Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
Osteosarkoma (Kanker Tulang): Gejala, Diagnosis, Pengobatan
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 24 Agustus 2026


Osteosarkoma adalah kanker tulang primer yang paling sering terjadi, terutama menyerang remaja dan dewasa muda pada periode pertumbuhan cepat. Pada dasarnya, osteosarkoma paling sering terjadi pada masa pertumbuhan cepat pada anak dan remaja, terutama di daerah metafisis tulang panjang.
Nyeri tulang yang awalnya dikira nyeri tumbuh atau cedera olahraga sering membuat diagnosis tertunda hingga berbulan-bulan. Oleh karena itu, pengenalan gejala dini dan penanganan di pusat khusus sangat menentukan keberhasilan terapi serta peluang mempertahankan anggota gerak pasien.
Apa itu Osteosarkoma?
Osteosarkoma berkembang dari sel-sel pembentuk tulang (osteoblas) yang mengalami mutasi, yakni sel yang seharusnya membangun jaringan tulang sehat justru tumbuh liar dan membentuk massa tidak normal.
Kanker ini paling sering muncul di sekitar lutut dan bahu, yaitu ujung-ujung tulang panjang yang tumbuh paling cepat. Bagian tulang yang sedang aktif memanjang paling sering “menyalin” sel baru, sehingga peluang terjadinya mutasi pun meningkat. Osteosarkoma merupakan kanker tulang primer paling umum pada usia 10 sampai 25 tahun, meski dalam kasus yang lebih jarang kondisi ini juga bisa menyerang lansia.
Gejala Osteosarkoma
Osteosarkoma sering kali menunjukkan tanda yang mirip dengan keluhan otot atau cedera biasa pada tahap awal. Gejalanya mencakup beberapa kondisi berikut yang perlu diwaspadai:
-
Nyeri Tulang Lokal
Nyeri di area tulang tertentu merupakan gejala paling awal dan paling sering muncul pada osteosarkoma. Pada mulanya terasa ringan dan hilang timbul, sehingga banyak orang menganggapnya sebagai pegal biasa. Namun seiring waktu, nyeri dapat menetap atau semakin berat dari waktu ke waktu dan pada sebagian pasien dapat terasa lebih berat pada malam hari ketika tubuh sedang beristirahat, karena tumor terus tumbuh menekan jaringan di sekitarnya. Pola nyeri malam yang persisten seperti ini perlu diwaspadai sebagai tanda bahaya.
-
Pembengkakan
Pembengkakan di sekitar tulang yang terkena biasanya muncul mengikuti keluhan nyeri dan menandakan bahwa massa tumor sudah cukup membesar. Area yang bengkak sering terasa hangat saat diraba karena aktivitas sel kanker meningkatkan aliran darah ke lokasi tersebut. Benjolan dapat teraba keras dan menetap, berbeda dengan bengkak akibat cedera biasa yang umumnya mengempis setelah beberapa hari, sehingga pembengkakan yang tidak kunjung reda di sekitar lutut atau bahu perlu segera diperiksakan.
-
Keterbatasan Gerak
Keterbatasan gerak terjadi ketika tumor tumbuh di dekat sendi dan mengganggu fungsi normal persendian tersebut. Massa tumor secara fisik menghalangi ruang gerak sendi sekaligus menimbulkan nyeri yang membuat pasien enggan menggerakkannya. Sebagai contoh, seorang anak mungkin mulai pincang atau menghindari menekuk lutut saat berjalan tanpa penyebab cedera yang jelas, dan perubahan pola gerak yang menetap perlu menjadi perhatian segera.
-
Patah Tulang Patologis
Patah tulang patologis terjadi ketika tulang patah akibat trauma sangat ringan, bahkan pada aktivitas sehari-hari yang biasanya tidak berbahaya, karena sel kanker secara bertahap merusak dan melemahkan struktur internal tulang. Tulang bisa patah hanya karena terbentur ringan, terpeleset, atau menahan beban ringan. Patah tulang tanpa cedera berat yang wajar patut dicurigai sebagai tanda adanya kelainan dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
-
Demam & Kelelahan
Demam, kelelahan, atau penurunan berat badan dapat terjadi pada sebagian pasien, tetapi gejala tersebut tidak spesifik untuk osteosarkom. Pasien dapat mengalami rasa lelah berkepanjangan yang tidak membaik meski sudah cukup beristirahat, disertai penurunan berat badan tanpa sebab jelas, karena sel kanker menguras energi tubuh dan memicu respons peradangan sistemik. Gejala umum ini sering baru dikaitkan dengan osteosarkoma setelah muncul bersamaan dengan nyeri tulang lokal.
Penyebab Osteosarkoma
Penyebab pasti osteosarkoma belum sepenuhnya dipahami, namun sejumlah faktor risiko telah dikenali para ahli, di antaranya sebagai berikut:
-
Pertumbuhan Tulang Cepat
Pertumbuhan tulang yang cepat merupakan faktor risiko paling menonjol, dan hal ini menjelaskan mengapa penyakit ini banyak menyerang remaja. Selama masa pubertas, tulang panjang memanjang sangat pesat sehingga sel osteoblas membelah dalam jumlah besar dan frekuensi tinggi. Semakin sering sel membelah, semakin besar peluang munculnya mutasi pada materi genetik yang mengendalikan pertumbuhan sel. Lonjakan tinggi badan pada usia 12 sampai 16 tahun berlangsung bersamaan dengan puncak kejadian osteosarkoma.
-
Radiasi Sebelumnya
Riwayat paparan radiasi pada area tulang merupakan faktor risiko yang perlu diperhatikan, terutama pada pasien yang pernah menjalani pengobatan kanker sebelumnya. Radioterapi dapat memicu munculnya osteosarkoma sekunder di area yang terpapar radiasi bertahun-tahun kemudian karena radiasi berenergi tinggi dapat merusak DNA sel tulang sehat. Oleh karena itu, pasien dengan riwayat radioterapi sebaiknya menjalani pemantauan berkala agar setiap perubahan pada tulang dapat terdeteksi sedini mungkin.
-
Sindrom Genetik & Paget Disease
Beberapa sindrom genetik yang diturunkan dalam keluarga dapat meningkatkan risiko osteosarkoma, di antaranya sindrom Li-Fraumeni (mutasi gen TP53) dan retinoblastoma herediter. Gen-gen tersebut normalnya berfungsi mengendalikan pertumbuhan sel, sehingga ketika mengalami mutasi, tubuh kehilangan mekanisme pelindung alaminya. Selain itu, Paget disease of bone, kelainan yang menyebabkan pembentukan dan perombakan tulang berlangsung tidak normal, meningkatkan peluang mutasi ganas dan menjadi faktor risiko osteosarkoma sekunder pada lansia.
Diagnosis Osteosarkoma
Menegakkan diagnosis osteosarkoma memerlukan kombinasi beberapa pemeriksaan yang saling melengkapi, meliputi pencitraan bertahap dan biopsi untuk memastikan sifat serta luas penyebaran tumor.
Langkah awal berupa rontgen polos yang dapat menunjukkan gambaran khas destruksi tulang disertai pembentukan tulang baru, dikenal sebagai “sunburst pattern”. Selanjutnya, MRI menjadi standar utama untuk mengevaluasi seberapa jauh tumor meluas ke dalam tulang maupun ke jaringan lunak di sekitarnya, membantu dokter merencanakan operasi. CT scan thorax digunakan untuk mendeteksi metastasis ke paru-paru, yang merupakan lokasi penyebaran tersering. Biopsi, baik terbuka maupun core needle, wajib dilakukan di pusat spesialis karena teknik pengambilan sampel yang keliru dapat memengaruhi pilihan terapi. Sebagai pelengkap, PET scan menilai penyebaran kanker secara sistemik ke seluruh tubuh.
Cara Mengobati Osteosarkoma
Pengobatan osteosarkoma umumnya menggabungkan beberapa metode agar hasilnya optimal, disesuaikan dengan stadium, lokasi tumor, dan kondisi pasien sebagai berikut:
-
Kemoterapi Neoadjuvan
Kemoterapi neoadjuvan diberikan sebelum operasi menggunakan regimen MAP, yaitu methotrexate, adriamycin (doxorubicin), dan cisplatin, selama sekitar 8 sampai 12 minggu. Tujuannya ada dua, yakni mengecilkan ukuran tumor agar lebih mudah diangkat, sekaligus membunuh mikro-metastasis sel kanker yang mungkin sudah menyebar tetapi belum terdeteksi.
-
Operasi Limb-Salvage
Operasi limb-salvage bertujuan mengangkat tumor sekaligus mempertahankan anggota gerak pasien. Dokter mengangkat tumor beserta margin jaringan sehat di sekelilingnya, lalu merekonstruksi tulang menggunakan endoprostesis atau cangkok tulang. Berkat kemajuan kemoterapi dan teknik bedah, kini lebih dari 90% kasus dapat ditangani dengan pendekatan limb-salvage tanpa amputasi. Penanganan di pusat ortopedi onkologi yang berpengalaman seperti Tzu Chi Hospital sangat menentukan hasil terbaik.
-
Amputasi
Amputasi menjadi pilihan ketika limb-salvage tidak memungkinkan, biasanya jika tumor sudah melibatkan struktur pembuluh darah dan saraf utama, disertai infeksi berat, atau rekonstruksi tulang dinilai tidak layak secara teknis. Keputusan amputasi selalu diambil melalui pertimbangan matang oleh tim medis dengan tujuan utama menyelamatkan nyawa dan mencegah penyebaran kanker lebih lanjut.
-
Kemoterapi Adjuvan & Terapi Metastasis Paru
Kemoterapi adjuvan diberikan setelah operasi hingga total masa pengobatan mencapai sekitar 6 bulan, untuk membersihkan sisa sel kanker yang mungkin masih tertinggal di dalam tubuh. Bila osteosarkoma telah menyebar ke paru-paru, reseksi paru metastasis (metastatektomi) dapat dilakukan untuk mengendalikan penyebaran. Tindakan ini terbukti meningkatkan angka harapan hidup secara signifikan, terutama jika jumlah nodul terbatas dan dapat diangkat seluruhnya.
Cara Mencegah Osteosarkoma
Berbeda dengan banyak penyakit lain, osteosarkoma belum memiliki metode pencegahan yang benar-benar pasti. Meski begitu, ada langkah-langkah kewaspadaan yang dapat membantu deteksi dini pada kelompok berisiko, di antaranya berikut ini:
-
Tidak Ada Pencegahan Spesifik yang Diketahui
Hingga saat ini belum ada metode pencegahan spesifik yang terbukti dapat mencegah osteosarkoma sepenuhnya, karena sebagian besar kasus berkaitan dengan mutasi genetik dan proses pertumbuhan tulang alami yang tidak dapat dikendalikan melalui gaya hidup. Fokus utama pencegahan bergeser dari menghindari penyakit menjadi mendeteksinya sedini mungkin agar penanganan dapat dimulai lebih cepat.
-
Segera Periksakan Nyeri Tulang Persisten pada Anak dan Remaja
Nyeri tulang yang menetap pada anak dan remaja, terutama yang memberat pada malam hari, sering kali menjadi tanda pertama osteosarkoma yang justru sering diabaikan. Keluhan nyeri lutut yang terus-menerus pada remaja sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai nyeri tumbuh atau efek olahraga. Deteksi dini secara langsung memengaruhi peluang keberhasilan pengobatan.
Pasien dengan Retinoblastoma atau Li-Fraumeni Perlu Surveillance Tulang Berkala
Pasien yang memiliki riwayat retinoblastoma herediter atau sindrom Li-Fraumeni termasuk kelompok berisiko tinggi yang memerlukan pemantauan tulang secara berkala. Mutasi genetik yang mendasari kondisi tersebut membuat mereka jauh lebih rentan mengalami osteosarkoma, sehingga surveillance rutin bersama dokter spesialis menjadi sangat penting agar setiap perubahan dapat dikenali sejak tahap paling awal.
Kapan Harus ke Dokter?
Nyeri tulang yang menetap atau memburuk di malam hari pada remaja maupun dewasa muda harus segera dievaluasi dokter, terlebih bila muncul tanpa riwayat cedera yang jelas. Waspadai nyeri di sekitar lutut atau bahu yang disertai pembengkakan hangat, benjolan keras menetap, keterbatasan gerak, atau patah tulang akibat benturan ringan. Osteosarkoma adalah kanker yang sering disalahartikan sebagai nyeri tumbuh biasa deteksi dini menentukan peluang mempertahankan anggota gerak.
Jangan tunda langkah pertama Anda. Jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital untuk konsultasi dengan spesialis ortopedi onkologi, atau gunakan layanan Cari Dokter untuk menemukan dokter yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Tzu Chi Hospital melayani pasien dengan BPJS Kesehatan, asuransi swasta, maupun biaya mandiri.
Referensi
-
American Cancer Society. (2024). Cancer Information & Resources. cancer.org
-
World Health Organization. (2023). Cancer Fact Sheet. who.int
-
Mayo Clinic. (2024). Cancer – Symptoms and Causes. mayoclinic.org
-
Cleveland Clinic. (2024). Cancer: Types, Symptoms & Treatments. my.clevelandclinic.org
-
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Panduan Nasional Penanganan Kanker. kemkes.go.id
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Ivan Mac Theda, B.Med.Sc., Sp.OT (K)
Topik
Related Article
Artikel Populer

Omeprazole: Manfaat, Dosis, Cara Minum, & Efek Samping

19 Ciri-ciri Hamil Muda pada Wanita, Kenali Sebelum Terlambat!

10 Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Tidak Berbahaya & Cara Mengatasinya

8 Cara Menurunkan Demam Anak tanpa Obat, Pakai Minyak Kayu Putih!

