Kesehatan Gigi dan Mulut

Sariawan di Bawah Lidah: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi09 Juli 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Sariawan adalah luka yang muncul di dalam rongga mulut, seperti pada bagian dalam bibir, pipi, lidah, atau dasar mulut. Dalam istilah medis, kondisi ini dikenal sebagai recurrent aphthous stomatitis (RAS). Sariawan merupakan salah satu penyakit mukosa mulut yang paling sering terjadi dan dapat menimbulkan rasa nyeri sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, dan berbicara. Diperkirakan sekitar 20% populasi dunia pernah mengalami sariawan berulang dalam hidupnya.

Artikel ini bertujuan memberikan edukasi mendalam bagi Anda mengenai berbagai gejala, faktor pemicu munculnya luka, cara mengatasi sariawan tersebut serta kapan Anda harus mulai waspada terhadap kondisi kesehatan mulut Anda.

Gejala Sariawan

Gejala sariawan biasanya berkembang secara bertahap dan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman yang menyebar ke area sekitarnya jika tidak segera ditangani. Berikut adalah beberapa gejala yang umum ditemukan:

  • Munculnya luka terbuka berbentuk bulat atau oval dengan bagian tengah berwarna putih atau kekuningan.

  • .Adanya tepian luka yang berwarna merah akibat peradangan aktif di sekitar jaringan

  • Timbulnya rasa nyeri yang tajam, terutama saat makan atau bicara.

  • Dapat disertai pembengkakan ringan pada jaringan lunak di sekitar lokasi sariawan.

  • Peningkatan produksi air liur secara refleks akibat adanya luka.

  • Rasa tidak nyaman yang dapat mengganggu kualitas tidur jika sariawan tersebut berukuran cukup besar. 

Faktor Pemicu

Kondisi sariawan tidak muncul tanpa alasan. Ada berbagai faktor yang dapat memicu timbulnya luka ini, seperti:

1. Trauma Mekanis

Trauma mekanis adalah penyebab yang paling sering ditemukan pada kasus sariawan di area mulut mana pun. Secara tidak sengaja menggigit bagian mulut saat makan atau berbicara dapat merusak jaringan mukosa dan memicu terbentuknya luka terbuka. Selain itu, gesekan berulang gigi tajam atau kawat gigi dapat memicu terjadinya sariawan.

2. Sensitivitas makanan tertentu

Alergi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu juga dapat menjadi faktor pemicu sariawan pada sebagian individu. Beberapa makanan seperti cokelat, kacang-kacangan, makanan asam, atau makanan yang mengandung bahan pengawet dilaporkan dapat memicu respons inflamasi pada mukosa mulut sehingga meningkatkan risiko terjadinya recurrent aphthous stomatitis pada individu yang rentan

3. Defisiensi Nutrisi Esensial

Kekurangan asupan nutrisi tertentu, seperti Vitamin B12, zat besi, atau asam folat, dapat menurunkan integritas jaringan mukosa mulut. Tubuh yang kekurangan mikronutrien ini menjadi lebih rentan mengalami peradangan dan pembentukan sariawan.

4. Gangguan pada Sistem Imun dan Faktor Genetik

Kondisi tubuh yang mengalami kelelahan kronis maupun penyakit tertentu seperti Diabetes Mellitus juga dapat berkontribusi memperlemah pertahanan mulut sehingga lebih mudah terjadi sariawan. Selain itu, faktor riwayat sariawan dalam keluarga juga dilaporkan berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya RAS pada keturunannya.

5. Penggunaan Pasta Gigi dengan Kandungan SLS

Beberapa individu memiliki sensitivitas tinggi terhadap Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang merupakan agen pembuat busa dalam pasta gigi. Kandungan ini dapat mengikis lapisan pelindung mukosa dan mempermudah munculnya sariawan.

6. Pengaruh Stres Psikologis

Kondisi psikis yang tertekan atau stres berat dapat memicu perubahan kimiawi dalam tubuh yang berdampak pada kesehatan mulut. Stres sering kali menjadi pemicu kambuhnya sariawan bagi mereka yang memiliki riwayat stomatitis aftosa rekuren.

7. Perubahan Hormonal

Pada wanita, fluktuasi hormon selama siklus menstruasi atau masa kehamilan dapat memengaruhi sensitivitas jaringan mulut. Hal ini menyebabkan kemunculan sariawan lebih sering terjadi pada periode-periode tertentu.

Diagnosis dan Perbedaan dengan Kondisi Lain

Sangat penting bagi Anda untuk bisa membedakan antara sariawan biasa (Stomatitis Aftosa) dengan sariawan yang disertai kondisi medis yang lebih serius.

Sariawan umumnya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu satu hingga dua minggu. Namun, perlu diketahui gambaran sariawan menyerupai luka-luka lain yang dapat diakibatkan oleh kondisi autoimun, infeksi virus, infeksi bakteri hingga keganasan. Anda juga perlu waspada jika luka sariawan muncul sangat sering, menetap lebih dari 2 minggu, berdarah atau mengalami perubahan konsistensi jaringan menjadi lebih keras. Diagnosa dini merupakan kunci utama dalam menangani kondisi-kondisi medis yang kompleks tersebut.

Metode Penanganan

Meskipun sebagian besar kasus sariawan dapat sembuh secara mandiri, Anda dapat melakukan langkah-langkah berikut untuk mempercepat proses pemulihan:

1. Berkumur dengan Larutan Garam atau Baking Soda

Larutan garam hangat atau baking soda dapat membantu menetralkan tingkat keasaman di dalam mulut serta berperan sebagai antiseptik alami. Tindakan ini efektif untuk membantu membersihkan luka dari bakteri dan mengurangi peradangan secara bertahap.

2. Penggunaan Obat Oles (Topikal)

Anda dapat mencoba obat oles mulut untuk sariawan yang dijual bebas (over the counter drugs). Obat-obatan ini akan menekan radang hingga mempercepat proses penyembuhan. Pilihan lain adalah jenis obat oles yang mengandung kortikosteroid yang tentunya memerlukan konsultasi dengan dokter sebelum Anda menggunakannya.

3. Penggunaan Obat Kumur

Sebagai pilihan lain, Anda dapat menggunakan obat kumur yang dijual bebas (over the counter drugs), dengan variasi kandungan bahan aktif antiseptik dengan atau tanpa anestetikum. Obat kumur ini dapat membantu menjaga kebersihan rongga mulut sehingga luka sariawan lebih cepat sembuh. Pilih dan gunakan obat kumur dengan bijaksana sesuai dengan kebutuhan dan aturan pakai. Bila perlu Anda dapat melakukan konsultasi dengan dokter.  

4. Konsumsi Suplemen Nutrisi

Jika sariawan dipicu oleh kurangnya vitamin, maka mengonsumsi suplemen vitamin B kompleks atau zat besi sangat disarankan. Makan makanan dengan nutrisi seimbang akan memperkuat pertahanan tubuh juga mempercepat regenerasi sel-sel apabila terjadi sariawan.

5. Penyesuaian Pola Makan

Selama masa penyembuhan, Anda sebaiknya menghindari makanan yang terlalu pedas, asam, atau bertekstur keras. Jenis makanan tersebut dapat mengiritasi luka lebih lanjut dan mempersulit proses penutupan jaringan mukosa.

 

Langkah Pencegahan

Mencegah munculnya sariawan jauh lebih baik daripada mengobatinya. Anda dapat menerapkan gaya hidup sehat guna menjaga kesehatan rongga mulut secara optimal.

1. Menjaga Kebersihan Rongga Mulut

Menyikat gigi secara teratur dengan teknik yang benar dan menggunakan benang gigi dapat meminimalkan populasi bakteri jahat. Kebersihan mulut yang terjaga akan menurunkan risiko peradangan dalam mulut.

2. Mengonsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Pastikan menu harian Anda kaya akan protein, buah-buahan dan sayuran yang mengandung banyak vitamin serta mineral esensial. Nutrisi yang seimbang adalah fondasi utama bagi sistem pertahanan tubuh dalam menjaga kesehatan mukosa. Selain itu, hindari makanan tertentu yang diduga dapat mencetus sariawan.

3. Mencukupi Kebutuhan Cairan Tubuh

Hidrasi yang cukup sangat penting untuk menjaga produksi air liur yang berperan sebagai pelumas alami mulut. Mulut yang lembab akan melindungi jaringan dari gesekan yang dapat memicu sariawan.

4. Mengelola Stres dengan Baik

Melakukan aktivitas yang merelaksasi pikiran seperti olahraga atau meditasi dapat membantu menstabilkan kondisi imun tubuh. Dengan stres yang terkendali, kemungkinan munculnya sariawan akibat faktor psikis dapat diminimalisir.

5. Pemeriksaan Gigi Rutin

Melakukan kunjungan ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali sangat penting untuk mendeteksi adanya masalah pada gigi atau gusi. Dokter gigi juga dapat menghaluskan bagian gigi yang tajam yang berpotensi melukai jaringan mulut Anda.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera konsultasi ke dokter gigi jika:

  • Sariawan tidak sembuh/ tidak membaik lebih dari 2 minggu

  • Sariawan muncul sangat sering

  • Ukuran luka sangat besar atau sangat nyeri atau berdarah

  • Terjadi perubahan konsistensi hingga sariawan terasa keras

  • Disertai demam atau gejala lain seperti penurunan berat badan, diare berat, luka di kulit

Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan bahwa luka tersebut bukan merupakan tanda penyakit lain yang lebih serius.

 

Sumber Referensi

  1. Katebi K, et al. Recurrent Aphthous Stomatitis and Its Related Factors. BMC Oral Health. 2025.

  2. D’Amario M, et al. Treatments for Recurrent Aphthous Stomatitis: A Literature Review. Dentistry Journal. 2025.

  3. Parra-Moreno FJ, et al. Treatment of Recurrent Aphthous Stomatitis: A Systematic Review. 2022.

  4. Xiao X & Shi Z. Research Trends of Recurrent Aphthous Stomatitis. 2024.

  5. Öztekin A, et al. Recurrent Aphthous Stomatitis and Oxidative Stress. Medicine. 2025.

  6. del Mazo RC, et al. Recurrent Aphthous Stomatitis. Oral Diseases / ScienceDirect. 2023.

  7. Plewa MC. Recurrent Aphthous Stomatitis. StatPearls. 2023. 


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS