Edukasi Obat & Apotek
Allopurinol (Obat Asam Urat): Cara Kerja, Dosis & Efek Samping
Ditulis Oleh
Admin • 20 Agustus 2026

Allopurinol adalah obat pilihan utama untuk penanganan asam urat tinggi (hiperurisemia) dan gout kronis dalam jangka panjang.
Ada satu hal penting yang perlu dipahami sejak awal, yaitu obat ini tidak menghentikan serangan gout yang sudah terjadi.
Fungsi utamanya adalah menurunkan kadar asam urat secara bertahap untuk mencegah serangan berikutnya, sekaligus melindungi ginjal dari pembentukan batu urat.
Bagi banyak penderita, hal inilah yang sering membingungkan di awal. Mereka sudah rutin minum allopurinol, tetapi sendi masih terasa nyeri, sehingga akhirnya berhenti minum obat padahal sebenarnya obat itu sedang bekerja dengan benar.
Untuk itu Anda perlu memahami cara kerja allopurinol yang sesungguhnya agar pengobatan berhasil dan tidak salah langkah!
Apa Itu Allopurinol dan Cara Kerjanya?
Allopurinol | Sumber: Triman
Allopurinol adalah obat penurun kadar asam urat yang bekerja langsung pada sumber masalah, yaitu menghambat enzim yang memproduksi asam urat di dalam tubuh.
Pada penderita gout, tubuh menghasilkan asam urat jauh lebih banyak dari yang bisa dibuang oleh ginjal, sehingga kristal-kristal asam urat menumpuk di sendi dan memicu serangan nyeri.
Allopurinol bekerja seperti “menutup keran” produksi tersebut, sehingga jumlah asam urat yang dihasilkan berkurang secara perlahan namun konsisten.
Baca Juga: Asam Mefenamat, Obat Apa Ini? Dosis, Kegunaan dan Efek Samping
Efek ini tidak terasa dalam semalam karena kadar asam urat turun secara bertahap selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Meskipun mudah didapat, allopurinol tetap obat keras yang harus digunakan berdasarkan resep dan pengawasan dokter.
Indikasi Penggunaan Allopurinol
Allopurinol digunakan untuk mencegah, bukan mengobati, serangan gout akut dan kondisi terkait kadar asam urat tinggi.
Manfaatnya baru terasa setelah pemakaian rutin karena bekerja pada akar masalah. Berikut kondisi-kondisi utama yang menjadi indikasi pemberiannya:
1. Gout Kronis
Indikasi utama allopurinol adalah pasien gout dengan serangan berulang (≥2 kali setahun), tofus, kerusakan sendi kronis, atau riwayat batu ginjal urat.
Dokter menargetkan kadar asam urat di bawah 6 mg/dL dengan dosis dimulai kecil lalu dinaikkan perlahan agar tubuh beradaptasi tanpa memicu serangan baru.
2. Batu Ginjal
Asam urat tinggi bisa mengkristal di saluran kemih dan membentuk batu ginjal. Allopurinol menekan produksi asam urat sehingga risiko batu berkurang, termasuk pada pasien batu kalsium oksalat dengan kadar asam urat urin tinggi.
3. Pencegahan Sindrom Lisis Tumor
Allopurinol diberikan sebelum dan selama kemoterapi untuk melindungi ginjal, terutama pada pasien leukemia atau limfoma dengan massa tumor besar.
Pasalnya memoterapi melepaskan zat purin secara masif, memicu lonjakan asam urat yang bisa menyebabkan gagal ginjal akut (sindrom lisis tumor).
Dosis Allopurinol
Prinsip utama pemberian allopurinol adalah memulai dari dosis rendah dan meningkatkannya secara bertahap sesuai respons tubuh.
Perlu diketahui bahwa allopurinol tidak boleh dimulai saat serangan gout akut sedang berlangsung karena justru dapat memperberat serangan. Berikut panduan dosis yang berlaku.
Dosis Awal Allopurinol
Dokter umumnya memulai dengan 100 mg per hari bersama makanan, lalu menaikkan dosis setiap 2–4 minggu berdasarkan hasil pemeriksaan kadar asam urat.
Proses titrasi ini membutuhkan waktu beberapa bulan sampai dosis efektif ditemukan. Pasien tidak boleh mengubah dosis sendiri tanpa panduan dokter.
Dosis pemeliharaan umum berkisar 200–300 mg per hari untuk kasus ringan-sedang, dan bisa mencapai 400–600 mg (hingga 800 mg dibagi beberapa kali minum) untuk kasus berat.
Dosis pada Gangguan Ginjal
Komponen aktif allopurinol dibuang melalui ginjal, sehingga jika fungsi ginjal menurun, komponen ini bisa menumpuk dan meningkatkan risiko reaksi kulit berbahaya.
Semakin rendah fungsi ginjal, semakin kecil dosis yang diizinkan. Dokter akan menilai kondisi ginjal melalui pemeriksaan eGFR sebelum dan selama terapi, lalu memutuskan apakah allopurinol bisa dilanjutkan dengan dosis lebih kecil atau perlu diganti obat lain yang lebih aman.
Efek Samping Allopurinol
Allopurinol umumnya aman untuk jangka panjang, namun ada efek samping kulit yang bisa berkembang serius dan perlu diwaspadai, seperti:
1. Reaksi Kulit Ringan-Sedang
Ruam kemerahan yang bisa disertai gatal terjadi pada sekitar 2 dari 100 pasien dalam minggu-minggu pertama.
Segera hentikan allopurinol dan konsultasikan ke dokter karena bisa menjadi awal reaksi serius. Dokter dapat mempertimbangkan beralih ke febuxostat.
2. Sindrom Stevens-Johnson dan DRESS (Berat/Jarang)
Allopurinol termasuk penyebab terbanyak SJS/TEN dan DRESS, yaitu sindrom yang mengancam jiwa.
SJS/TEN ditandai kulit melepuh dan mengelupas luas disertai kerusakan selaput lendir; DRESS ditandai demam tinggi, ruam luas, dan gangguan organ dalam.
4. Serangan Gout Akut
Di awal terapi, kadar asam urat yang turun membuat kristal di jaringan mulai “bergerak” dan sementara memicu peradangan.
Dokter mungkin meresepkan colchicin atau NSAID selama 3–6 bulan pertama untuk meredamnya, jadi jangan hentikan allopurinol karena serangan ini.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera hentikan allopurinol dan pergi ke IGD jika muncul ruam kulit apa pun yang disertai demam atau kulit yang mulai nyeri dan mengelupas, gejala ini bisa menjadi tanda awal SJS/TEN yang mengancam jiwa.
Hubungi dokter jika Anda kadar asam urat tidak mencapai target setelah pemeriksaan laboratorium rutin
Baca Juga: 15 Obat Demam Dewasa yang Tersedia di Apotek & Warung, Ampuh!
Terapi asam urat menuntut pemantauan dosis dan kondisi ginjal yang cermat, dan itu paling aman dijalani dengan pendampingan dokter penyakit dalam.
Tim di Tzu Chi Hospital siap membantu Anda menemukan dosis yang tepat sekaligus mewaspadai reaksi kulit sejak dini.
Anda bisa jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital atau memilih spesialis lewat Cari Dokter untuk mendapatkan resep obat yang tepat sasaran.
Referensi
- FitzGerald JD, et al. (2020). 2020 American College of Rheumatology Guideline for Management of Gout. Arthritis Rheumatol, 72(6):879-895.
- Khanna D, et al. (2012). 2012 ACR Guidelines for Management of Gout. Arthritis Care Res, 64(10):1431-1461.
- Hung SI, et al. (2005). HLA-B5801 allele as a genetic marker for severe cutaneous adverse reactions caused by allopurinol. PNAS*, 102(11):4134-4139.
- BPOM RI. (2023). Informasi Produk Allopurinol. Jakarta.
- Richette P & Bardin T. (2010). Gout. Lancet, 375(9711):318-328.
Topik
Related Article
Artikel Populer

Omeprazole: Manfaat, Dosis, Cara Minum, & Efek Samping

19 Ciri-ciri Hamil Muda pada Wanita, Kenali Sebelum Terlambat!

10 Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Tidak Berbahaya & Cara Mengatasinya

8 Cara Menurunkan Demam Anak tanpa Obat, Pakai Minyak Kayu Putih!


