Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit

Prolaps Uteri (Turun Berok) - Gejala, Penyebab, & Cara Mengatasinya

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi08 Januari 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Prolaps uteri adalah kondisi ketika rahim turun dari posisi normalnya ke arah atau bahkan keluar dari vagina akibat melemahnya otot dan jaringan penyangga panggul.

Banyak wanita merasa cemas atau malu saat merasakan gejala seperti rasa berat di panggul, nyeri, atau adanya benjolan yang keluar dari vagina. Padahal, kondisi ini cukup umum dan dapat diatasi dengan penanganan medis yang tepat.

Berdasarkan data dari Women’s Health Initiative (WHI) di AS, untuk wanita dengan rahim, prevalensi prolaps uteri adalah 14,2%.

Jika Anda pernah mengalami keluhan serupa atau ingin memahami penyebab, gejala, dan cara mengatasinya, simak penjelasan lengkap tentang prolaps uteri berikut ini hingga akhir.

Apa Itu Prolaps Uteri

Ilustrasi prolaps uteri, menunjukkan rahim yang turun dari posisi normal ke dalam vagina

Prolaps uteri yang dikenal juga sebagai "turun berok" atau turun peranakan, adalah kondisi di mana rahim merosot turun ke dalam atau bahkan menonjol keluar dari vagina. Ini terjadi ketika otot-otot, ligamen, dan jaringan ikat di dasar panggul yang berfungsi sebagai penyangga rahim menjadi lemah dan meregang.

Kondisi prolaps uteri bisa berbeda pada setiap wanita tergantung seberapa jauh rahim turun dari posisi normalnya. Secara medis, tingkat keparahan ini dibagi menjadi beberapa derajat berikut:

  • Stadium 1: Rahim turun sebagian tapi masih di dalam vagina.
  • Stadium 2: Rahim turun hingga mendekati lubang vagina.
  • Stadium 3: Rahim sudah tampak keluar dari lubang vagina.
  • Stadium 4 (total prolaps): Rahim keluar seluruhnya dari vagina.

Gejala Prolaps Uteri

Meskipun pada tahap awal (Stadium I), prolaps uteri sering kali tidak bergejala, Anda perlu mewaspadai berbagai tanda yang muncul ketika kondisi ini mulai memburuk. Gejala-gejala ini dapat memengaruhi kenyamanan fisik, fungsi kandung kemih, hingga aktivitas seksual Anda.

Sebuah artikel review global menyebut bahwa prevalensi prolaps rahim (uterine prolapse) berdasarkan gejala dilaporkan sekitar 3–6%, sedangkan jika berdasarkan pemeriksaan klinik bisa mencapai 41–50%

Berikut adalah gejala-gejala umum yang mungkin Anda rasakan:

1. Perasaan Mengganjal atau Berat di Area Panggul

Rasa ini sering digambarkan seperti sedang menduduki bola kecil atau seperti ada tekanan ke bawah. Ini adalah tanda fisik utama ketika organ rahim Anda mulai bergeser dari posisi normalnya dan menekan dasar panggul.

2. Nyeri pada Panggul, Perut Bagian Bawah, atau Punggung

nyeri pada panggul

Ilustrasi nyeri pada panggul

Nyeri ini muncul karena otot dan ligamen di area panggul dipaksa menahan beban rahim yang turun. Rasa nyeri ini bisa memburuk setelah Anda berdiri dalam waktu lama atau di penghujung hari yang sibuk.

3. Jaringan Rahim Terasa atau Terlihat Menjuntai Keluar dari Vagina

Ini terjadi pada prolaps stadium yang lebih lanjut (Stadium III dan IV). Anda mungkin melihat adanya tonjolan jaringan yang keluar, dan ini bisa sangat mengganggu kenyamanan dan kebersihan sehari-hari.

4. Nyeri atau Sakit Saat Berhubungan Intim

Dikenal sebagai dispareunia, kondisi ini dapat terjadi karena perubahan posisi rahim dan jaringan vagina yang menonjol. Hal ini dapat mengurangi kualitas hubungan seksual dan memerlukan perhatian medis segera.

5. Sulit Buang Air Kecil (Retensi Urine)

Prolaps uteri dapat menekan kandung kemih (sistokel), sehingga menyebabkan saluran kemih tertekuk. Akibatnya, Anda mungkin merasa sulit memulai buang air kecil atau tidak bisa mengosongkan kandung kemih sepenuhnya.

6. Tidak Dapat Menahan Buang Air Kecil (Inkontinensia Urine)

Sebaliknya dari retensi, tekanan rahim yang turun dapat melemahkan sfingter uretra, membuat Anda kehilangan kontrol saat tertawa, batuk, atau berolahraga berat.

7. Buang Air Kecil Terasa Tidak Tuntas

Meski sudah buang air kecil, sensasi masih ada sisa urine sering muncul. Hal ini dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih berulang karena adanya sisa urine (residual urine) di kandung kemih.

8. Sulit Buang Air Besar (Konstipasi Kronik)

Prolaps uteri yang melibatkan dinding belakang vagina (rektokel) dapat menyebabkan kesulitan buang air besar. Feses akan terperangkap di tonjolan ini, menyebabkan Anda harus mengejan sangat keras, yang justru memperburuk kondisi prolaps.

9. Merasa Tidak Tuntas Setelah Buang Air Besar

Sama seperti pada buang air kecil, rektokel dapat mencegah pengosongan usus yang sempurna, menimbulkan rasa tidak nyaman dan dorongan untuk buang air besar lagi.

Apakah Prolaps Uteri Dapat Menyebabkan Masalah Buang Air Besar? Ya, Prolaps uteri dapat menekan organ di dekatnya, seperti rektum, sehingga menyebabkan gangguan buang air besar (sembelit hingga harus dibantu dengan jari).

Kondisi ini sangat sering terjadi. Prolaps tidak hanya memengaruhi rahim, tapi seluruh organ panggul. Dalam kasus parah, Anda mungkin merasa perlu menekan area vagina saat buang air besar agar usus dapat kosong.

Penyebab Prolaps Uteri

Penting untuk dipahami bahwa penyebab prolaps uteri biasanya berawal pada satu masalah utama, yaitu melemahnya struktur penopang panggul Anda.

Namun, pelemahan ini didorong oleh berbagai faktor risiko dan peristiwa hidup yang meningkatkan tekanan di area panggul.

1. Kehamilan dan Persalinan Normal

Proses persalinan, terutama persalinan normal melalui vagina, memberikan tekanan dan regangan maksimal pada otot-otot dasar panggul. Semakin sering Anda melahirkan normal, semakin besar risiko pelemahan yang berujung pada terjadinya prolaps uteri.

Baca Juga: 5 Cara Menghitung Usia Kehamilan Akurat, Plus Tabel Usia Kehamilan

2. Proses Persalinan yang Sulit atau Melahirkan Bayi Besar

Penggunaan alat bantu (seperti vakum atau forceps) atau persalinan yang berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan yang lebih signifikan pada jaringan penyangga panggul, yang secara langsung meningkatkan risiko prolaps uteri.

Baca Juga: 10 Rumah Sakit Bersalin Terdekat 24 Jam & Fasilitas Lengkap

3. Cedera Otot Panggul Saat Melahirkan

Cedera langsung pada otot atau saraf panggul selama persalinan dapat mengakibatkan hilangnya kekuatan otot secara permanen, yang mendasari terjadinya prolaps uteri di kemudian hari.

4. Penurunan Hormon Estrogen Setelah Menopause

Estrogen menjaga elastisitas dan kekuatan otot serta jaringan panggul. Setelah menopause, kadar estrogen menurun drastis, menyebabkan jaringan menjadi lebih tipis dan lemah, sehingga rahim Anda lebih rentan terhadap prolaps uteri.

5. Kebiasaan Mengejan Keras Akibat Sembelit Kronis

Tekanan intra-abdomen yang berulang akibat mengejan saat buang air besar akan mendorong organ-organ panggul ke bawah. Tekanan kronis ini adalah faktor pemicu yang sering terabaikan dalam perkembangan prolaps uteri.

6. Batuk Kronis (Asma atau Merokok)

Sama seperti mengejan, batuk kronis meningkatkan tekanan di dalam perut secara berulang-ulang, yang secara bertahap melemahkan dasar panggul dari waktu ke waktu, sehingga berpotensi menyebabkan prolaps uteri.

Baca Juga: Mengulik Manfaat Olahraga untuk Penderita Asma

7. Sering Mengangkat Beban yang Terlalu Berat

Aktivitas yang memerlukan pengerahan tenaga besar, seperti mengangkat beban berat, memberikan tekanan ke bawah yang konstan pada otot panggul, mempercepat pelemahan jaringan penyangga dan terjadinya prolaps uteri.

Diagnosis Prolaps Uteri

Jika Anda mengalami gejala yang mencurigakan, segera temui dokter spesialis kandungan. Proses pemeriksaan prolaps uteri akan dilakukan secara sistematis untuk memastikan kondisi Anda, menyingkirkan kemungkinan penyakit lain, dan menentukan tingkat keparahan prolaps.

Dalam hal ini, proses diagnosis prolaps uteri pada umumnya meliputi:

1. Wawancara Keluhan dan Riwayat Kesehatan

Dokter akan menanyakan detail gejala Anda, termasuk frekuensi, tingkat keparahan, dan riwayat persalinan atau operasi sebelumnya. Informasi ini sangat penting untuk menilai tingkat risiko dan menentukan stadium awal.

2. Pemeriksaan Panggul (Pelvic Examination)

Dokter akan melakukan pemeriksaan dalam. Anda mungkin diminta berbaring telentang dan kemudian diminta mengejan seperti saat buang air besar atau batuk. Tujuannya untuk melihat sejauh mana rahim atau organ lain turun saat ada tekanan.

Baca Juga: 11 Ciri-Ciri Janin Masuk Panggul, Tanda Persalinan Mendekat!

3. Pemeriksaan Pencitraan Lanjut

  • Ultrasonografi (USG): Digunakan untuk memvisualisasikan organ panggul dan memastikan gejala yang dialami bukan karena penyakit lain (misalnya miom atau kista).
  • MRI (Magnetic Resonance Imaging): Dilakukan jika prolaps melibatkan lebih dari satu organ dan dokter ingin melihat gambaran yang sangat detail mengenai struktur jaringan ikat di panggul Anda.

Faktor dan Risiko Prolaps Uteri

Sebagai langkah awal, Anda perlu tahu bahwa ada beberapa kondisi dan gaya hidup yang dapat secara signifikan meningkatkan risiko prolaps uteri. Mengenali faktor-faktor ini adalah langkah awal pencegahan proaktif.

Risiko prolaps uteri di antaranya:

  • Melahirkan normal satu kali atau lebih melalui vagina.
  • Melahirkan bayi dengan berat badan berlebih atau bayi besar.
  • Penuaan dan melemahnya otot panggul seiring bertambahnya usia.
  • Melemahnya jaringan setelah menopause dan hilangnya hormon estrogen.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan.
  • Pernah menjalani operasi panggul sebelumnya.
  • Konstipasi kronis atau kebiasaan mengejan keras.
  • Adanya kondisi yang menyebabkan peningkatan tekanan pada perut, seperti asma atau bronkitis.
  • Kebiasaan merokok.
  • Riwayat keluarga dengan jaringan ikat lemah.
  • Faktor ras, seperti kulit putih atau keturunan Amerika Latin.

Cara Mengatasi Prolaps Uteri

Cara mengobati prolaps uteri disesuaikan dengan tingkat keparahannya. Untuk kasus ringan, dokter mungkin akan menyarankan tindakan konservatif (non-bedah). Namun, jika kondisi sudah parah, intervensi medis seperti operasi prolaps uteri menjadi pilihan yang paling efektif.

Berikut beberapa cara mengatasi prolaps uteri yang umum direkomendasikan dokter:

1. Senam Kegel

Senam kegel adalah latihan untuk memperkuat otot dasar panggul. Latihan ini sangat berguna pada kasus prolaps ringan, terutama yang baru terjadi pasca persalinan.

Latihan ini sangat disarankan untuk:

  • Kasus prolaps ringan (derajat 1–2).
  • Wanita pasca melahirkan atau yang mengalami menopause awal.
  • Pencegahan agar prolaps tidak semakin memburuk.

Tips singkat:

Lakukan 3 set latihan per hari, masing-masing 10–15 kali kontraksi, dengan durasi tahan 5–10 detik setiap kali.

2. Pemasangan Ring Pessarium

Ring pessarium adalah alat berbentuk cincin atau kubah dari karet medis atau silikon yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menopang rahim agar tetap di posisi normal.

Metode pemasangan ring pessarium ini cocok untuk:

  • Pasien yang tidak ingin atau belum siap menjalani operasi.
  • Lansia atau pasien dengan kondisi medis tertentu yang berisiko tinggi untuk pembedahan.

Beberapa catatan penting:

  • Harus dipasang dan dilepas oleh tenaga medis.
  • Perlu dibersihkan secara berkala (1–2 minggu sekali) untuk mencegah infeksi atau iritasi vagina.
  • Pemeriksaan kontrol rutin diperlukan untuk menyesuaikan ukuran pessarium.

3. Modifikasi Gaya Hidup

Modifikasi gaya hidup seperti mengelola berat badan agar tetap ideal dan meningkatkan asupan serat serta cairan untuk mencegah konstipasi kronis yang menyebabkan sering mengejan.

Apakah prolaps rektum bisa sembuh sendiri? Prolaps organ panggul umumnya tidak dapat sembuh sepenuhnya tanpa intervensi medis, meskipun gejala ringan dapat membaik dengan modifikasi gaya hidup dan latihan kegel.

Langkah-langkah yang disarankan antara lain:

  • Menjaga berat badan ideal, karena obesitas memberi tekanan ekstra pada otot panggul.
  • Konsumsi makanan tinggi serat dan cukup cairan untuk mencegah sembelit kronis.
  • Hindari mengangkat beban berat dan batuk kronis (dengan mengobati penyebabnya seperti asma atau bronkitis).
  • Rutin melakukan latihan Kegel sebagai pendamping.

4. Operasi Prolaps Uteri

Jika kondisi sudah berat (derajat 3–4) atau terapi konservatif tidak lagi efektif, maka operasi prolaps uteri menjadi pilihan terbaik.

Dalam hal ini, berikut adalah dua jenis utama tindakan bedah prolaps uteri yang sering kali dilakukan:

a. Operasi Perbaikan Posisi Rahim (Uterine Suspension atau Uterine Repair)

  • Tujuannya untuk memperkuat kembali otot dan ligamen penopang rahim.
  • Dapat dilakukan melalui vagina atau laparoskopi (sayatan kecil di perut).
  • Biasanya dipilih jika pasien masih ingin mempertahankan rahim untuk alasan reproduksi.

b. Histerektomi (Pengangkatan Rahim)

  • Dilakukan bila prolaps sangat parah atau jaringan penopang sudah terlalu lemah untuk diperbaiki.
  • Cocok untuk pasien yang tidak berencana hamil lagi.
  • Setelah operasi, pasien memerlukan waktu pemulihan 4–6 minggu dan pengawasan medis rutin.

Pencegahan Prolaps Uteri

Tak bisa dimungkiri, pencegahan adalah investasi terbaik bagi kesehatan Anda. Dengan mengambil tindakan proaktif, Anda dapat meminimalkan risiko terkena prolaps uteri, atau mencegah kondisi yang sudah ada menjadi semakin parah.

Beberapa pencegahan prolaps uteri yang dimaksud yaitu:

1. Rutin Melakukan Senam Kegel

Latihan sederhana ini dapat dilakukan di mana saja. Mengencangkan dan merilekskan otot panggul secara teratur adalah cara paling efektif untuk menjaga kekuatan dasar panggul Anda, terutama setelah melahirkan, dan mencegah prolaps uteri.

2. Menjaga Berat Badan Ideal

Kelebihan berat badan memberikan tekanan ekstra yang konstan pada otot panggul. Menjaga BMI dalam batas normal adalah langkah pencegahan yang sangat penting untuk mengurangi beban pada dasar panggul dan mencegah prolaps uteri.

3. Konsumsi Serat dan Cairan untuk Mencegah Sembelit

Pola makan kaya serat dan asupan cairan yang cukup akan melunakkan feses, mengurangi kebutuhan Anda untuk mengejan saat buang air besar. Dengan demikian, Anda meminimalkan tekanan pada panggul yang merupakan faktor pemicu prolaps uteri.

4. Tidak Merokok

Merokok dapat menyebabkan batuk kronis, yang menciptakan tekanan intra-abdomen berulang, dan ini merupakan faktor risiko utama. Berhenti merokok adalah langkah penting dalam pencegahan prolaps uteri.

5. Hindari Mengangkat Beban Berat

Aktivitas yang memerlukan pengerahan tenaga besar, seperti mengangkat beban berat, memberikan tekanan langsung ke bawah pada otot panggul. Menggunakan teknik yang benar dan membatasi angkatan berat adalah cara efektif untuk mencegah prolaps uteri.

Kapan Anda Harus ke Dokter?

Jangan tunda untuk mencari bantuan profesional jika gejala prolaps uteri yang Anda rasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan.

Bentuk diagnosis dini dan cara mengatasi prolaps uteri yang tepat sangat krusial untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup Anda.

Tzu Chi Hospital PIK memiliki tim spesialis kebidanan dan kandungan yang berpengalaman, siap memberikan pelayanan komprehensif mulai dari diagnosis akurat hingga penanganan terbaik untuk kondisi prolaps uteri Anda.

Jangan biarkan kekhawatiran mengganggu produktivitas Anda. Segera ambil langkah untuk kesehatan optimal!

 

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Christian, Sp.OG

 

Referensi:

PubMed Central. Pelvic Organ Prolapse in the Women's Health Initiative: Gravity and Gravidity.

PubMed Central. Uterine Prolapse Across the Female Lifespan: Clinical Insights and Practical Considerations from Greece.


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS