Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit

Skrining Paru: Langkah Awal Deteksi Dini Gangguan Paru

logo author

Ditulis Oleh

Admin20 Agustus 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Paru-paru memiliki peran penting dalam menyediakan oksigen yang dibutuhkan tubuh. Namun, beberapa gangguan pada paru dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan yang jelas pada tahap awal. Seseorang dapat merasa sehat dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari, meskipun terdapat perubahan tertentu pada jaringan paru. Karena itu, perhatian terhadap faktor risiko dan pemeriksaan yang tepat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan paru.

Baca Juga: Reduksi Konka dengan Radiofrekuensi: Solusi Modern untuk Hidung Tersumbat Tanpa Operasi Besar

Menurut Dr. Olivia Geraldine Roxanne, Sp.P, skrining penyakit paru dapat menjadi salah satu langkah untuk menemukan kelainan lebih awal, terutama pada orang yang memiliki faktor risiko tinggi penyakit tertentu seperti kanker. Pemeriksaan skrining tidak perlu menunggu munculnya batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan lain. Pada kelompok berisiko tinggi yang tidak bergejala, skrining dapat membantu menemukan kelainan yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. Kementerian Kesehatan RI juga menyebutkan bahwa program skrining kanker paru ditujukan kepada kelompok berisiko tinggi meskipun tidak mempunyai keluhan atau gejala.

Apa Itu Skrining Kanker Paru?

Skrining kanker paru merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk membantu menemukan kelainan paru tahap awal pada orang yang belum menunjukkan gejala tertentu, terutama orang yang berisiko tinggi menderita kanker. Tujuan skrining bukan untuk langsung menetapkan diagnosis, melainkan untuk mengidentifikasi apakah terdapat temuan yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Salah satu pemeriksaan yang digunakan untuk skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi adalah Low-Dose Computed Tomography (LDCT). Pemeriksaan ini menggunakan CT scan dengan dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT diagnostik standar, tetapi dapat menghasilkan gambaran jaringan paru secara detail. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa LDCT dapat mendeteksi lesi kecil pada paru yang mungkin menjadi tanda awal kanker paru.

Namun, skrining tidak berarti setiap orang perlu menjalani LDCT secara rutin. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan berdasarkan penilaian faktor risiko dan rekomendasi dokter. American Cancer Society (ACS) merekomendasikan skrining kanker paru menggunakan LDCT dilakukan setiap tahun bagi kelompok berisiko tinggi kanker paru, yaitu berusia 50–80 tahun dengan riwayat merokok sedikitnya 20 pack-year, terlepas dari berapa lamapun individu tersebut sudah berhenti merokok.

Kebutuhan skrining setiap individu dapat berbeda, sehingga keputusan untuk melakukan skrining sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.

Siapa yang Perlu Mempertimbangkan Skrining Penyakit Paru?

Beberapa kelompok yang perlu memperhatikan kesehatan paru dan mempertimbangkan konsultasi mengenai skrining antara lain:

  • Perokok aktif
    Semakin lama dan semakin banyak seseorang merokok, semakin besar paparan zat berbahaya terhadap paru-paru.
  • Mantan perokok
    Meskipun sudah berhenti, riwayat merokok sebelumnya tetap merupakan risiko penyakit paru.
  • Sering terpapar asap rokok
    Paparan asap rokok dari orang lain dalam jangka panjang juga dapat berdampak pada kesehatan paru.
  • Sering terpapar debu, asap, atau bahan kimia
    Paparan dari lingkungan atau pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan paru dan perlu disampaikan saat konsultasi.
  • Berusia 40 tahun ke atas dengan faktor risiko
    Pertambahan usia disertai riwayat merokok atau paparan tertentu perlu mendapat perhatian lebih, namun keputusan skrining tetap berdasarkan evaluasi dokter.
  • Memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit kanker
    Jika terdapat riwayat kanker dalam keluarga, misalnya ayah, ibu, kakek, nenek, maupun om dan tante ada yang menderita kanker baik di paru maupun organ lain. Risiko kanker pada individu tersebut meningkat, dan perlu mempertimbangkan skrining penyakit kanker.

Kebutuhan skrining paru tetap perlu ditentukan berdasarkan kombinasi usia, riwayat merokok, paparan, kondisi kesehatan, dan hasil konsultasi dengan dokter.

Apa yang Dapat Ditemukan Melalui Skrining Paru?

Pemeriksaan pencitraan seperti LDCT dapat menemukan perubahan pada paru yang belum menimbulkan gejala. Salah satu temuan yang cukup sering dibicarakan adalah nodul paru, yaitu area kecil atau bercak pada jaringan paru yang terlihat melalui pemeriksaan pencitraan.

Selain nodul, pemeriksaan dapat menunjukkan lesi lain yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut. LDCT memiliki kemampuan untuk menemukan lesi berukuran kecil sehingga berperan dalam upaya mendeteksi kanker paru maupun temuan insidental berupa berbagai penyakit non kanker.

Namun, menemukan nodul tidak berarti seseorang pasti menderita kanker paru. Nodul dapat saja merupakan kondisi lain yang bukan merupakan kanker. Setiap temuan abnormal membutuhkan pemeriksaan lanjutan.

Karena itu, hasil skrining perlu dinilai oleh dokter. Ukuran, bentuk, lokasi, karakteristik, serta perubahan nodul dari waktu ke waktu dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya. Pada beberapa kondisi dokter mungkin hanya merekomendasikan pemantauan berkala untuk melihat perkembangan kondisi dan pemeriksaan lanjutan apabila dibutuhkan.

Skrining dengan demikian berfungsi sebagai langkah awal, bukan sebagai pemeriksaan diagnostik yang langsung memastikan suatu penyakit.

Kapan Sebaiknya Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi dengan dokter dapat dipertimbangkan apabila Anda merupakan perokok aktif atau mantan perokok, sering terpapar asap rokok atau paparan tertentu di tempat kerja, memiliki riwayat keluarga kanker paru, atau ingin mengetahui apakah memiliki risiko yang memerlukan skrining.

Pemeriksaan juga tidak boleh ditunda apabila sudah muncul keluhan seperti batuk yang menetap atau berubah dari biasanya, sesak napas, nyeri dada, batuk darah, suara serak berkepanjangan, atau penurunan berat badan yang tidak direncanakan. Pada kondisi seperti ini, pemeriksaan yang dilakukan bukan lagi sekadar skrining pada orang tanpa gejala, tetapi merupakan evaluasi diagnostik untuk mencari penyebab keluhan.

Baca Juga: Tonsilektomi dengan Radiofrekuensi: Solusi Modern, Minim Nyeri untuk Operasi Amandel

Dokter spesialis paru dapat membantu menilai riwayat kesehatan, paparan, kebiasaan merokok, serta kondisi klinis Anda sebelum menentukan apakah diperlukan LDCT atau pemeriksaan lain. Dengan demikian, pemeriksaan dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak semata-mata berdasarkan usia atau kekhawatiran saja.

Untuk mendapatkan konsultasi kesehatan yang tepat dan komprehensif, masyarakat dapat berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan di Tzu Chi Hospital. Janji temu dapat dibuat secara online melalui WhatsApp Tzu Chi Hospital, dan jadwal praktik tenaga medis dapat diakses dengan mudah melalui menu Cari Dokter. Didukung fasilitas rumah sakit yang lengkap serta layanan pemeriksaan penunjang terpadu, proses konsultasi dan penanganan dapat dilakukan secara aman dan nyaman dalam satu tempat

Topik


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS