Tindakan Medis & Terapi
Apa Itu Radioterapi? Cara Kerja, Prosedur, & Bedanya dengan Kemoterapi
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 10 Februari 2026

Radioterapi adalah metode pengobatan nonbedah yang menggunakan sinar berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker.
Perannya dalam dunia medis kian krusial. ScienceDirect bahkan memprediksi hingga 21,2 juta pasien akan membutuhkan terapi ini pada tahun 2050 seiring meningkatnya kasus kanker.
Meski efektif, wajar jika Anda merasa cemas mengenai keamanan dan efek sampingnya. Untuk menjawab keraguan tersebut, artikel ini akan mengupas tuntas prosedur, risiko, hingga manfaat radioterapi agar Anda dapat menjalani pengobatan dengan lebih tenang dan percaya diri.
Apa Itu Radioterapi?

Apa Itu Radioterapi?
Radioterapi adalah metode pengobatan kanker yang menggunakan sinar pengion berenergi tinggi seperti sinar-X atau partikel seperti elektron atau proton untuk merusak dan menghancurkan sel-sel kanker, menghambat pertumbuhannya, dan mencegah penyebaran penyakit.
Sel kanker memiliki kelemahan, yaitu pertumbuhannya yang cepat membuat struktur kromosom-nya lebih rentan terhadap kerusakan akibat radiasi. Terapi ini dapat berdiri sendiri (pengobatan tunggal) atau dikombinasikan.
Menurut IAEA/WHO, lebih dari 50% pasien kanker secara global membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari penanganan kanker.
Perbedaan Radioterapi dan Kemoterapi
Meskipun sama-sama menjadi bagian penting dalam pengobatan kanker, radioterapi dan kemoterapi sebenarnya bekerja dengan cara yang sangat berbeda.
Untuk memahami mana yang paling sesuai dengan kondisi tertentu, kamu perlu mengetahui perbedaan mendasar di antara keduanya.
Berikut adalah perbedaan radioterapi dan kemoterapi yang bisa Anda simak secara satu per satu.
1. Cara Kerja
Perbedaan radioterapi dan kemoterapi dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Radioterapi menggunakan radiasi berenergi tinggi yang diarahkan langsung ke area tertentu untuk menghancurkan atau merusak sel kanker.
- Kemoterapi bekerja melalui obat-obatan khusus yang masuk ke aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh untuk membunuh sel kanker, termasuk yang mungkin tidak terlihat melalui pemeriksaan pencitraan.
2. Tujuan Pengobatan
Setiap metode memiliki tujuan yang berbeda tergantung perkembangan penyakit dan strategi dokter dalam merencanakan terapi. Memahami tujuan ini membantu pasien mengetahui alasan di balik rekomendasi medis yang diberikan.
- Radioterapi bertujuan mematikan sel-sel kanker yang berada di area spesifik, sehingga pengobatan menjadi lebih presisi, mengecilkan tumor sebelum operasi, mencegah kekambuhan dengan mematikan sel-sel kanker yang tidak terlihat pencitraan, atau meredakan gejala kanker (nyeri, perdarahan) yang mengganggu.
- Kemoterapi memiliki cakupan lebih luas karena ditujukan untuk menghentikan pertumbuhan atau penyebaran sel kanker di seluruh tubuh.
3. Area Penanganan
Perbedaan berikutnya radioterapi dan kemoterapi adalah dapat dilihat dari seberapa luas area tubuh yang dapat dijangkau oleh terapi.
Setiap jenis kanker memiliki karakteristik lokasi yang berbeda, sehingga metode pengobatannya pun disesuaikan.
- Radioterapi bersifat lokal dan/atau regional, artinya hanya memengaruhi area tubuh yang terkena radiasi. Ini cocok untuk tumor yang masih terlokalisasi atau penyebaran sebatas kelenjar getah bening di sekitarnya.
- Kemoterapi bersifat sistemik karena obatnya mengalir ke seluruh tubuh, sehingga dapat mencapai sel kanker di berbagai lokasi, termasuk yang sudah menyebar jauh.
4. Durasi dan Jadwal Terapi
Cara pemberiannya pun berbeda sehingga memengaruhi jadwal terapi dan durasi keseluruhan pengobatan. Memahami pola ini membantu pasien mempersiapkan waktu dan kondisi fisik.
- Radioterapi umumnya diberikan beberapa kali per minggu (biasanya Senin sampai Jumat), diulang selama beberapa minggu, tergantung ukuran, lokasi, dan jenis tumor.
- Kemoterapi berlangsung dalam bentuk siklus, dengan jeda tertentu untuk memberi kesempatan tubuh pulih dari efek obat-obatan.
5. Efek Samping
Setiap terapi memiliki potensi efek samping, dan memahami hal ini sejak awal membantu pasien beradaptasi serta mempersiapkan langkah penanganannya bersama tim medis.
- Radioterapi biasanya menimbulkan efek samping lokal, seperti iritasi kulit, iritasi selaput pencernaan, atau perubahan pada area tubuh yang diradiasi.
- Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping sistemik seperti rambut rontok, mual, sariawan, atau penurunan sel darah karena memengaruhi sel-sel tubuh yang tumbuh cepat.
6. Kapan Digunakan
Akhirnya, pemilihan radioterapi atau kemoterapi akan sangat bergantung pada kondisi klinis pasien, jenis kanker, stadium, serta tujuan pengobatan. Memahami konteks penggunaan ini membuat pasien lebih siap menerima keputusan terapi.
- Radioterapi digunakan sebagai pengobatan utama kanker tertentu, untuk tumor lokal dan/atau regional, tumor yang tidak dapat dioperasi, persiapan sebelum operasi, kontrol setelah operasi, sebagai kombinasi untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan, atau untuk terapi paliatif guna meredakan gejala.
- Kemoterapi direkomendasikan untuk kanker yang sudah menyebar luas, kanker darah seperti leukemia atau limfoma, atau sebagai bagian dari terapi kombinasi untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Tujuan Radioterapi
Tujuan pemberian radioterapi selalu disesuaikan dengan kondisi pasien, dengan secara resmi dapat dikelompokkan menjadi dua kategori besar.
1. Tujuan Kuratif
Tujuan kuratif adalah menghilangkan atau mengecilkan kanker secara menyeluruh. Terapi ini dapat digunakan sebelum operasi (untuk menyusutkan tumor), setelah operasi (untuk membersihkan sisa sel kanker), atau sebagai pengobatan tunggal.
2. Tujuan Paliatif
Di sisi lain, tujuan paliatif adalah jenis tujuan yang dilakukan untuk mengurangi gejala, mengendalikan nyeri, dan secara substansial meningkatkan kualitas hidup pasien, terutama ketika kanker sudah stadium akhir.
Kanker Apa Saja yang Dapat Dilakukan Radioterapi?
Radioterapi merupakan salah satu metode pengobatan kanker yang paling banyak digunakan karena mampu menargetkan sel kanker secara presisi, baik sebagai terapi utama maupun sebagai bagian dari kombinasi pengobatan lainnya.
Namun banyak pasien dan keluarga masih bertanya-tanya, “Sebenarnya, kanker apa saja yang bisa diobati dengan radioterapi?”.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah berbagai jenis kanker yang umumnya dapat ditangani menggunakan radioterapi, baik di bagian kepala, tubuh, maupun organ-organ internal lainnya:
- Kanker Payudara
- Kanker Serviks
- Kanker Nasofaring
- Kanker Pita Suara
- Kanker Kepala dan Leher Lainnya
- Kanker Paru
- Kanker Kolorektal
- Kanker Kulit
- Kanker Prostat / Urogenital
- Kanker Hati
- Leukemia dan Limfoma
- Tumor Otak
- Kanker Jaringan Lunak
- Kanker dengan Metastasis (Penyebaran)
Cara Melakukan Radioterapi
Prinsip dasar radioterapi adalah menargetkan area tumor dengan akurasi maksimal. Dalam pelaksanaannya, pasien akan berbaring di atas meja tindakan yang nyaman di dalam ruang radioterapi, yaitu ruangan khusus yang dilengkapi pesawat radiasi modern.
Radiasi dari mesin (seperti LINAC) kemudian diaktifkan dan diarahkan ke tumor. Proses ini tidak menyakitkan dan pasien tidak merasakan panas.
- Penyinaran Tepat Sasaran: Sinar radiasi bekerja dengan menghancurkan DNA sel kanker.
- Merusak DNA Sel Kanker: Sel kanker yang DNA-nya rusak akan mati atau berhenti bertambah banyak. Proses ini disebut kerusakan langsung, yang mencakup 1/3 dari efek radiasi; sementara kerusakan tidak langsung terjadi dengan pembentukan radikal bebas di sekitar kanker dan butuh waktu sampai tiga bulan pasca radiasi agar sel kanker benar-benar secara optimal mati melalui kerusakan tidak langsung ini.
- Minimal Efek ke Sel Sehat: Berkat teknologi canggih, paparan radiasi ke jaringan sehat di sekitar tumor diminimalkan, yang berarti efek samping pun bisa lebih dikendalikan.
Prosedur Radioterapi
Untuk memastikan radiasi tepat sasaran, proses radioterapi melibatkan beberapa tahapan penting yang dilakukan dengan teliti oleh tim medis.
1. Pemeriksaan dan Konsultasi Awal
Anda akan bertemu dengan dokter spesialis onkologi radiasi yang akan menganalisis kondisi, jenis, dan stadium kanker Anda untuk menentukan dosis, frekuensi, serta teknik radiasi yang paling tepat.
2. Simulasi dan Pemindaian CT Simulator
Tahap ini sangat penting untuk perencanaan. Pasien akan menjalani CT simulator untuk mendapatkan citra tiga dimensi (3D) atau empat dimensi (4D) dari lokasi tumor.
Posisi tubuh Anda di meja akan ditentukan, dan alat bantu penahan posisi (seperti thermoplastic mask atau bantal khusus) akan digunakan untuk memastikan Anda selalu berada pada posisi yang sama saat terapi sebenarnya.
3. Perencanaan Pengobatan (Treatment Planning)
Setelah citra 3D/4D didapatkan, dokter dan fisikawan medis akan merencanakan penyinaran secara detail. Perencanaan ini memastikan dosis radiasi tinggi diterima oleh tumor, sementara dosis pada organ sehat di sekitarnya dipertahankan serendah mungkin.
4. Pelaksanaan Terapi
Selanjutnya, Anda akan dibawa ke ruang radioterapi, yaitu tempat mesin radiasi berada. Radiografer akan membantu Anda berbaring pada posisi yang sudah dipetakan.
Seluruh proses penyinaran diawasi ketat dari ruang kontrol, dan biasanya hanya memakan waktu sekitar 10 hingga 20 menit per sesi. Setelah selesai, pasien dapat langsung pulang dan melanjutkan aktivitas.
Metode Radioterapi
Teknologi modern memungkinkan dokter memilih metode yang paling sesuai dengan karakteristik tumor Anda, menjamin presisi tinggi dalam pengobatan.
Tzu Chi Hospital PIK, misalnya, menggunakan pesawat radiasi berteknologi tinggi Linear Accelerator (LINAC) VERSA HD yang mampu menjalankan berbagai teknik presisi mutakhir dan dilengkapi fitur 4D serta Active Breathing Coordinator (ABC).
Fitur ABC ini sangat penting untuk ketepatan radiasi pada organ yang bergerak (seperti paru-paru maupun payudara), memastikan dosis dan target radiasi memiliki akurasi tinggi sambil menjaga keamanan organ sehat.
Berikut adalah metode radioterapi yang kerap digunakan di banyak rumah sakit.
1. 3D Conformal Radiation Therapy (3D-CRT)
Teknik radiasi 3D Conformal Radiation Therapy yang menggunakan citra 3D dari tumor, digunakan untuk membentuk pancaran radiasi agar sesuai dengan bentuk tumor. Teknik ini mengurangi paparan ke jaringan sehat dibandingkan teknik konvensional.
2. Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT)
Teknik Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) yang memungkinkan dokter memvariasikan intensitas radiasi di dalam pancaran, sehingga dosis dapat ditingkatkan pada tumor dan diminimalkan pada organ sensitif.
3. Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT)
Teknik terapi Volumetric Modulated Arc Therapy (VMAT) terbilang sangat efisien karena mesin pemancar berputar akan mengelilingi pasien selama penyinaran, menargetkan tumor secara akurat dari banyak sudut, sekaligus mempersingkat durasi terapi.
4. Stereotactic Radiosurgery (SRS)
Stereotactic Radiosurgery (SRS) adalah teknik radioterapi dengan presisi sangat tinggi yang memberikan satu dosis besar radiasi secara langsung ke area target di otak.
Meski disebut radiosurgery, prosedur ini tidak melibatkan pembedahan fisik, melainkan menggunakan pemetaan tiga dimensi untuk menargetkan tumor atau kelainan otak dengan akurasi sub-milimeter.
SRS umumnya digunakan untuk menangani:
- Tumor otak berukuran kecil hingga sedang
- Metastasis otak
- Neuroma akustik
- AVM (Arteriovenous Malformations)
- Beberapa gangguan saraf, seperti trigeminal neuralgia
Keunggulan utamanya adalah waktu terapi yang singkat dan kerusakan minimal pada jaringan sehat di sekitarnya.
LINAC VERSA HD mendukung teknik ini dengan sistem pemetaan real-time dan kemampuan fokus radiasi yang sangat akurat.
5. Stereotactic Radiotherapy (SRT)
Stereotactic Radiotherapy (SRT) memiliki prinsip yang mirip dengan SRS, namun terapi diberikan dalam beberapa sesi (fraksi) alih-alih satu kali dosis besar.
Pendekatan bertahap ini membantu meningkatkan keamanan, terutama untuk tumor yang dekat dengan struktur sensitif di otak.
SRT biasanya direkomendasikan untuk:
- Tumor otak yang berukuran lebih besar
- Lesi yang lokasinya dekat batang otak, saraf optik, atau jaringan kritis lainnya
- Kondisi di mana pemberian dosis tunggal terlalu berisiko
Dengan membagi dosis radiasi, SRT membantu meminimalkan efek samping, sambil tetap memberikan intensitas radiasi yang optimal.
LINAC VERSA HD mendukung teknologi ini melalui kemampuan fraksionasi presisi tinggi dan kontrol dosis yang stabil.
6. Stereotactic Body Radiation Therapy (SBRT)
Stereotactic Body Radiation Therapy (SBRT) atau SABR adalah teknik radiasi berpresisi tinggi yang ditujukan untuk tumor padat di luar area kepala.
Berbeda dari radioterapi konvensional yang bisa berlangsung puluhan sesi, SBRT mampu memberikan dosis sangat tinggi dalam beberapa sesi saja, biasanya 1–5 kali.
SBRT sering digunakan untuk mengobati tumor di:
- Paru-paru
- Hati
- Pankreas
- Tulang belakang
- Kelenjar adrenal
- Prostat (kasus tertentu)
Teknik ini mampu “mengunci” target yang bergerak, misalnya tumor paru yang ikut bergerak saat pasien bernapas, dengan bantuan sistem tracking dan imobilisasi canggih.
LINAC VERSA HD sangat optimal untuk SBRT karena didesain khusus untuk menghadirkan radiasi dosis tinggi dengan durasi per sesi yang lebih cepat dan akurasi tinggi.
Jenis Radioterapi
Secara umum, terapi radiasi dibagi berdasarkan bagaimana radiasi diberikan kepada tubuh. Berikut tiga jenis radioterapi yang perlu Anda ketahui:
1. Radioterapi Eksternal
Radioterapi eksternal adalah jenis terapi yang paling umum, menggunakan mesin dari luar tubuh untuk memancarkan radiasi ke area kanker.
Pesawat radiasi LINAC modern yang digunakan di Tzu Chi Hospital PIK adalah contoh teknologi yang digunakan dalam radioterapi eksternal.
2. Radioterapi Internal (Brakiterapi)
Radioterapi internal adalah jenis terapi yang dilakukan dengan menempatkan sumber radiasi padat (berupa biji atau kapsul radioaktif) secara langsung ke dalam tubuh, dekat dengan lokasi tumor.
3. Radioterapi Sistemik
Radioterapi sistemik biasanya menggunakan materi cair radioaktif yang disuntikkan atau diminum.
Cairan ini akan mengalir dalam darah dan mencari sel kanker, biasanya digunakan untuk jenis kanker tertentu seperti kanker tiroid.
Baca Juga: 10 Rumah Sakit Kanker Terbaik di Indonesia
Efek Samping Radioterapi
Dengan teknologi mutakhir, radiasi akan langsung mengarah pada sel kanker dan menghindari sel-sel sehat di sekitarnya, membuat efek samping dapat diminimalkan. Namun, beberapa keluhan tetap mungkin terjadi.
Berikut beberapa efek samping radioterapi:
- Kelelahan (Fatigue): Pasien mungkin merasa sangat lelah selama dan beberapa saat setelah terapi, yang merupakan respons tubuh terhadap proses penyembuhan.
- Perubahan Kulit Lokal: Kulit di area yang diradiasi dapat menjadi kemerahan, kering, atau gatal, mirip seperti terbakar matahari.
- Rambut Rontok Lokal: Terjadi hanya di area tubuh yang terkena paparan radiasi.
- Mual dan Muntah: Umumnya terjadi jika area perut atau kepala yang diradiasi, namun dokter dapat memberikan obat anti-mual yang efektif.
- Diare: Dapat terjadi jika radiasi ditargetkan ke area panggul atau perut bagian bawah.
Baca Juga: Onkologi (Ilmu Kanker): Jenis, Peran & Kapan Harus Konsultasi?
Kapan Harus ke Dokter?
Layanan Radioterapi di Tzu Chi Hospital PIK
Perjalanan Anda dalam melawan kanker harus didampingi oleh profesional yang tepat. Jika Anda baru didiagnosis, mencari opini kedua, atau ingin memastikan pengobatan yang Anda jalani menggunakan teknologi paling akurat, jangan tunda untuk berkonsultasi.
Radioterapi adalah jurnal pengobatan yang harus ditulis dengan perencanaan yang matang dan teknologi yang terpercaya.
Kami percaya bahwa kualitas pengobatan harus menjadi pertimbangan utama di atas biaya radioterapi. Di Tzu Chi Hospital, komitmen kami adalah memberikan layanan radioterapi yang aman, tepat, dan penuh perhatian, dengan fokus pada keselamatan pasien serta kenyamanan selama proses terapi.
Standar Keselamatan Terbaik
Pada tahun 2024, Instalasi Radioterapi Tzu Chi Hospital meraih penghargaan tertinggi dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) atas standar Keselamatan dan Keamanan Pemanfaatan Sumber Radiasi.
Testimoni Pasien:
“Sejak saya melahirkan anak kedua, satu bulan kemudian ketika periksa saya sudah ada mioma... Setelah itu periksa rutin sampai dengan 5 bulan kemudian, akhirnya ditemukan adanya kanker. Saat menjalani pengobatan di Tzu Chi Hospital, saya merasakan komunikasi yang informatif, jelas, dan menenangkan. Tim medis menjelaskan dengan sabar dan detail sehingga saya merasa lebih percaya diri menjalani terapi radiasi. Pelayanannya sangat baik dan penuh perhatian.” — Joyce, Pasien Radioterapi
Tim Dokter Spesialis Onkologi Radiasi
Meskipun jurusan radioterapi adalah bidang yang sangat teknis, tim spesialis kami terdiri dari dokter-dokter berpengalaman yang siap mendampingi pasien dengan pendekatan holistik dan penuh empati:
- Dr. Defrizal, Sp.Onk.Rad (K): Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Konsultan
- Dr. Fenny Gozal, Sp.Onk.Rad, M.A.R.S: Dokter Spesialis Onkologi Radiasi
- Dr. Andre Prawira Putra, Sp.Onk.Rad, M.P.H: Dokter Spesialis Onkologi Radiasi
Mulai hari ini, yuk ambil langkah proaktif untuk kesehatan Anda bersama Tzu Chi Hospital PIK
- Mulailah mencari dokter spesialis yang tepat dengan klik fitur Cari Dokter di website Tzu Chi Hospital.
- Segera jadwalkan medical check-up rutin Anda untuk deteksi dini.
Untuk menjadwalkan konsultasi dan janji temu dengan tim onkologi radiasi kami, silakan hubungi kami via WhatsApp untuk mendapatkan info lebih lanjut.
Artikel ini telah ditinjau oleh Dr. Andre Prawira Putra, Sp.Onk.Rad, M.P.H.
Referensi:
IAEA/WHO. New WHO/IAEA Publication Provides Guidance on Radiotherapy Equipment to Fight Cancer.
IAEA. RADIOTHERAPY IN CANCER CARE: FACING THE GLOBAL CHALLENGE.
ScienceDirect. Global Radiotherapy Demands and Corresponding Radiotherapy-Professional Workforce Requirements in 2022 and Predicted to 2050: A Population-Based Study.





