Edukasi Obat & Apotek
Vaksin HPV: Manfaat, Jadwal Pemberian, Efek Samping, dan Siapa yang Perlu
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 24 Agustus 2026


Vaksin HPV adalah salah satu terobosan terbesar dalam dunia pencegahan kanker. Inilah vaksin pertama yang secara langsung mampu mencegah munculnya kanker pada tubuh manusia.
Biasanya vaksin hanya melindungi tubuh dari penyakit menular seperti campak atau cacar. Kali ini, sebuah suntikan sederhana bisa mencegah salah satu jenis kanker paling mematikan pada perempuan.
Pada dasarnya, virus HPV (Human Papillomavirus, yaitu virus yang menular lewat sentuhan kulit dan hubungan seksual) dapat memicu perubahan sel yang perlahan berkembang menjadi kanker. Dengan melindungi tubuh dari tipe HPV yang paling berbahaya, terutama tipe 16 dan 18 yang menjadi penyebab sekitar 7 dari 10 kasus kanker serviks (kanker leher rahim), vaksin ini berpotensi menghapus sebagian besar kasus kanker serviks apabila cukup banyak orang divaksinasi.
Itulah sebabnya banyak negara kini menjadikannya prioritas kesehatan masyarakat. Kabar baiknya, Indonesia sendiri telah memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional untuk siswi SD. Langkah besar ini menempatkan negeri ini sejajar dengan upaya dunia memberantas kanker serviks.
Bagi banyak orang tua, ini adalah bentuk perlindungan nyata yang bisa mereka berikan untuk masa depan anak perempuan mereka.
Jenis Vaksin HPV yang Tersedia
Saat ini terdapat dua vaksin HPV utama yang tersedia di Indonesia, yakni Gardasil 9 dan Cervarix. Perbedaan utamanya terletak pada jumlah tipe HPV yang dicakup serta indikasi usia dan jenis kelamin penerimanya.
-
Gardasil 9 (Vaksin 9-Valen)
Gardasil 9 melindungi tubuh dari sembilan tipe HPV sekaligus. Tipe 6 dan 11 tergolong risiko rendah namun menjadi penyebab utama kutil kelamin, sedangkan tipe 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58 tergolong risiko tinggi dan berkaitan dengan berbagai jenis kanker.
Berkat cakupan yang luas ini, Gardasil 9 mampu memberikan perlindungan hingga sekitar 90% terhadap kanker serviks dan telah disetujui penggunaannya untuk pria maupun wanita berusia 9 hingga 45 tahun. Perbedaan cakupannya dengan vaksin generasi sebelumnya cukup mencolok: vaksin terdahulu ibarat payung kecil yang hanya menutupi empat tipe HPV dengan perlindungan sekitar 70%, sedangkan Gardasil 9 menaikkan cakupan menjadi sembilan tipe dengan perlindungan sekitar 90%. Kelima tipe tambahan itu bertanggung jawab atas cukup banyak kasus kanker serviks yang selama ini luput terlindungi.
Bagi seseorang yang belum pernah menerima vaksin HPV sama sekali, Gardasil 9 menjadi pilihan yang paling dianjurkan karena perlindungannya paling menyeluruh tidak hanya terhadap kanker serviks, tetapi juga kutil kelamin serta beberapa kanker lain yang berkaitan dengan HPV.
-
Cervarix (Vaksin Bivalen)
Cervarix melindungi tubuh dari tipe HPV 16 dan 18 yang keduanya tergolong risiko tinggi, dengan cakupan perlindungan sekitar 70% terhadap kanker serviks. Vaksin ini disetujui untuk perempuan berusia 9 hingga 25 tahun dan memberikan proteksi silang terhadap beberapa tipe HPV lain seperti 31, 33, dan 45. Perlu diketahui bahwa Cervarix tidak mencakup tipe penyebab kutil kelamin, yaitu tipe 6 dan 11.
Cervarix memiliki keunggulan tersendiri dalam hal respons kekebalan tubuh yang kuat vaksin ini memicu pembentukan antibodi terhadap tipe 16 dan 18 dalam jumlah yang lebih tinggi dibanding vaksin HPV lainnya. Inilah vaksin yang digunakan dalam program imunisasi nasional Indonesia karena ketersediaan dan harganya yang lebih terjangkau untuk skala nasional. Orang tua yang anaknya menerima Cervarix perlu memahami bahwa meskipun vaksin ini tidak melindungi dari kutil kelamin, perlindungannya terhadap jenis kanker yang paling berbahaya tetap sangat baik.
Jadwal Pemberian Vaksin HPV
Jadwal pemberian vaksin HPV sangat bergantung pada usia seseorang saat pertama kali mulai divaksinasi, dengan prinsip bahwa semakin muda usia saat divaksinasi, semakin efektif perlindungan yang diperoleh. Jadwal vaksinasi terbagi menjadi tiga kelompok berikut ini.
-
Usia 9-14 Tahun (2 Dosis)
Bagi anak yang mulai divaksinasi sebelum usia 15 tahun, dua dosis sudah cukup untuk memberikan perlindungan optimal, dengan jarak minimal 5 sampai 6 bulan (jadwal 0 dan 6 bulan). Dalam konteks Indonesia, program nasional menetapkan dosis pertama untuk siswi SD kelas 5 dan dosis kedua untuk kelas 6, biasanya dijadwalkan pada bulan Agustus dan November.
Penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan usia 9-14 tahun menghasilkan antibodi dua hingga tiga kali lebih banyak dibanding perempuan usia 15-26 tahun setelah menerima vaksin HPV. Hal inilah yang menjelaskan mengapa vaksinasi pada usia muda jauh lebih menguntungkan dari segi perlindungan maupun biaya. Jarak antar dosis minimal 5-6 bulan sangat penting dipatuhi agar sistem imun membentuk respons memori yang kuat sehingga kadar antibodi yang dihasilkan lebih tinggi dan bertahan lebih lama.
-
Usia 15-45 Tahun (3 Dosis)
Bagi seseorang yang baru mulai divaksinasi pada usia 15 tahun ke atas, diperlukan tiga dosis dengan jadwal pada bulan ke-0, ke-2, dan ke-6. Dosis kedua diberikan dua bulan setelah dosis pertama untuk mempercepat terbentuknya perlindungan awal, sedangkan dosis ketiga pada bulan keenam berfungsi sebagai “booster” yang memaksimalkan dan mempertahankan kadar antibodi pelindung jangka panjang.
Vaksin ini tetap bermanfaat meskipun seseorang mungkin sudah pernah terinfeksi HPV sebelumnya, karena vaksin melindungi dari tipe-tipe HPV lain yang belum pernah terpapar. Efektivitas paling optimal tetap diperoleh apabila vaksinasi dilakukan sebelum aktif berhubungan seksual. Perlu diingat bahwa ketiga dosis sebaiknya menggunakan merek vaksin yang sama untuk memastikan konsistensi respons imun yang optimal.
-
Vaksin HPV untuk Pria
Gardasil 9 telah disetujui untuk pria berusia 9 hingga 26 tahun, dan bahkan dapat diberikan hingga usia 45 tahun dalam kondisi tertentu. Vaksin ini melindungi pria dari kutil kelamin akibat tipe 6 dan 11, kanker anus, kanker penis, serta kanker orofaring yang berkaitan dengan HPV.
Selain perlindungan individual, vaksinasi pada pria juga membantu terbentuknya kekebalan kelompok (herd immunity) sekaligus melindungi pasangan seksual mereka dari penularan virus. Kanker orofaring (kanker pada tenggorokan dan pangkal lidah) yang disebabkan HPV tipe 16 kini menjadi jenis kanker terkait HPV yang kasusnya meningkat paling cepat pada pria di negara maju dan kondisi ini jauh lebih sulit dideteksi secara dini dibanding kanker serviks karena belum ada pemeriksaan rutin baku untuk mendeteksinya. Dengan demikian, vaksinasi HPV bagi remaja laki-laki bukan sekadar pilihan tambahan, melainkan keputusan kesehatan penting yang bermanfaat bagi diri sendiri sekaligus orang-orang di sekitar mereka.
Efektivitas dan Keamanan Vaksin HPV
Vaksin HPV bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan telah teruji melalui penelitian jangka panjang dan penggunaan di berbagai negara. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa vaksin ini lebih dari 95% efektif mencegah infeksi HPV pada tipe yang dicakup, serta hampir 100% efektif mencegah perubahan sel prakanker pada leher rahim.
Data dari Skotlandia pada 2023 memperlihatkan bahwa program vaksinasi nasional hampir sepenuhnya menghapus kanker serviks pada perempuan yang divaksinasi sebelum usia 14 tahun bukti nyata dari dunia, bukan sekadar teori. Tingkat keamanannya pun sangat baik: vaksin ini telah diberikan kepada lebih dari 350 juta orang di seluruh dunia selama lebih dari 15 tahun tanpa munculnya masalah keamanan yang serius. Vaksin HPV dibuat dari selubung luar virus yang menyerupai bentuk asli HPV namun tanpa “isi” yang membuatnya bisa menular, sehingga tidak mungkin menyebabkan infeksi HPV maupun kanker dalam kondisi apa pun. Kekhawatiran yang kerap beredar di media sosial mengenai efek samping serius vaksin HPV sesungguhnya tidak didukung oleh bukti ilmiah.
Efek Samping Vaksin HPV
Seperti vaksin lainnya, vaksin HPV juga dapat menimbulkan sejumlah efek samping, namun sebagian besar tergolong ringan dan sementara sehingga tidak perlu menjadi alasan untuk takut divaksinasi.
Efek samping yang paling umum adalah reaksi lokal di tempat suntikan berupa nyeri, kemerahan, dan bengkak ringan yang dialami sekitar 40-90% penerima. Sebagian orang juga dapat mengalami gejala sistemik ringan seperti sakit kepala, demam ringan, kelelahan, dan mual, yang umumnya hilang sendiri dalam 1 hingga 2 hari. Pingsan sesaat setelah vaksinasi juga dapat terjadi, terutama pada remaja kondisi ini merupakan reaksi terhadap rasa cemas atau nyeri saat disuntik, bukan akibat isi vaksin. Duduk atau berbaring selama 15 menit setelah disuntik menjadi langkah pencegahan yang dianjurkan.
Reaksi alergi berat (anafilaksis) tergolong sangat jarang, itulah alasan mengapa pasien diminta menunggu 15-30 menit setelah vaksinasi sebelum pulang. Penting ditegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa vaksin HPV menyebabkan kemandulan maupun gangguan pada indung telur. Rasa tidak nyaman selama satu atau dua hari sangat kecil dibandingkan perlindungan seumur hidup dari kanker yang dapat mengancam jiwa.
Siapa yang Tidak Boleh Menerima Vaksin HPV?
Meskipun vaksin HPV aman bagi sebagian besar orang, ada beberapa kondisi tertentu yang perlu diperhatikan sebelum vaksinasi, yaitu adanya riwayat reaksi alergi berat (anafilaksis) terhadap dosis vaksin sebelumnya atau terhadap salah satu kandungan vaksin, termasuk ragi pada Gardasil. Selain itu, vaksin HPV tidak direkomendasikan selama kehamilan bukan karena terbukti berbahaya, melainkan karena data yang tersedia masih terbatas. Apabila seseorang terlanjur divaksinasi saat hamil tanpa disadari, tidak ada bukti bahaya bagi janin, dan sisa dosis cukup dilanjutkan setelah melahirkan.
Penyakit akut yang berat hanya menjadi alasan penundaan, bukan kontraindikasi permanen. Sebaliknya, penyakit ringan seperti pilek, batuk, atau demam rendah bukanlah alasan untuk menunda vaksinasi karena respons imun tidak terganggu oleh kondisi ringan tersebut. Orang dengan daya tahan tubuh lemah misalnya pasien HIV atau yang sedang menjalani kemoterapi justru sangat dianjurkan mendapatkan vaksin HPV karena lebih rentan mengalami infeksi HPV yang menetap beserta komplikasinya.
Kapan Harus ke Dokter?
Vaksin HPV adalah investasi kesehatan terbaik untuk mencegah kanker serviks sejak dini. Konsultasikan kebutuhan vaksinasi Anda dengan dokter kandungan, dokter anak, atau dokter umum, terutama jika Anda memiliki kondisi khusus seperti kehamilan, daya tahan tubuh lemah, atau riwayat alergi terhadap komponen vaksin. Ingat pula bahwa vaksinasi tidak menggantikan skrining Pap smear rutin keduanya harus berjalan beriringan.
Jangan tunda lagi. Jadwalkan pemeriksaan melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital untuk berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kami, atau temukan dokter yang tepat melalui Cari Dokter. Tzu Chi Hospital melayani pasien dengan BPJS Kesehatan, asuransi swasta, maupun biaya mandiri.
Referensi
-
WHO. (2022). Human papillomavirus vaccines: WHO position paper. Wkly Epidemiol Rec, 97(50):645-672.
-
Kemenkes RI. (2023). Program Imunisasi HPV Nasional. Jakarta.
-
ACIP. (2019). Human Papillomavirus Vaccination for Adults. MMWR, 68(32):698-702.
Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh Dr. Christian Wijaya Woen, Sp.OG
Topik
Related Article
Artikel Populer

Omeprazole: Manfaat, Dosis, Cara Minum, & Efek Samping

19 Ciri-ciri Hamil Muda pada Wanita, Kenali Sebelum Terlambat!

10 Ciri-Ciri Benjolan di Leher yang Tidak Berbahaya & Cara Mengatasinya

8 Cara Menurunkan Demam Anak tanpa Obat, Pakai Minyak Kayu Putih!

