Tindakan Medis & Terapi

Cuci Darah Berapa Kali Seminggu? Ini Jadwal & Prosedurnya

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi24 Agustus 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Cuci darah atau hemodialisis adalah prosedur medis yang menggantikan fungsi ginjal untuk menyaring limbah, racun, dan kelebihan cairan dari darah.

Bagi penderita gagal ginjal stadium akhir, prosedur ini menjadi "jantung" kedua agar tubuh tetap bisa berfungsi dengan normal.

Pertanyaan yang paling sering diajukan pasien adalah mengenai frekuensi cuci darah berapa kali seminggu?

Mari simak penjelasan lengkapnya mengenai jadwal, proses, hingga efek samping yang perlu Anda ketahui di bawah ini!

Cuci Darah Berapa Kali Seminggu?

cuci darah berapa kali seminggu

Frekuensi hemodialisis sangat bergantung pada kondisi kesehatan pasien, tingkat kerusakan ginjal, hingga lokasi di mana tindakan tersebut dilakukan.

Cuci darah di rumah sakit atau klinik umumnya dilakukan 2–3 kali seminggu. Setiap sesi biasanya berlangsung selama 3 hingga 5 jam.

Adapun cuci darah mandiri di rumah dilakukan secara mandiri dengan mesin yang lebih ringkas, jadwalnya bisa lebih sering, yaitu 5 hingga 7 hari seminggu dengan durasi per sesi sekitar 2 hingga 8 jam.

Bagi pasien dengan cedera ginjal mendadak (Acute Kidney Injury), cuci darah mungkin hanya diperlukan sementara dalam waktu singkat hingga fungsi ginjal pulih kembali.

Mengapa Cuci Darah Perlu Dilakukan Secara Rutin?

Ketika ginjal hanya berfungsi kurang dari 15%, zat sisa metabolisme seperti urea dan kreatinin akan menumpuk dalam darah dan menjadi racun bagi tubuh. Jika jadwal cuci darah terlewat, racun tersebut dapat menyebabkan komplikasi mematikan.

Oleh karena itu, terdapat beberapa alasan yang mewajibkan pasien melakukan cuci darah secara rutin, seperti:

  • Menyaring limbah beracun seperti urea dan kreatinin agar tidak menumpuk di otak dan organ vital lainnya.

  • Mengatur kadar mineral penting dalam tubuh, termasuk kalium, natrium, kalsium, dan bikarbonat.

  • Membantu mengontrol dan meregulasi tekanan darah agar tetap berada pada batas aman.

  • Membuang kelebihan cairan untuk mencegah pembengkakan (edema) pada kaki, tangan, hingga paru-paru.

  • Mencegah komplikasi mematikan akibat penumpukan cairan yang bisa memicu gagal jantung.

Apa yang Terjadi Selama Proses Hemodialisis?

Sebelum memulai prosedur rutin, pasien biasanya akan menjalani operasi kecil untuk membuat akses pembuluh darah, yang paling umum adalah AV Fistula (penyambungan arteri dan vena di lengan). 

Akses ini berfungsi agar darah bisa dialirkan ke mesin dalam jumlah yang cukup. Selama sesi berlangsung, Anda dapat bersantai, membaca, atau tidur sementara mesin bekerja membersihkan darah Anda. Berikut adalah tahapan prosedurnya di bawah ini:

1. Persiapan Awal

Petugas medis akan memeriksa berat badan, tekanan darah, denyut nadi, dan suhu tubuh Anda.

Area akses pembuluh darah akan dibersihkan untuk mencegah infeksi sebelum jarum dimasukkan.

Selanjutnya petugas medis akan melakukan pemasangan dua jarum khusus ke dalam akses pembuluh darah yang dihubungkan dengan selang plastik mesin.

2. Proses Penyaringan (Dialisis)

Darah akan dialirkan melalui selang plastik ke dalam alat penyaring yang disebut dialyzer (ginjal buatan).

Di dalam alat ini, darah dibersihkan menggunakan cairan khusus bernama dialysate sebelum akhirnya dialirkan kembali ke dalam tubuh Anda.

3. Pemantauan Selama Sesi

Karena tekanan darah dan detak jantung dapat berfluktuasi saat cairan ditarik dari tubuh, tim medis akan melakukan pengecekan secara berkala setiap beberapa menit untuk memastikan keamanan pasien.

Efek Samping dan Risiko Cuci Darah

Meskipun menyelamatkan nyawa, hemodialisis memiliki beberapa efek samping karena tubuh harus beradaptasi dengan perubahan volume cairan dan mineral secara cepat.

Namun, sebagian besar efek samping ini dapat dikelola dengan penyesuaian dosis dialisis. Berikut adalah beberapa efek samping yang mungkin dirasakan pasien selama atau setelah tindakan ini:

  • Tekanan Darah Rendah (Hipotensi): Sering disertai dengan rasa mual, pusing, atau kram otot karena penarikan cairan.

  • Kram Otot: Umumnya terjadi di kaki saat cairan dilarutkan dari tubuh.

  • Gatal-gatal: Banyak pasien merasakan kulit gatal selama atau sesudah prosedur.

  • Kelelahan: Pasien sering merasa lemas setelah sesi selesai, yang dikenal dengan istilah "dialysis washout".

  • Anemia: Karena ginjal yang rusak tidak lagi memproduksi hormon pembentuk sel darah merah secara cukup.

Gaya Hidup Antar Sesi Cuci Darah

Kunci sukses perawatan hemodialisis tidak hanya terjadi di rumah sakit, tetapi juga pada kedisiplinan Anda di rumah. 

Apa yang Anda konsumsi sangat memengaruhi beban kerja mesin cuci darah pada sesi berikutnya.

Mengikuti anjuran diet dapat mengurangi efek samping dan membuat Anda merasa lebih segar. Beberapa langkah penting yang perlu dilakukan yaitu:

  • Batasi Asupan Cairan: Sangat penting untuk membatasi minum agar tidak terjadi penumpukan cairan berlebih di paru-paru.

  • Diet Rendah Natrium: Menghindari garam berlebih untuk mengontrol tekanan darah dan mengurangi rasa haus yang ekstrem.

  • Kontrol Konsumsi Kalium: Membatasi buah-buahan tertentu (seperti pisang) untuk mencegah gangguan detak jantung yang berbahaya.

  • Cukupi Kebutuhan Protein: Mengonsumsi protein berkualitas (telur/ikan) untuk menjaga kekuatan tubuh dan massa otot.

  • Hindari Makanan Tinggi Fosfor: Membatasi susu dan produk olahannya guna menjaga kesehatan tulang dan mencegah gatal kulit.

Kapan Harus ke Dokter?

Anda bisa mendapatkan pelayanan cuci darah yang aman dan nyaman dengan fasilitas medis yang lengkap di Tzu Chi Hospital

Segera hubungi tim medis Anda jika mengalami:

  • Sesak napas berat atau nyeri dada.

  • Penurunan kesadaran, bingung, atau kejang.

  • Perdarahan yang tidak berhenti dari fistula, graft, atau kateter.

  • Demam ≥38°C, menggigil, terutama bila menggunakan kateter hemodialisis.

  • Tekanan darah sangat rendah disertai pusing berat atau pingsan.

  • Tekanan darah sangat tinggi (misalnya ≥180/120 mmHg), terutama bila disertai sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri dada, atau sesak.

  • Tidak bisa buang air kecil sama sekali (pada pasien yang sebelumnya masih berkemih) atau terjadi penurunan urin yang mendadak.

  • Bengkak berat disertai sesak napas.

Untuk itu, segera jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis nefrologi mengenai program cuci darah yang paling tepat bagi Anda.

Anda juga dapat memantau jadwal praktik dokter melalui website resmi Tzu Chi Hospital untuk perencanaan perawatan jangka panjang yang lebih baik.

 

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Lydia Tantoso, Sp.PD, Subsp.GH(K), MARS, FINASIM


 


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS