupun relatif aman bila dilakukan oleh tenaga terlatih, beberapa kondisi membutuhkan perhatian khusus, seperti:

  • Gangguan pembekuan darah: Risiko perdarahan dapat meningkat pada pasien tertentu.

  • Penggunaan obat pengencer darah: Perlu evaluasi dokter sebelum terapi dilakukan.

  • Infeksi kulit: Penusukan pada area yang mengalami infeksi perlu dihindari.

  • Kehamilan: Beberapa titik akupuntur memerlukan perhatian khusus.

  • Penggunaan alat pacu jantung: Perlu kehati-hatian apabila menggunakan teknik elektrostimulasi.

Kapan Saraf Kejepit Tidak Boleh Ditangani dengan Akupuntur Saja?

Akupuntur bukan pengganti tindakan medis segera apabila muncul tanda bahaya.

Segera lakukan pemeriksaan medis apabila mengalami:

  • Tidak mampu mengontrol buang air kecil atau besar.

  • Mati rasa pada area bokong atau selangkangan.

  • Kelemahan kedua kaki yang semakin memburuk.

  • Nyeri hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak membaik.

Gejala tersebut dapat mengarah pada sindrom cauda equina, yaitu kondisi ketika kumpulan saraf di bagian bawah tulang belakang mengalami tekanan berat.

Pada kondisi ini, penanganan segera diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan saraf permanen.

Kapan Harus ke Dokter?

Saraf kejepit sebaiknya tidak dibiarkan lama tanpa evaluasi medis. Segera periksakan diri apabila nyeri tidak membaik setelah beberapa minggu perawatan mandiri, atau bila nyeri semakin mengganggu aktivitas dan kualitas tidur.

Hilangnya kontrol kandung kemih atau usus, mati rasa di area selangkangan, dan kelemahan kedua kaki yang memburuk adalah tanda kegawatan yang menuntut penanganan darurat..

Jika Anda mengalami gejala di atas, jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital untuk konsultasi lebih awal.

Anda juga dapat Cari Dokter yang tepat sesuai kebutuhan. Layanan tersedia untuk pasien BPJS Kesehatan, asuransi, maupun mandiri.

Referensi

  1. Vickers AJ, et al. “Acupuncture for Chronic Pain: Individual Patient Data Meta-analysis.” Archives of Internal Medicine. 2012.

  2. Chou R, et al. “Noninvasive Treatments for Low Back Pain.” AHRQ Comparative Effectiveness Review. 2016.

  3. Ji M, et al. “Acupuncture for the treatment of sciatica: a systematic review and meta-analysis.” Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. 2015.

  4. Qaseem A, et al. “Noninvasive Treatments for Acute, Subacute, and Chronic Low Back Pain.” Annals of Internal Medicine. 2017.

  5. Xu G, et al. “Anti-inflammatory effects of acupuncture in the treatment of chronic low back pain.” Journal of Traditional Chinese Medicine. 2020.

 

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Ferdinand, B.Med, M.CM, Ph.D


 


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS