Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
Demam - Gejala, Penyebab, & Pengobatan yang Efektif
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 30 Januari 2026

Demam adalah respon alami tubuh yang esensial, didefinisikan secara medis sebagai peningkatan suhu tubuh di atas batas normal, umumnya di atas 37,5°C pada pengukuran oral atau aksila, akibat peningkatan set point termoregulasi di hipotalamus.
Kondisi ini bukanlah penyakit, melainkan sebuah gejala utama yang mengindikasikan bahwa sistem kekebalan tubuh Anda sedang aktif memerangi ancaman, seperti infeksi virus, bakteri, atau kondisi peradangan lainnya.
Memahami sifat demam secara mendalam sangat krusial bagi Anda agar dapat mengambil langkah penanganan yang tepat dan cepat, demi meminimalkan risiko komplikasi yang tidak terduga.
Lantas, seperti apa gejala, penyebab, dan cara mengobati demam yang perlu Anda ketahui, simak caranya di bawah ini!
Apa Itu Demam

Ilustrasi Demam di Orang Dewasa
Menurut para ahli, demam terjadi ketika zat yang disebut pirogen, baik pirogen eksogen dari luar tubuh seperti mikroorganisme maupun pirogen endogen yang dilepaskan sel kekebalan tubuh, memicu pelepasan prostaglandin di hipotalamus.
Meskipun demam telah didefinisikan secara umum di awal, penting bagi Anda untuk memahami nuansa klinis dan klasifikasinya. Demam pada dasarnya adalah sinyal biologis atau alarm yang membunyikan peringatan bahwa ada pertempuran internal yang sedang berlangsung.
Berikut adalah poin ringkas yang perlu Anda ketahui:
- Bukan Penyakit: Demam hanyalah manifestasi atau gejala dari suatu kondisi mendasar, bukan penyakit itu sendiri.
- Mekanisme Pertahanan: Suhu tubuh yang lebih tinggi diperkirakan dapat menghambat replikasi beberapa virus dan bakteri, sekaligus meningkatkan efektivitas sel-sel kekebalan.
- Ambang Batas Klinis: Demam sering didefinisikan sebagai suhu rektal ≥ 38,0°C atau suhu oral ≥ 37,8°C, meskipun suhu aksila ≥ 37,2°C sudah dipertimbangkan.
Penyebab Demam
Penyebab demam sangat bervariasi, dan sangat penting untuk mengidentifikasi pemicu spesifiknya karena ini akan menentukan arah pengobatan.
Sebuah studi menemukan bahwa prevalensi demam di antara anak‑anak usia 6‑23 bulan di Indonesia adalah 37,8% Khususnya, penyebab demam tiba-tiba pada orang dewasa sering kali lebih kompleks daripada hanya infeksi ringan.
Berikut adalah penyebab demam yang perlu Anda ketahui:
Infeksi adalah penyebab demam yang paling umum dan sering dialami. Kenaikan suhu terjadi saat tubuh menghadapi patogen (bakteri, virus, jamur, atau parasit) dan meningkatkan pertahanan.
- Infeksi Virus: Termasuk yang paling sering, seperti flu (influenza), pilek (common cold), COVID-19, atau demam berdarah. Infeksi virus cenderung memiliki pola demam yang dapat turun-naik (remiten atau intermiten).
- Infeksi Bakteri: Seperti pneumonia (radang paru), infeksi saluran kemih (ISK), atau tifus. Infeksi bakteri sering menyebabkan demam tinggi dan berkelanjutan (kontinyu atau septic).
- Infeksi Parasit/Jamur: Misalnya malaria atau kandidiasis sistemik, yang sering dikaitkan dengan riwayat perjalanan ke daerah endemik.
Tidak semua demam disebabkan oleh infeksi. Demam tiba-tiba pada orang dewasa juga bisa dipicu oleh kondisi non-infeksi yang memerlukan penanganan berbeda.
- Gangguan Autoimun: Penyakit seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) atau Rheumatoid Arthritis dapat menyebabkan peradangan kronis dan demam sebagai bagian dari gejalanya.
- Reaksi Obat (Drug Fever): Beberapa jenis obat, seperti antibiotik, antikonvulsan, atau obat jantung tertentu, dapat memicu demam sebagai efek samping atau reaksi hipersensitivitas.
- Keganasan (Kanker): Beberapa jenis kanker, terutama limfoma dan leukemia, dapat menyebabkan demam sebagai manifestasi paraneoplastik.
- Stres Berat atau Psychogenic Fever: Dalam kasus yang lebih jarang, stres emosional berat dapat memicu demam ringan, meskipun mekanisme ini masih dalam penelitian.
Gejala Demam
Gejala demam juga tidak hanya terbatas pada peningkatan suhu, tetapi juga mencakup serangkaian gejala sistemik yang bervariasi tergantung pada penyebab dasarnya. Mengenali sakit demam dengan gejalanya membantu Anda dan dokter dalam mengarahkan diagnosis.
Peningkatan suhu tubuh dapat memicu berbagai respons fisik yang merupakan upaya tubuh untuk menyesuaikan diri dengan set point hipotalamus yang baru.
Beberapa gejala demam yang sering terjadi yaitu:
- Suhu Tubuh Tinggi: Merupakan indikator utama. Pada orang dewasa, suhu di atas 38,0°C umumnya dianggap demam.
- Menggigil dan Meriang: Cara demam mendadak dimulai berupa sensasi dingin ini terjadi ketika tubuh mencoba meningkatkan produksi panas untuk mencapai suhu target yang lebih tinggi.
- Kulit Kemerahan (Flushing) dan Hangat: Setelah demam mencapai puncaknya, pembuluh darah melebar (vasodilatasi) dan tubuh mulai berkeringat sebagai upaya untuk menurunkan suhu.
Gejala-gejala lain yang menyertai demam sangat penting untuk membedakan antara infeksi ringan dan kondisi serius.
- Nyeri Otot (Mialgia) dan Kelelahan Parah: Umum terjadi, terutama pada infeksi virus seperti influenza.
- Sakit Kepala Hebat dan Kaku Leher: Ini adalah ciri-ciri demam yang mengkhawatirkan dan bisa mengarah pada kondisi serius seperti meningitis.
- Ruam Kulit: Kehadiran ruam dengan demam mengindikasikan infeksi tertentu (misalnya, Roseola, campak, atau demam berdarah).
- Gangguan Gastrointestinal: Muntah dan diare yang menyertai demam sering dikaitkan dengan gastroenteritis atau demam tifoid.
Diagnosis Demam
Diagnosis demam memerlukan pendekatan analitis dan sistematis untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasari, bukan hanya fokus pada penurunan suhu.
Dokter akan memulai proses diagnosis dengan mengukur suhu tubuh Anda menggunakan termometer, diikuti dengan sesi tanya jawab mendalam (anamnesis) dan, jika perlu, serangkaian pemeriksaan penunjang.
Diagnosis seperti ini adalah langkah krusial untuk menentukan apakah sakit demam yang Anda alami merupakan kasus ringan atau manifestasi dari kondisi yang lebih serius.
Berikut adalah diagnosis demam yang sering dilakukan:
- Gejala dan Durasi: Mengetahui gejala penyerta (misalnya, batuk, nyeri sendi, sakit kepala) dan sudah berlangsung berapa lama.
- Riwayat Penyakit: Identifikasi penyakit yang pernah atau sedang diderita Anda yang mungkin berkontribusi pada kondisi peradangan atau kerentanan tubuh.
- Obat-obatan yang Digunakan: Menanyakan obat-obatan yang sedang dikonsumsi, karena beberapa obat dapat memicu demam tiba-tiba pada orang dewasa sebagai efek samping.
- Riwayat Perjalanan: Informasi mengenai riwayat perjalanan baru-baru ini ke daerah endemik tertentu (misalnya, malaria, demam berdarah).
- Kontak Erat: Menanyakan tentang kontak dengan orang yang diketahui menderita penyakit infeksi menular.
- Tes Darah Lengkap (CBC): Dilakukan untuk mengevaluasi jumlah sel darah dan memberikan petunjuk awal mengenai sifat infeksi (virus, bakteri, dll.).
- Tes Urine dan Kultur Spesifik: Pemeriksaan sampel urine, dahak, dan tinja untuk mengidentifikasi patogen penyebab infeksi yang mendasarinya.
- Pemeriksaan Cairan Serebrospinal: Dilakukan pada kasus yang dicurigai adanya infeksi pada sistem saraf pusat (misalnya, meningitis).
- Pemindaian (Imaging): Seperti rontgen dada untuk mendeteksi pneumonia atau CT scan untuk mencari sumber infeksi atau abses tersembunyi.
