Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
15 Gejala DBD - Demam, Mual, Ruam Merah, hingga Perdarahan
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 10 Desember 2025

Gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) umumnya ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri otot atau sendi, mual, serta bintik merah di kulit akibat pecahnya pembuluh darah kecil.
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, dan dapat berkembang cepat jika tidak ditangani dengan tepat.
Sepanjang 2024 lalu, tercatat lebih dari 257.000 kasus DBD dengan sekitar 1.400 kematian di Indonesia.
Banyak orang merasa khawatir saat mengalami demam tinggi karena takut terkena DBD, wajar saja, sebab penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi serius seperti perdarahan dan penurunan trombosit drastis.
Sebuah studi kohort di Meksiko, menemukan bahwa lebih dari 50% pasien dengue masih memiliki gejala setelah 1 bulan, seperti nyeri dan manifestasi dermatologis.
Jika Anda ingin tahu apa saja gejala DBD secara lengkap, bagaimana cara mengenalinya sejak dini, dan kapan harus segera ke dokter, ikuti artikel ini sampai habis.
15 Gejala DBD yang Wajib Anda Kenali

Gejala DBD
Memahami setiap gejala, mulai dari gejala dbd pada dewasa hingga gejala demam berdarah pada anak, adalah kunci penanganan cepat.
Berikut adalah daftar 15 gejala dbd yang perlu Anda amati:
1. Demam Tinggi Mendadak (Fase Demam)
Gejala pertama yang paling mudah dikenali adalah demam tinggi yang muncul tiba-tiba. Suhu tubuh bisa naik drastis hingga 39°C–40°C, sering kali tanpa didahului rasa tidak enak badan.
Dalam sebuah penelitian pada 190 anak yang dirawat karena DBD, semua pasien mengalami demam tinggi, dengan gejala tambahan yang paling sering berupa muntah (80,4%), penurunan nafsu makan (79,5%), konstipasi (72,7%), dan nyeri perut (64,9%).
Perlu diingat, demam pada DBD bersifat biphasic, artinya muncul dua kali dalam dua fase berbeda. Selain itu, demam ini biasanya sulit turun meskipun sudah minum obat penurun panas. Jadi, Anda harus tetap waspada.
2. Sakit Kepala Hebat yang Terkonsentrasi di Dahi
Tiba-tiba diserang sakit kepala yang intens? Jika nyeri terasa sangat berat dan fokus di bagian dahi (frontal), ini bisa menjadi salah satu manifestasi utama infeksi virus Dengue.
Nyeri kepala ini muncul akibat respon peradangan sistemik yang terjadi di tubuh Anda saat virus mulai bereplikasi.
3. Nyeri Belakang Bola Mata (Retro-orbital Pain)
Merasa mata Anda seperti ditekan dari dalam? Nyeri yang terasa menusuk di belakang kedua bola mata ini adalah salah satu gejala DBD yang sering dilaporkan. Ketidaknyamanan seperti ini akan terasa memburuk saat Anda menggerakkan bola mata.
4. Nyeri Otot, Tulang, dan Sendi yang Parah (Breakbone Fever)
Kenapa DBD menyebabkan nyeri otot parah? Hal ini disebabkan oleh virus Dengue yang memicu peradangan luas pada jaringan otot dan sendi (mialgia dan artlagia) yang begitu menyiksa, sehingga di dunia internasional penyakit ini dijuluki breakbone fever (demam tulang retak) karena sensasinya seolah tulang Anda mau patah.
5. Kelelahan Ekstrem dan Lemas Tak Tertahankan
Lemas yang Anda rasakan pada DBD tentu berbeda dari kelelahan biasa. Kelelahan ekstrem ini terjadi karena tubuh sedang berjuang keras melawan infeksi virus, yang secara drastis menurunkan energi.
Kondisi ini membuat penderita merasa sangat tidak bugar dan hanya ingin berbaring total, yang sangat penting untuk mencegah komplikasi.
6. Mual dan Muntah
Gejala DBD yang selanjutnya adalah merasa mual, muntah-muntah, dan sering kali gejala ini keliru dianggap sebagai sakit maag biasa.
Apakah muntah-muntah termasuk gejala DBD? Ya, muntah bisa terjadi karena iritasi saluran cerna oleh virus. Jika muntah terjadi berulang kali (lebih dari tiga kali dalam sehari), risiko dehidrasi Anda akan meningkat drastis.
7. Nafsu Makan Menurun Drastis
Anak-anak maupun orang dewasa yang terinfeksi DBD biasanya akan kehilangan selera makan secara signifikan. Hal ini semakin mempersulit tubuh untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan guna melawan infeksi, sehingga perlu diwaspadai agar tidak memperburuk kondisi tubuh.
8. Munculnya Ruam Kulit Merah Menyeluruh (Rash)
Sekitar 50-80% penderita DBD akan melihat munculnya ruam kulit kemerahan, mirip campak, yang menyebar dari wajah, leher, dada, hingga ekstremitas.
Apakah semua penderita DBD mengalami ruam merah? Tidak, namun jika muncul, ruam ini merupakan respons tubuh terhadap virus.
9. Bintik Merah Kecil di Bawah Kulit (Petechiae)
Perhatikan kulit Anda, apakah muncul bintik-bintik merah kecil (petechiae)? Sebab, ini adalah tanda perdarahan ringan di bawah kulit akibat kebocoran pembuluh darah kapiler yang rapuh dan indikasi awal penurunan trombosit.
Anda dapat melakukan tes sederhana dengan meregangkan kulit; jika bintik tersebut tidak hilang, itu patut dicurigai.
10. Perdarahan Spontan pada Gusi atau Hidung (Mimisan)
Perdarahan spontan, seperti mimisan yang tidak biasa atau gusi berdarah saat menyikat gigi, merupakan tanda bahaya yang perlu segera diwaspadai.
Apakah gusi berdarah bisa menandakan DBD parah? Ya, benar. Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah trombosit dalam darah menurun drastis, biasanya di bawah 100.000/µL. Akibatnya, pembuluh darah menjadi rapuh dan mudah pecah.
11. Muntah Berdarah atau Buang Air Besar Berwarna Hitam
Muntah berdarah atau buang air besar berwarna hitam adalah gejala DBD yang sangat serius dan merupakan kondisi darurat.
Muntah yang mengandung darah segar atau cairan berwarna hitam (seperti kopi), atau buang air besar berwarna hitam pekat (melena), mengindikasikan adanya perdarahan internal gastrointestinal yang masif, yang memerlukan transfusi darah dan penanganan intensif secepatnya.
12. Nyeri Perut Hebat di Ulu Hati
Nyeri perut yang sangat parah, terutama di perut kanan atas (ulu hati) akibat peradangan pada organ hati, adalah tanda-tanda demam berdarah mulai sembuh yang keliru.
Justru, jika demam sudah turun di Hari ke-4 hingga ke-6 dan gejala ini muncul, ini adalah fase kritis dengan risiko syok.
13. Tangan dan Kaki Terasa Dingin dan Lembap
Pada fase kritis, saat plasma bocor hebat, sirkulasi darah ke organ vital diutamakan, menyebabkan ekstremitas (tangan dan kaki) terasa dingin, lembap, dan kulit pucat. Ini adalah gejala awal Dengue Shock Syndrome (DSS).
14. Gelisah, Iritabel, atau Kehilangan Kesadaran
Perubahan perilaku seperti menjadi sangat gelisah, kebingungan, hingga penurunan kesadaran (lethargy) dapat menjadi indikasi komplikasi serius seperti asidosis metabolik atau keterlibatan otak, yang merupakan kondisi kritis pada kasus DBD parah.
15. Penurunan Trombosit dan Peningkatan Hematokrit (Konfirmasi Lab)
Meskipun tidak terlihat secara langsung, ciri khas DBD adalah penurunan jumlah trombosit (sel pembeku darah) di bawah batas normal, yaitu kurang dari 150.000/µL, serta peningkatan kadar Hematokrit (Hct).
Tanda bahwa demam berdarah mulai membaik dapat dilihat dari hasil pemeriksaan laboratorium, trombosit mulai naik secara stabil dan Hct kembali ke rentang normal.
Baca Juga: 12 Makanan Penyebab Tipes, Stop Jajan Sembarangan!
Cara Mencegah DBD
Mengingat risiko yang tinggi, upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) harus dilakukan secara konsisten di lingkungan Anda.
Berikut beberapa pencegahan DBD yang perlu Anda ketahui:
- Menguras: Bersihkan dan keringkan tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, atau wadah air lainnya, minimal seminggu sekali.
- Menutup: Tutup rapat semua tempat penyimpanan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur.
- Mendaur Ulang/Memanfaatkan: Singkirkan atau daur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng, botol, atau ban bekas.
- Plus Aksi Nyata Lainnya: Gunakan losion anti nyamuk, tidur menggunakan kelambu, menanam tanaman pengusir nyamuk, dan hindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah.
Baca Juga: Paracetamol – Manfaat, Jenis, Efek Samping & Dosis yang Disarankan
FAQ Seputar DBD
Bagian ini berisi kumpulan pertanyaan yang paling sering diajukan seputar Demam Berdarah Dengue (DBD), mulai dari gejala, cara penularan, hingga langkah pencegahannya.
Temukan jawabannya di bawah untuk membantu Anda lebih memahami penyakit ini dan cara mengatasinya dengan tepat.
1. Berapa Hari Gejala DBD Muncul Setelah Digigit Nyamuk?
Anda perlu tahu bahwa gejala DBD tidak muncul segera setelah gigitan. Gejala biasanya baru terlihat setelah masa inkubasi virus, yaitu sekitar 4 hingga 10 hari pasca gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi.
Jika Anda baru bepergian ke daerah endemis dan demam dalam rentang waktu ini, segera waspada dan lakukan pemeriksaan.
2. Apakah Semua Penderita DBD Mengalami Ruam Merah?
Tidak selalu. Meskipun ruam kulit (seperti bercak kemerahan atau petechiae) sering menjadi ciri khas, faktanya hanya sekitar 50-80% penderita yang mengalaminya.
Jika Anda tidak memiliki ruam tetapi mengalami demam tinggi mendadak dan nyeri otot, Anda tetap harus curiga terhadap DBD.
3. Kenapa DBD Menyebabkan Nyeri Otot Parah?
Nyeri otot yang sangat parah terjadi karena virus Dengue memicu respons imun yang menyebabkan peradangan hebat pada jaringan otot dan sendi.
Rasa sakit yang intens pada otot dan tulang ini disebut Mialgia dan Artlagia, yang merupakan manifestasi klinis utama dari penyakit yang dijuluki breakbone fever.
3. Apakah Muntah-muntah Termasuk Gejala DBD?
Ya, muntah-muntah adalah gejala yang umum terjadi. Hal ini disebabkan oleh iritasi langsung virus pada saluran cerna (gastrointestinal), yang sering disalahartikan sebagai gangguan pencernaan biasa.
Penting untuk diperhatikan, muntah berlebihan meningkatkan risiko dehidrasi berat, yang dapat memperburuk kondisi DBD Anda.
4. Apakah Demam Turun Berarti DBD Sudah Sembuh?
Sangat penting untuk memahami bahwa ini adalah mitos yang berbahaya. Penurunan demam pada hari ke-3 hingga ke-7 sering kali menjadi pertanda masuknya fase kritis, bukan sembuh.
Waspadalah jika demam turun tapi diikuti gejala seperti sakit perut, lemas ekstrem, dan tangan/kaki dingin. Tanda-tanda demam berdarah mulai sembuh yang sebenarnya terlihat ketika trombosit mulai naik dan kondisi klinis membaik.
5. Kapan Harus Opname Jika Kena DBD?
Rawat inap (opname) diperlukan ketika risiko komplikasi sudah tinggi. Kriteria umum adalah munculnya tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, perdarahan, hingga nyeri perut hebat.
Ketika Anda tidak bisa menjaga asupan cairan oral, atau hasil lab (penurunan trombosit disertai peningkatan Hematokrit), hal ini menunjukkan adanya kebocoran plasma yang signifikan.
Kapan Harus ke Dokter dan Dapatkan Penanganan Terbaik di Tzu Chi Hospital PIK?
Mengingat kompleksitas dan kecepatan progresivitas DBD, Anda harus selalu waspada dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam tinggi yang tidak jelas penyebabnya.
Sebagai bagian dari komitmen kami dalam pelayanan kesehatan yang berempati dan profesional, Tzu Chi Hospital PIK menyediakan fasilitas modern berupa vaksin demam berdarah agar orang dewasa maupun anak terhindar dari risiko DBD.
Jika kondisi Anda memerlukan perawatan lebih lanjut, Tzu Chi Hospital PIK juga dilengkapi dengan 576 tempat tidur rawat inap, mencakup kamar Super VIP, VVIP, VIP, hingga kelas 3.
Selain itu, kami juga memiliki unit perawatan khusus seperti ICU, HCU, NICU, dan ruang isolasi. Semua dirancang demi memberikan kenyamanan dan perawatan optimal selama masa pemulihan Anda.

Ruang Rawat Inap Kelas 1
Sebaiknya, jangan tunda langkah Anda untuk pulih. Tzu Chi Hospital PIK mempermudah akses kesehatan Anda, segera ambil langkah-langkah berikut:
- Kunjungi website kami dan klik menu Cari Dokter untuk menemukan jadwal dokter spesialis penyakit dalam yang terdekat dengan Anda.
- Harap lakukan medical check up rutin di Tzu Chi Hospital PIK untuk memantau kesehatan Anda secara menyeluruh.
Hubungi kami via WhatsApp sekarang untuk menjadwalkan janji temu dan konsultasi bersama dokter kami tanpa harus menunggu lama. Tzu Chi Hospital PIK siap mendampingi Anda menuju pemulihan yang optimal.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Cynthia, Sp.PD
Referensi:
BMC Pediatric. Clinical Spectrum and Predictors of Severity of Dengue Among Children in 2019 Outbreak: A Multicenter Hospital-Based Study in Bangladesh.
Portal Informasi Indonesia. Indonesia Targetkan Nol Kematian Dengue 2030 lewat Transformasi Sistem Kesehatan.
Oxford Academic. Persistence of Symptoms in Dengue Patients: a Clinical Cohort Study.
Topik





