Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit

Skoliosis pada Remaja: Gejala, Penyebab, Cara Cek, dan Penanganan

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi24 Agustus 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Skoliosis pada remaja sering baru disadari ketika tubuh mulai tampak tidak simetris, misalnya bahu kanan dan kiri berbeda tinggi atau punggung terlihat agak miring saat membungkuk. 

Kondisi ini penting dikenali sejak awal karena sebagian kasus hanya perlu dipantau, tetapi sebagian lain dapat bertambah berat selama masa pertumbuhan dan membutuhkan brace, terapi latihan, atau tindakan operasi sesuai evaluasi dokter. 

Apa Itu Skoliosis pada Remaja?

skoliosis pada remaja

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang ke samping yang umumnya juga disertai rotasi atau puntiran pada ruas tulang belakang. 

Pada remaja, bentuk yang paling sering ditemukan adalah adolescent idiopathic scoliosis (AIS), yaitu skoliosis yang muncul pada usia sekitar 10–18 tahun dan penyebab pastinya belum diketahui. 

Diagnosis skoliosis ditegakkan bila sudut kelengkungan pada foto rontgen mencapai lebih dari 10 derajat.

Kondisi ini sering muncul saat masa growth spurt atau percepatan pertumbuhan remaja. Sebagian besar kasus tergolong ringan, tetapi tetap perlu dipantau. Namun pada kasus tertentu, kurva dapat memburuk selama tulang masih tumbuh.

Ciri-Ciri Skoliosis

Banyak orang tua maupun remaja baru menyadari kelainan ini saat melihat perubahan bentuk tubuh di cermin atau ketika baju terlihat jatuh tidak seimbang. Karena itu, Anda perlu memahami ciri-ciri skoliosis agar pemeriksaan bisa dilakukan lebih dini:

1. Bahu kanan dan kiri tampak tidak sama tinggi

Ini adalah tanda yang paling sering terlihat. Salah satu bahu bisa tampak lebih tinggi atau lebih menonjol dibanding sisi lainnya. Pada beberapa remaja, perbedaan ini terlihat jelas saat berdiri santai.

2. Salah satu tulang belikat lebih menonjol

Saat dilihat dari belakang, salah satu shoulder blade dapat tampak lebih keluar. Ini bisa terjadi karena tulang belakang bukan hanya melengkung, tetapi juga berputar.

3. Pinggang tampak tidak simetris

Lekukan pinggang kanan dan kiri bisa terlihat berbeda. Salah satu sisi tampak lebih masuk, sementara sisi lain lebih rata. Hasilnya tubuh terlihat tidak proporsional dan sering baru disadari dari tampak belakang.

4. Pinggul terlihat tidak rata

Salah satu pinggul bisa tampak lebih tinggi. Pada sebagian remaja, ini membuat posisi berdiri terlihat miring atau seperti berat badan bertumpu di satu sisi.

Posisi rok atau celana tampak miring, badan seperti condong ke kanan atau kiri dan dapat menyerupai masalah postur biasa padahal perlu evaluasi.

5. Punggung atau tulang rusuk menonjol saat membungkuk

Ini biasanya dinilai dengan forward bend test. Saat remaja membungkuk ke depan, salah satu sisi tulang rusuk bisa tampak lebih tinggi membentuk “rib hump”. Ini merupakan tanda penting dalam skrining dan sering dipakai dokter saat cek skoliosis.

6. Tubuh tampak condong ke satu sisi

Beberapa remaja terlihat seperti “miring” saat berdiri, meski mereka merasa berdiri lurus. Ini bisa menjadi petunjuk bahwa tulang belakang tidak berada pada garis tengah yang semestinya.

Kepala tidak tepat di tengah panggul, posisi tubuh tampak tidak seimbang dan dapat makin nyata saat kurva membesar.

7. Nyeri punggung kadang muncul

Pada AIS, nyeri berat biasanya bukan keluhan utama. Banyak remaja dengan skoliosis justru tidak merasa sakit. Bila nyeri sangat hebat, disertai baal, atau kelemahan, dokter perlu menilai kemungkinan penyebab lain.

Penyebab Skoliosis pada Remaja

Banyak orang mengira skoliosis muncul karena kebiasaan duduk salah, membawa tas berat, atau kurang olahraga. 

Faktanya, penyebab skoliosis pada remaja paling sering justru belum diketahui dengan pasti, terutama pada jenis idiopatik yang paling umum.

Namun penyebabnya bisa dikarenakan:

1. Riwayat keluarga

Skoliosis dapat lebih sering ditemukan pada keluarga tertentu. Karena itu, dokter biasanya akan menanyakan apakah ada orang tua, saudara, atau kerabat dekat yang memiliki riwayat skoliosis.