Pada faktanya, penyebab demam tidak selalu bisa diketahui dengan mudah. Jika demam berlangsung lebih dari 3 minggu dan penyebabnya belum bisa dipastikan meski telah dilakukan serangkaian pemeriksaan di atas, kondisi ini diklasifikasikan sebagai Fever of Unknown Origin (FUO).
Pada kondisi tersebut, dokter spesialis akan melakukan pemeriksaan yang lebih spesifik dan mendalam untuk mencari tahu penyebab demam, termasuk Endoskopi, PET Scan, atau Ekokardiografi.
Pengobatan Demam
Pengobatan demam memiliki dua fokus utama: menangani gejalanya (penurunan suhu) dan, yang terpenting, mengobati penyebab yang mendasarinya.
Pengobatan demam dilakukan secara komprehensif, baik melalui penanganan mandiri di rumah untuk kasus ringan maupun melalui perawatan medis profesional di fasilitas rumah sakit.
Berikut adalah pengobatan demam yang direkomendasikan untuk meredakan sakit demam dan mengatasi penyebabnya:
- Hidrasi Optimal: Minum banyak cairan seperti air putih, kaldu hangat atau sup, serta jus buah.
- Hindari Kafein dan Soda: Tidak mengonsumsi minuman berkafein atau bersoda karena zat-zat tersebut bersifat diuretik, yang justru dapat memperburuk hilangnya cairan tubuh dan dehidrasi.
- Kompres Hangat: Mandi atau menggunakan kompres hangat suam-suam kuku di area lipatan tubuh (ketiak, selangkangan) dapat membantu menurunkan suhu tubuh melalui proses penguapan.
- Obat Antipiretik: Mengonsumsi obat penurun demam (antipiretik) seperti Paracetamol atau Ibuprofen setelah berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan dosis yang tepat dan sesuai dengan kondisi Anda.
- Pakaian Ringan: Menggunakan pakaian berbahan tipis dan ringan, serta menyerap keringat, untuk memfasilitasi pelepasan panas dari tubuh.
- Istirahat Cukup: Beristirahat atau tidur yang cukup adalah kunci pemulihan.
- Cairan Infus (Medis): Diberikan di rumah sakit untuk mengatasi dehidrasi berat atau pada pasien yang sulit minum.
- Obat Etiologis (Medis): Pemberian obat-obatan sesuai penyebab infeksi, seperti antibiotik (untuk bakteri), antivirus, antijamur, atau antiparasit.
- Pemantauan Tanda-Tanda Vital (Medis): Pemantauan suhu tubuh dan tanda-tanda vital lainnya (tekanan darah, denyut nadi) secara berkala.
- Intervensi Suportif (Medis): Pemberian oksigen, obat untuk menjaga tekanan darah, atau perawatan spesifik lainnya, pada pasien yang mengalami gejala berat seperti pingsan, sesak napas, atau kejang.
Baca Juga: Paracetamol – Manfaat, Jenis, Efek Samping & Dosis yang Disarankan
Komplikasi Demam
Sebagian besar episode demam pada umumnya dapat diatasi tanpa menimbulkan konsekuensi serius.
Namun, ketika demam tinggi atau berlangsung lama, atau jika disebabkan oleh infeksi yang sangat berat, kondisi ini dapat memicu serangkaian komplikasi yang memerlukan perhatian medis segera.
Oleh karena itu, mengenali ciri-ciri demam yang disertai gejala serius sangat penting bagi Anda untuk mencegah kerusakan jangka panjang.
Komplikasi demam yang mungkin timbul akibat demam yang tidak ditangani atau disebabkan penyakit berat meliputi:
- Kejang Demam (Febrile Seizure): Merupakan komplikasi umum pada anak-anak usia sekitar 6 bulan hingga 5 tahun.
- Dehidrasi Berat: Peningkatan suhu tubuh dan keringat yang berlebihan menyebabkan kehilangan cairan tubuh yang signifikan.
- Gangguan Neurologis Sementara: Demam yang sangat tinggi di atas 40,0°C dapat menyebabkan gangguan kesadaran, termasuk kebingungan (delirium), halusinasi, atau pada kasus ekstrem, penurunan kesadaran.
- Kerusakan Organ Sistemik: Pada kasus infeksi berat seperti sepsis, demam adalah bagian dari respons inflamasi yang luas yang dapat menyebabkan kerusakan fungsional pada organ vital, seperti gagal ginjal atau gagal hati.
- Kematian (Heatstroke): Komplikasi yang paling fatal, terutama terkait dengan heatstroke (bukan demam infeksi), di mana mekanisme termoregulasi tubuh gagal total dan suhu melonjak ekstrem, yang memerlukan penanganan darurat secepatnya.
Pencegahan Demam
Mengingat demam adalah indikasi adanya pertempuran internal, cara mencegah demam yang paling efektif berpusat pada upaya mengurangi paparan terhadap agen infeksi (infectious agents) dan memperkuat benteng pertahanan tubuh Anda.
Misalnya, pada sebuah studi di Papua, dilaporkan bahwa prevalensi penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Papua Tengah pada 2023 adalah 3,90% dari populasi yang diteliti.
Oleh karena itu, strategi pencegahan demam harus menjadi bagian integral dari gaya hidup sehat Anda untuk meminimalkan risiko demam tiba-tiba pada orang dewasa atau anak.
Berikut adalah langkah-langkah pencegahan demam yang dapat Anda lakukan:
- Kebersihan Tangan Konsisten: Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah beraktivitas di ruang publik.
- Imunisasi Tepat Waktu: Memastikan imunisasi dasar lengkap, termasuk vaksinasi influenza tahunan, yang merupakan pertahanan krusial terhadap penyebab demam yang paling umum.
- Hindari Sentuhan Wajah: Membiasakan diri untuk tidak menyentuh area mata, hidung, atau mulut, karena ini adalah pintu masuk utama bagi sebagian besar patogen penyebab infeksi.
- Etika Batuk dan Bersin: Selalu menutup mulut dan hidung dengan siku atau tisu saat batuk atau bersin untuk mencegah penyebaran droplet yang membawa agen infeksi.
- Gaya Hidup Sehat Integral: Mengonsumsi makanan bergizi yang seimbang, memastikan istirahat atau tidur yang cukup (7-9 jam/malam), serta menjaga kecukupan hidrasi.
- Pembatasan Kontak: Sebisa mungkin menghindari kontak langsung, berbagi alat makan/minum, atau berada terlalu dekat dengan individu yang sedang sakit atau menunjukkan ciri-ciri demam dan flu.
FAQ Seputar Demam
Setelah memahami definisi, penyebab demam, pengobatan, dan pencegahannya secara mendalam, wajar jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar penanganan dan kewaspadaan klinis terkait demam.
Di bawah ini adalah FAQ seputar deman yang dirangkum dari beberapa pertanyaan yang paling sering diajukan oleh pasien dan masyarakat umum,
1. Bagaimana Cara Mengukur Suhu Tubuh yang Paling Akurat?
Suhu tubuh dapat diukur melalui beberapa titik, yaitu mulut (oral), rektum (anal), ketiak (aksila), atau telinga (timpani). Untuk akurasi tertinggi, pengukuran rektal sering menjadi standar, terutama pada bayi.
Pastikan Anda selalu menggunakan termometer yang bersih dan telah terkalibrasi, serta mengikuti instruksi penggunaan spesifik untuk jenis termometer tersebut guna mendapatkan hasil yang valid.
2. Apakah Demam Selalu Menjadi Tanda Bahaya atau Penyakit Serius?
Tidak selalu. Penting bagi Anda untuk memahami bahwa demam dengan peningkatan suhu di atas batas normal, pada dasarnya adalah mekanisme pertahanan alami tubuh, yang menandakan bahwa sistem imun sedang aktif memerangi infeksi atau peradangan.
Namun, demam tinggi di atas 39°C yang wajib diperiksakan ke dokter seperti disertai ciri-ciri:
- Kaku leher
- Sesak napas
- Penurunan kesadaran
3. Kapan Demam pada Anak Dianggap Mengkhawatirkan dan Memerlukan Perhatian Medis Segera?
Demam pada anak, terutama bayi, perlu diwaspadai jika suhu tubuh mencapai atau melebihi 39°C. Waspadai juga jika demam disertai kejang, anak rewel atau sulit dibangunkan, kesulitan bernapas, atau ruam yang menyebar cepat, karena kondisi ini memerlukan evaluasi medis segera.
4. Bolehkah Mandi atau Mengompres Saat Tubuh Sedang Demam?
Boleh, tetapi harus menggunakan air hangat atau suam-suam kuku. Tujuan mandi atau kompres hangat adalah memicu proses penguapan di permukaan kulit, yang membantu menurunkan suhu. H
indari penggunaan air dingin atau es, karena hal ini dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit (vasokonstriksi) dan memicu refleks menggigil, yang justru dapat meningkatkan set point suhu tubuh dan memperburuk demam.
5. Apakah Saya Boleh Berolahraga Saat Mengalami Demam Ringan?
Sebaiknya dihindari. Aktivitas fisik intensif saat demam dapat meningkatkan suhu inti tubuh lebih lanjut dan membebani sistem kardiovaskular Anda.
Demam adalah sinyal bahwa tubuh memerlukan istirahat total. Berolahraga saat demam juga berisiko memperlambat proses pemulihan dan bahkan dapat memperparah penyakit yang mendasari.
6. Berapa Batas Waktu Pemberian Obat Penurun Panas sebelum Harus ke Dokter? (FAQ Tambahan)
Jika demam pada orang dewasa tidak menunjukkan penurunan suhu dalam waktu 48 hingga 72 jam setelah pemberian obat penurun panas (seperti paracetamol atau ibuprofen) atau jika demam semakin tinggi dan tidak terkontrol, Anda harus segera mencari saran medis.
Demikian pula jika demam berkepanjangan (misalnya, demam 6 hari atau lebih), terlepas dari suhu puncaknya.
Ambil Langkah Tepat untuk Demam Anda, Periksakan di Tzu Chi Hospital PIK Hari Ini!
Meskipun sakit demam sering dapat diatasi di rumah, Anda perlu tahu batas kapan demam menjadi tanda bahaya yang memerlukan intervensi medis profesional, terutama di fasilitas kesehatan tepercaya seperti Tzu Chi Hospital PIK.
Sebaiknya, jangan tunda untuk mencari pertolongan medis jika Anda atau kerabat mengalami kondisi berikut:
- Suhu Ekstrem: Suhu tubuh mencapai 39,4°C atau lebih pada orang dewasa, atau 38,0°C pada bayi di bawah 3 bulan.
- Demam Berkepanjangan: Demam 6 hari atau lebih yang tidak kunjung membaik, atau demam yang berlangsung lebih dari 48-72 jam meskipun telah mengonsumsi obat penurun panas.
- Gejala Neurologis: Sakit kepala hebat yang tidak tertahankan, kaku leher, kebingungan, halusinasi, penurunan kesadaran, atau kejang.
- Gejala Pernapasan atau Peredaran Darah: Sesak napas, nyeri dada, bibir kebiruan, atau denyut nadi yang sangat cepat.
- Kondisi Khusus: Demam terjadi pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya, penderita kanker, HIV, atau penerima transplantasi organ), atau pada wanita hamil.
Dalam hal ini, jika pasien membutuhkan rawat inap, Tzu Chi Hospital PIK memiliki berbagai fasilitas kamar, mulai dari perawatan umum hingga perawatan khusus seperti ICU, PICU, dan ruang isolasi, dengan total kapasitas sekitar 576 tempat tidur.

Ruang Inap Kelas 1 di Tzu Chi Hospital PIK
Demam adalah sinyal penting tubuh Anda yang tidak boleh diabaikan. Jika Anda mengalami demam dengan gejala penyerta yang mengkhawatirkan atau demam yang tak kunjung reda, jangan ragu untuk mencari bantuan medis profesional.
- Cari Dokter di Website: Kunjungi situs website kami dan klik menu Cari Dokter untuk menemukan spesialis terbaik di bidang yang Anda butuhkan.
- Lakukan Medical Check Up Rutin: Minimalisir kemungkinan penyakit serius yang bermanifestasi sebagai demam di kemudian hari. Jadwalkan Medical Check Up rutin untuk evaluasi kesehatan preventif yang komprehensif.
- Segera Hubungi kami via WhatsApp untuk menjadwalkan janji temu dan konsultasi bersama dokter ahli di Tzu Chi Hospital PIK.
Artikel ini telah ditinjau oleh Dr. Sayuri Suwandi, Sp.PD, FINASIM
Referensi:
El‑Radhi A.S., Carroll J., Klein N. Pathogenesis of Fever. In: El‑Radhi A.S., Carroll J., Klein N. (eds) Clinical Manual of Fever in Children. Springer, Berlin Heidelberg; 2009.
Guyton A.C., Hall J.E. Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology. Elsevier.
Jurnal Ners. (2023). Determinants of dengue hemorrhagic fever (DBD) in Papua Tengah 2023. Jurnal Ners.
Lippincott. (2024). Breastfeeding Status and Infectious Diseases Among Children Aged 6–23 Months in Indonesia. Asian Journal of Social Health and Behavior.





