Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
Sistokel (Kandung Kemih Turun) - Penyebab, Ciri, & Cara Mengobatinya
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 15 Januari 2026

Jika muncul benjolan pada area vagina, waspadai kemungkinan kandung kemih turun atau sistokel.
Adapun arti sistokel adalah kondisi ketika kandung kemih turun dari posisi normalnya dan menonjol ke arah dinding vagina.
Kondisi ini biasanya rentan dialami oleh wanita yang pernah melahirkan secara normal, menopause, atau sering mengangkat beban berat.
Mari pahami penyebab, cara mengobati, ciri-ciri, dan pencegahannya agar tidak mengalaminya!
Apa yang Dimaksud dengan Sistokel?

Perbedaan Kandung Kemih Normal dan Kandung Kemih Turun | Sumber: Wellspect
Sistokel adalah kondisi ketika kandung kemih turun dari posisi normalnya dan menonjol ke arah dinding vagina akibat otot serta jaringan penyokong di dasar panggul melemah.
Kondisi ini dikenal juga dengan istilah kandung kemih turun, herniasi kandung kemih, atau bladder prolapse.
Normalnya, dinding depan vagina berfungsi menopang kandung kemih. Namun, seiring bertambahnya usia atau tekanan fisik berlebih (seperti melahirkan normal berulang), otot dan jaringan tersebut dapat melemah.
Akibatnya, kandung kemih kehilangan penopang dan mulai melorot ke arah vagina. Dampaknya, sistokel bisa menyebabkan rasa tidak nyaman atau mengompol tanpa sadar saat batuk, bersin, atau beraktivitas.
Tingkat Keparahan Sistokel
Tingkat keparahan sistokel dibagi menjadi beberapa derajat:
-
Derajat 1 (ringan), hanya sebagian kecil kandung kemih yang menonjol ke dalam vagina.
-
Derajat 2 (sedang), kandung kemih turun mencapai atau sedikit keluar dari lubang vagina.
-
Derajat 3 (berat), kandung kemih menonjol ke luar dari vagina.
-
Derajat 4 (komplit), seluruh kandung kemih keluar sepenuhnya dari vagina dan sering disertai prolaps rahim atau rektum.
Sistokel tergolong kondisi yang cukup umum, terutama pada wanita pascamenopause. Sekitar 50% wanita mengalami satu derajat sistokel dalam hidupnya.
Setelah menopause, produksi hormon estrogen menurun, menyebabkan otot dan jaringan di sekitar vagina melemah sehingga meningkatkan risiko kandung kemih turun.
Siapa yang Berisiko Mengalami Sistokel?
Sistokel tidak terjadi pada pria. Namun sistokel dapat dialami oleh wanita muda maupun tua, tanpa pandang umur.
Risikonya meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah menopause, karena tubuh menghasilkan lebih sedikit hormon estrogen.
Hormon estrogen berfungsi menjaga kekuatan otot dan jaringan penopang panggul. Ketika kadarnya menurun, maka jaringan tersebut lemah dan rentan membuat kandung kemih turun.
Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya sistokel antara lain:
-
Persalinan normal berulang, terutama jika bayi besar.
-
Riwayat operasi panggul, seperti pengangkatan rahim (histerektomi) atau operasi lain di area vagina.
-
Obesitas karena tekanan ekstra pada otot dasar panggul.
-
Faktor keturunan karena riwayat keluarga yang memiliki sistokel.
Ciri-ciri Sistokel
Banyak wanita baru menyadari adanya sistokel setelah muncul benjolan di area vagina yang terasa seperti ada bola kecil keluar, terutama saat berdiri lama atau mengejan.
Jadi, jika Anda bertanya-tanya “benjolan sistokel seperti apa?”, umumnya bentuknya lunak, menonjol keluar dari dinding vagina bagian depan, dan bisa hilang saat berbaring.
Lalu, apa ciri-ciri kantong kemih turun? Berikut ciri-ciri sistokel yang umum dialami:
-
Muncul benjolan di dalam atau luar vagina.
-
Nyeri punggung bawah saat berdiri lama, batuk, atau mengangkat beban berat.
-
Sulit buang air kecil atau merasa kandung kemih belum benar-benar kosong setelah berkemih.
-
Urin keluar tanpa sadar, terutama saat batuk atau bersin.
-
Sering mengalami infeksi saluran kemih (ISK).
-
Nyeri saat berhubungan seksual.
-
Sulit memasukkan pembalut tampon atau menstrual cup.
-
Pada kasus berat, jaringan vagina tampak keluar dan bisa berdarah karena gesekan.
Baca Juga: Medical Check Up (MCU): Apa Saja Jenis Tes, Syarat, & Biayanya
Penyebab Sistokel

Kasus Sistokel | Sumber: inviTRA
Sistokel terjadi karena melemahnya otot panggul yang berfungsi menopang kandung kemih dan organ di sekitarnya. Berikut beberapa penyebab yang perlu diwaspadai:
1. Persalinan Normal
Proses persalinan normal berulang merupakan penyebab paling umum sistokel. Saat melahirkan melalui vagina, otot dan jaringan di sekitar vagina serta panggul mengalami peregangan hebat.
Jika proses persalinan berlangsung lama atau bayi berukuran besar, risiko kerusakan jaringan penopang kandung kemih menjadi lebih tinggi.
2. Menopause
Setelah menopause, tubuh wanita berhenti memproduksi hormon estrogen. Padahal hormon ini berperan dalam menjaga kekuatan otot dan jaringan di sekitar vagina.
Kekurangan estrogen menyebabkan otot panggul melemah, sehingga kandung kemih lebih mudah turun dan menekan dinding vagina.
3. Kebiasaan Mengejan atau Mengangkat Beban Berat
Kebiasaan mengangkat benda berat, mengejan keras saat buang air besar, atau menderita sembelit kronis dapat memberi tekanan berulang pada otot panggul.
Lama-kelamaan, hal ini membuat jaringan penopang kandung kemih melemah dan memicu sistokel.
4. Batuk Kronis
Penyakit seperti batuk berkepanjangan juga bisa menjadi penyebab sistokel. Pasalnya, batuk terus-menerus dapat meningkatkan tekanan di perut dan panggul. Secara perlahan, dampaknya bisa melemahkan otot dasar panggul.
5. Kelebihan Berat Badan
Berat badan berlebih atau obesitas dapat memberikan tekanan tambahan pada otot panggul setiap saat.
Jika kondisi ini berlangsung lama, daya tahan jaringan penopang kandung kemih akan menurun, sehingga risiko sistokel pun meningkat.
6. Faktor Penuaan
Seiring bertambahnya usia, elastisitas otot dan jaringan tubuh alami menurun, termasuk di area panggul.
Tidak heran jika wanita usia lanjut lebih rentan mengalami sistokel, terutama setelah menopause, karena kombinasi dari penuaan dan penurunan hormon estrogen.
Diagnosis Sistokel
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami sistokel, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan. Beberapa metode diagnosis yang biasanya dilakukan yaitu:
1. Pemeriksaan Panggul
Dokter akan memeriksa area panggul untuk melihat adanya tonjolan. Pemeriksaan ini dilakukan saat pasien dalam posisi berdiri atau mengejan untuk membantu mendeteksi seberapa jauh kandung kemih turun ke arah vagina.
2. Urodinamik
Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai fungsi kandung kemih. Tes ini menunjukkan seberapa banyak urine yang dapat ditampung kandung kemih sebelum muncul rasa ingin buang air kecil dan apakah ada kebocoran urine (inkontinensia).
3. Cystourethrogram (Voiding Cystogram)
Tes ini berupa foto rontgen kandung kemih yang diambil ketika pasien buang air kecil. Sebelumnya, kandung kemih diisi cairan kontras agar bentuk dan pergerakannya terlihat jelas di gambar.
Hasilnya membantu dokter melihat apakah ada penyumbatan atau perubahan bentuk kandung kemih akibat sistokel.
4. MRI
Dalam beberapa kasus, MRI dilakukan untuk melihat sejauh mana kandung kemih turun dan apakah organ panggul lain ikut terpengaruh.
Pemeriksaan ini memberikan gambaran lebih detail dibanding rontgen biasa, terutama pada kasus sistokel yang kompleks.
Baca Juga: Apakah Endoskopi Berbahaya? Kenali Prosedur, Persiapan & Biaya
Cara Mengobati Sistokel
Bagaimana cara mengobati kandung kemih turun? Jika kasusnya ringan, cukup perubahan gaya hidup atau latihan otot panggul. Namun, pada kondisi yang lebih berat, bisa diperlukan penggunaan alat bantu atau tindakan operasi. Berikut beberapa cara mengobati sistokel:
1. Perawatan Mandiri di Rumah
Jika sistokel tergolong ringan, dokter biasanya menyarankan perubahan gaya hidup untuk mencegah kondisi makin parah.
Misalnya dengan menghindari angkat beban berat, menurunkan berat badan berlebih, mengatasi sembelit, dan berhenti merokok.
Latihan senam Kegel (senam otot panggul) juga dianjurkan untuk memperkuat otot penyangga kandung kemih.
2. Terapi Estrogen
Terapi estrogen, baik dalam bentuk krim, pil, atau patch, dapat membantu memperkuat jaringan di sekitar vagina dan mengurangi gejala sistokel, seperti rasa berat di panggul. Namun, terapi ini tidak cocok untuk semua orang dan perlu pengawasan dokter.
3. Penggunaan Alat Penyangga Vagina (Pessary)
Pessary adalah alat berbentuk cincin kecil dari silikon atau plastik yang dimasukkan ke dalam vagina untuk membantu menopang kandung kemih yang turun.
Alat ini dapat dilepas dan dibersihkan secara berkala untuk mencegah infeksi. Pessary cocok bagi wanita yang tidak bisa atau belum siap menjalani operasi.
4. Terapi Fisioterapi
Terapi fisik seperti stimulasi listrik atau biofeedback dapat membantu memperkuat otot panggul pada penderita sistokel.
Stimulasi listrik menggunakan arus ringan untuk merangsang kontraksi otot, sedangkan biofeedback membantu pasien memahami cara mengencangkan otot panggul dengan benar melalui alat pemantau khusus.
5. Operasi Sistokel
Jika gejala sistokel sudah berat dan tidak membaik dengan perawatan konservatif, dokter dapat menyarankan tindakan operasi.
Prosedur ini bertujuan mengembalikan posisi kandung kemih ke tempat semula dan memperkuat dinding vagina yang melemah.
Operasi biasanya dilakukan melalui vagina, dan masa pemulihan penuh umumnya memakan waktu sekitar 6 minggu.
Apakah Sistokel Bisa Sembuh?
Berdasarkan berbagai pengalaman sembuh dari sistokel, kondisi ini dapat membaik secara signifikan, bahkan bisa pulih sepenuhnya tergantung tingkat keparahannya.
Pada kasus sistokel ringan hingga sedang, gejala biasanya bisa dikendalikan dengan latihan Kegel, terapi hormon estrogen, atau perubahan gaya hidup.
Meski tidak sepenuhnya mengembalikan posisi kandung kemih seperti semula, metode ini mampu mencegah perburukan.
Sementara itu, untuk sistokel yang parah, operasi adalah pilihan paling efektif untuk “menyembuhkan” kondisi ini.
FAQ seputar Sistokel
Setelah memahami penyebab dan cara mengobati kandung kemih turun, mungkin Anda masih memiliki beberapa pertanyaan umum terkait kondisi ini, seperti:
Apa perbedaan sistokel dan rektokel?
Sistokel terjadi ketika kandung kemih turun dan menonjol ke dinding depan vagina, sedangkan rektokel adalah kondisi di mana dinding belakang vagina menonjol akibat dorongan dari rektum (usus besar bagian bawah).
Apa perbedaan sistokel dan prolaps uteri?
Sistokel melibatkan turunnya kandung kemih, sementara prolaps uteri terjadi ketika rahim (uterus) turun ke arah vagina karena melemahnya otot dan jaringan penyangga di area panggul. Dalam beberapa kasus berat, kedua kondisi ini bisa terjadi bersamaan.
Bagaimana cara senam Kegel untuk kandung kemih turun?
Caranya, kencangkan otot seperti saat Anda menahan buang air kecil selama 5 detik, lalu rileks selama 5 detik, dan ulangi 10–15 kali. Lakukan latihan ini secara rutin 2–3 kali sehari, dan hasilnya akan lebih maksimal bila dipandu oleh dokter atau fisioterapis panggul.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda mulai merasakan sulit menahan kencing atau merasa kandung kemih tidak benar-benar kosong setelah berkemih, waspadai sebagai tanda sistokel.
Oleh karena itu, dapatkan penanganan segera oleh dokter urologi di Prostate & Urinary Stone Center Tzu Chi Hospital.
Dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan urodinamik (Urodynamic Study), yaitu tes untuk menilai fungsi kandung kemih dan saluran kemih bawah, termasuk pemeriksaan koordinasi otot yang berperan dalam proses berkemih.
Pemeriksaan ini membantu dokter memahami secara akurat penyebab gangguan seperti sistokel sehingga solusi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan Anda.
Untuk pemeriksaan, segera buat janji temu dengan dokter urologi melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital. Untuk melihat jadwal praktik dokter, cukup akses menu Cari Dokter.
Jangan tunggu hingga gejala semakin parah atau mengganggu aktivitas harian.
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh dr. Christian, Sp.OG
Sumber:
Cystocele (Prolapsed Bladder): Causes, Symptoms & Treatment | Cleveland Clinic
Topik
Related Article
Artikel Populer

Omeprazole: Manfaat, Dosis, Cara Minum, & Efek Samping

Amoxicillin: Dosis, Kegunaan, dan Efek Samping

Menu Diet Sehat 7 Hari untuk Turunkan BB tanpa Menyiksa Diri

Kedutan Mata Kanan & Kiri Bawah: Penyebab & Cara Mengatasinya menurut Medis