2. Masa pertumbuhan cepat pada pubertas

AIS sering mulai terlihat saat remaja sedang tumbuh pesat. Pada masa ini, kurva bisa bertambah besar lebih cepat, sehingga pemantauan berkala menjadi penting.

3. Kelainan bawaan tulang belakang

Sebagian kecil skoliosis terjadi karena vertebra tidak terbentuk sempurna sejak lahir. Jenis ini disebut skoliosis kongenital dan berbeda dari AIS.

4. Kondisi neuromuskular atau sindrom tertentu

Skoliosis juga dapat terjadi pada anak atau remaja dengan cerebral palsy, muscular dystrophy, spina bifida, Marfan syndrome, osteogenesis imperfecta, dan kondisi lain yang memengaruhi otot, saraf, atau jaringan penunjang.

5. Bukan karena tas berat atau postur buruk semata

Skoliosis idiopatik bukan disebabkan oleh kebiasaan membawa tas berat, olahraga, atau postur yang jelek. Meski begitu, tas terlalu berat tetap bisa memicu pegal atau masalah muskuloskeletal lain.

Jenis Skoliosis dan Derajat Keparahannya

Tidak semua skoliosis harus langsung diobati dengan brace atau operasi. Penanganan sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya sudut kurva. 

Istilah skoliosis ringan biasanya dipakai untuk kurva yang masih kecil dan sering kali hanya memerlukan pemantauan rutin.

1. Kurva di bawah 10 derajat

Kurva di bawah 10 derajat umumnya belum dikategorikan sebagai skoliosis pada pemeriksaan radiologi, melainkan variasi bentuk tulang belakang yang masih dapat ditemukan pada pertumbuhan.

2. Skoliosis ringan

Secara umum, kurva kurang dari 20 derajat sering dianggap sebagai skoliosis ringan. Pada kondisi ini, dokter biasanya menyarankan observasi berkala untuk melihat apakah kurva stabil atau bertambah.

3. Skoliosis sedang

Kurva sekitar 20–40 derajat sering masuk kelompok sedang, terutama bila masih ada sisa pertumbuhan. Pada rentang ini, brace dapat dipertimbangkan untuk menahan perburukan. Namun brace tidak meluruskan total, hanya membantu mencegah makin bengkok

4. Skoliosis berat

Kurva di atas 45–50 derajat umumnya dinilai berat dan lebih mungkin membutuhkan evaluasi operasi, terutama jika terus memburuk atau berisiko memengaruhi fungsi paru dan kualitas hidup.

5. Risiko memburuk tidak hanya ditentukan angka kurva

Dokter tidak melihat angka Cobb angle saja. Mereka juga menilai Risser stage atau kematangan tulang, tinggi badan, fase pubertas, dan seberapa cepat kurva berubah.

Tulang yang masih tumbuh berarti risiko progresi lebih tinggi, dan kurva lebih besar biasanya lebih berisiko memburuk.

Cara Cek Skoliosis

Pemeriksaan skoliosis tidak cukup hanya dengan melihat punggung sekilas. Dokter akan menilai bentuk tubuh, riwayat keluarga, masa pertumbuhan, dan bila perlu melakukan pencitraan. Adapun beberapa pengecekannya yaitu melalui:

1. Wawancara medis

Dokter biasanya menanyakan sejak kapan tubuh terlihat miring, apakah ada keluhan nyeri, apakah ada keluarga dengan skoliosis, dan apakah remaja sedang dalam masa pertumbuhan cepat.

2. Pemeriksaan fisik postur

Dokter akan melihat posisi bahu, pinggang, pinggul, dan garis tubuh secara keseluruhan. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai asimetri tubuh yang khas pada skoliosis.

3. Forward bend test

Ini adalah pemeriksaan sederhana tetapi penting. Pasien diminta membungkuk dengan lutut lurus, lalu dokter menilai apakah ada tonjolan tulang rusuk atau punggung pada satu sisi.

4. Foto rontgen berdiri

Rontgen berdiri adalah pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis dan mengukur derajat kurva dengan Cobb angle. Cara ini bertujuan menentukan lokasi dan besar kurva dan menjadi dasar pemilihan terapi.

5. Penilaian kematangan tulang

Dokter dapat menilai seberapa banyak pertumbuhan yang masih tersisa, misalnya lewat Risser stage. Ini membantu memprediksi kemungkinan kurva memburuk. Pasalnya, tulang yang belum matang punya risiko progresi lebih besar.

6. MRI pada kondisi tertentu

MRI tidak selalu dibutuhkan pada semua kasus. Namun, dokter dapat menyarankannya bila usia pasien lebih kecil, gejala tidak khas, ada keluhan neurologis, atau dicurigai masalah lain pada sumsum tulang belakang.

Penanganan Skoliosis pada Remaja

Penanganan skoliosis pada remaja harus disesuaikan dengan derajat kelengkungan, sisa pertumbuhan, jenis skoliosis, dan apakah kurva cenderung memburuk. Mari simak beberapa penanganannya:

1. Observasi berkala

Pada kurva kecil, dokter biasanya memilih observasi dengan kontrol rutin setiap beberapa bulan selama masa pertumbuhan.

2. Brace atau penyangga tulang belakang

Brace sering dipertimbangkan pada kurva sedang yang masih berisiko memburuk. Fungsinya adalah menahan agar kurva tidak makin besar, bukan meluruskan sempurna.

3. Fisioterapi dan latihan spesifik skoliosis

Latihan seperti physiotherapeutic scoliosis-specific exercises (PSSE), termasuk metode Schroth pada beberapa pusat layanan, dapat menjadi bagian dari terapi konservatif untuk memperbaiki kontrol postur, kekuatan, pola napas, dan fungsi tubuh.

4. Olahraga teratur

Olahraga tidak terbukti menghentikan progresi kurva dengan sendirinya, tetapi tetap bermanfaat untuk kebugaran, kekuatan otot punggung, dan kenyamanan tubuh.

5. Operasi

Pada skoliosis berat atau yang terus memburuk, operasi seperti spinal fusion dapat dipertimbangkan. Prosedur ini bertujuan meluruskan tulang belakang semaksimal mungkin dan mencegah kurva bertambah.

Apakah Skoliosis pada Remaja Bisa Sembuh?

Pertanyaan ini sangat sering muncul. Jawabannya tergantung derajat kurva, penyebab, fase pertumbuhan, dan terapi yang dijalani. 

Pada banyak kasus ringan, target utama bukan “menghilangkan” seluruh kurva, melainkan menjaga agar tidak makin berat dan memastikan remaja tetap aktif serta sehat.

Namun Anda perlu memahami bahwa kasus ringan sering cukup dipantau tanpa operasi, brace bertujuan mencegah progresi, bukan meluruskan total.

Latihan dan fisioterapi membantu fungsi dan kenyamanan dan operasi dipertimbangkan pada kasus berat atau progresif. Setelah pertumbuhan selesai, banyak pasien dapat hidup aktif dan produktif.

Komplikasi Bila Skoliosis Diabaikan

Tidak semua skoliosis akan menjadi berat. Namun, mengabaikan kontrol pada masa pertumbuhan bisa membuat peluang intervensi dini terlewat. Pada kurva yang makin besar, komplikasi jangka panjang dapat meningkat.

1. Bentuk tubuh makin tidak simetris

Perubahan kosmetik sering menjadi alasan awal pasien datang berobat. Bila kurva berlanjut, asimetri bahu, pinggang, dan tulang rusuk bisa makin tampak.

2. Risiko nyeri punggung saat dewasa

Sebagian literatur menyebutkan skoliosis dapat meningkatkan beban pada tulang belakang dan diskus, sehingga pada sebagian orang berpotensi terkait nyeri punggung di kemudian hari.

3. Gangguan fungsi paru pada kurva sangat berat

Pada skoliosis yang sangat besar, bentuk rongga dada dapat terganggu dan memengaruhi kerja paru.

4. Kebutuhan tindakan lebih kompleks

Kurva yang makin besar dapat membuat penanganan menjadi lebih kompleks dibanding bila terdeteksi lebih awal.

5. Dampak psikologis pada remaja

Perubahan bentuk tubuh, kekhawatiran soal penampilan, dan keharusan memakai brace dapat menimbulkan stres emosional.

Kapan Harus ke Dokter?

Banyak kasus skoliosis ditemukan saat kurva masih kecil dan belum menimbulkan gangguan berat. Justru pada fase inilah konsultasi penting dilakukan agar dokter bisa memantau progresinya.

Bila Anda melihat ciri-ciri skoliosis, ingin cek skoliosis, atau membutuhkan penanganan lengkap oleh dokter berpengalaman, jadwalkan pemeriksaan ke Tzu Chi Hospital dan lihat jadwal praktik di menu Cari Dokter

Pendekatan yang tepat sejak awal membantu Anda mendapatkan diagnosis, terapi, dan perawatan yang lebih terarah!

Referensi:

Nemours KidsHealth. Scoliosis (Curved Spine) (for Teens). Ditinjau Januari 2022. (KidsHealth)

Hospital for Special Surgery (HSS). Scoliosis in Children and Teenagers: An Overview. Diperbarui 29 Februari 2024. (Hospital for Special Surgery)

NCBI Bookshelf / InformedHealth.org. Overview: Scoliosis in Teenagers. Last update 25 Maret 2024. (NCBI)

Mayo Clinic. Scoliosis: Symptoms and Causes. Diperbarui 25 April 2025. (Mayo Clinic)

 

Artikel ini telah ditinjau secara medis oleh dr. Jursal Harusn, Sp.OT, Subsp. OTB(K)


 


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS