Tindakan Medis & Terapi
Apa Itu Elektrokardiogram (EKG)? Jenis, Persiapan, & 4 Prosedurnya
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 28 Januari 2026

EKG adalah pemeriksaan medis non-invasif yang digunakan untuk menilai aktivitas listrik jantung dan mendeteksi gangguan irama, fungsi, atau kerusakan otot jantung.
Banyak orang merasa cemas ketika dokter menyarankan menjalani Elektrokardiogram (EKG), karena membayangkan prosedur yang rumit atau menakutkan. Padahal, pemeriksaan ini cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, dan menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi jantung Anda tetap sehat.
Ingin tahu bagaimana prosedurnya dilakukan, apa saja yang perlu disiapkan, serta makna hasil EKG Anda? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini sampai akhir.
Apa Itu Elektrokardiogram (EKG)?

Ilustrasi EKG
Elektrokardiogram atau EKG adalah pemeriksaan diagnostik non-invasif yang dirancang untuk merekam aktivitas kelistrikan jantung Anda.
Prosedur ini sangat cepat, tanpa rasa sakit, dan menjadi alat fundamental yang digunakan oleh dokter untuk menilai irama dan kecepatan detak jantung, serta mendeteksi adanya masalah pada aliran darah ke otot jantung. Dalam terminologi medis, pemeriksaan ini sering juga disebut sebagai ECG (Electrocardiogram), dan kedua istilah ini merujuk pada alat serta proses yang sama.
Pemeriksaan EKG bekerja dengan menempatkan sensor kecil (elektroda) pada kulit Anda. Sensor ini menangkap impuls listrik alami yang dihasilkan oleh jantung saat berdetak.
Hasil rekaman ini kemudian divisualisasikan dalam bentuk gelombang grafik di kertas atau monitor, yang memberikan gambaran detail tentang siklus setiap detak jantung, dari depolarisasi (kontraksi) hingga repolarisasi (istirahat).
Fungsi Elektrokardiogram (EKG)
Fungsi utama EKG jauh lebih dari sekadar mengukur detak jantung. Bagi Anda, hasil EKG adalah laporan kesehatan penting yang dapat mengungkap masalah sebelum menjadi parah, menjaga agar bisnis Anda tidak terhenti mendadak.
Fungsi-fungsi kunci dari pemeriksaan EKG meliputi:
1. Menganalisis Irama Jantung
EKG dapat memastikan apakah jantung Anda berdetak dengan irama yang teratur atau menunjukkan kelainan irama (aritmia), baik yang terlalu cepat (takikardia) maupun terlalu lambat (bradikardia).
Baca Juga: Gagal Jantung: Ciri-Ciri, Penyebab, Pencegahan, dan Cara Mengatasinya
2. Mendeteksi Serangan Jantung Saat Ini atau Masa Lalu
Pola tertentu pada grafik dapat mengindikasikan kerusakan otot jantung akibat serangan jantung.
Salah satu temuan paling kritis yang dicari dokter adalah pola STEMI ECG (ST-Elevation Myocardial Infarction), yang merupakan tanda serangan jantung akut dan memerlukan intervensi medis darurat.
Baca Juga: Serangan Jantung: Ciri-Ciri, Penyebab, Pencegahan, & Cara Mengatasinya
3. Memeriksa Suplai Darah ke Jantung
Elektrokardiogram (EKG) berperan penting dalam mendeteksi gangguan suplai darah ke otot jantung (miokardium).
Kondisi ini dikenal sebagai iskemia miokard, yaitu saat aliran darah yang kaya oksigen menuju jantung berkurang akibat penyempitan (stenosis) atau sumbatan (oklusi) pada arteri koroner.
Melalui pola gelombang listrik yang direkam, EKG dapat memperlihatkan perubahan khas seperti:
- Depresi segmen ST atau inversi gelombang T, yang menandakan adanya iskemia (kurang aliran darah).
- Elevasi segmen ST, yang sering kali menunjukkan infark miokard akut (STEMI), yaitu kondisi gawat darurat medis akibat sumbatan total arteri koroner.
- Perubahan gelombang Q patologis, yang dapat menjadi tanda adanya kerusakan permanen pada otot jantung pasca-serangan jantung.
Selain untuk diagnosis awal, EKG juga berguna dalam pemantauan serial yang dilakukan berulang untuk menilai perkembangan iskemia, efektivitas terapi reperfusi (misalnya pemberian trombolitik atau intervensi koroner perkutan/PCI), serta deteksi komplikasi pascainfark seperti aritmia.
4. Mengukur Waktu Aktivitas Listrik
EKG digunakan untuk menilai kecepatan dan keteraturan aktivitas listrik yang mengatur detak jantung. Setiap gelombang pada EKG merepresentasikan tahapan spesifik dari aktivitas listrik di jantung, mulai dari pemicuan hingga pemulihan sel otot jantung.
- Melalui pengukuran interval waktu dan durasi gelombang, dokter dapat mengevaluasi apakah sinyal listrik berjalan normal atau mengalami hambatan. Beberapa komponen utama yang diamati meliputi:
- Gelombang P menunjukkan depolarisasi atrium, yaitu saat bilik atas jantung (atrium) berkontraksi untuk memompa darah ke ventrikel.
- Interval PR menilai waktu yang dibutuhkan sinyal listrik untuk berpindah dari atrium ke ventrikel. Interval ini penting untuk mendeteksi blok jantung (heart block).
- Kompleks QRS menggambarkan depolarisasi ventrikel, yaitu proses kontraksi bilik bawah jantung untuk memompa darah ke paru-paru dan seluruh tubuh.
- Gelombang T menunjukkan repolarisasi ventrikel, yaitu proses pemulihan atau “pengisian ulang listrik” sel otot ventrikel agar siap untuk kontraksi berikutnya.
- Interval QT mencakup waktu total antara depolarisasi dan repolarisasi ventrikel; pemanjangannya dapat menandakan risiko aritmia ventrikel berbahaya, seperti torsades de pointes.
Jenis Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan EKG standar merekam aktivitas jantung dalam hitungan detik. Namun, karena kelainan jantung seringkali hilang timbul, ada beberapa jenis EKG yang digunakan untuk pemantauan jangka panjang:
1. EKG Standar (12-Lead EKG)
EKG standar adalah tes cepat yang dilakukan di klinik atau rumah sakit, merekam aktivitas jantung selama beberapa detik saat Anda beristirahat. Tujuannya adalah mendeteksi masalah yang konstan atau akut.
2. Holter Monitor
Holter Monitor adalah alat perekam kecil yang dipakai selama 24 hingga 48 jam, atau bahkan lebih lama. Monitor ini secara terus-menerus merekam setiap detak jantung Anda saat menjalani aktivitas sehari-hari, memberikan gambaran komprehensif irama jantung Anda di berbagai situasi (tidur, bekerja, berolahraga).
Sebuah studi menunjukkan bahwa Holter 24 jam memiliki yield diagnostik signifikan untuk pasien dengan palpitasi, dan membantu menangkap aritmia episodik yang tidak terlihat pada EKG singkat.
Baca Juga: Berapa Detak Jantung Normal? Ketahui Cara Ukurnya & Kapan Harus Waspada!
3. Event Monitor
Serupa dengan Holter, Event Monitor dipakai hingga 30 hari dan hanya merekam aktivitas listrik jantung pada saat Anda menekan tombolnya (ketika Anda merasakan gejala seperti berdebar) atau ketika alat mendeteksi anomali secara otomatis.
4. Stress Test (Uji Latih)
Street Test EKG dilakukan secara simultan saat Anda berolahraga, seperti berjalan di treadmill atau mengayuh sepeda statis. Tes ini bertujuan untuk melihat bagaimana jantung merespons stres fisik dan peningkatan kebutuhan oksigen, membantu mendiagnosis penyakit jantung koroner.
Siapa yang Membutuhkan Elektrokardiogram (EKG)?
Saat ini, yang membutuhkan elektrokardiogram adalah mereka yang mengalami atau memiliki beberapa kondisi berikut:
- Nyeri Dada (Angina)
- Pusing atau Pingsan (Sinkop)
- Palpitasi (Jantung Berdebar atau Berdetak Kencang)
- Sesak Napas yang Tidak Biasa
- Kelelahan Ekstrem atau Penurunan Kemampuan Berolahraga
- Riwayat Keluarga Penyakit Jantung Koroner atau Aritmia
- Penggunaan Alat Pacu Jantung atau Perawatan Penyakit Jantung
- Memiliki Faktor Risiko Tinggi (Diabetes, Hipertensi, Kolesterol Tinggi)
- Langkah Persiapan Elektrokardiogram (EKG)
Persiapan Elektrokardiogram (EKG)
Berikut adalah beberapa persiapan yang perlu Anda perhatikan untuk memastikan hasil EKG yang akurat:
1. Hindari Minuman Berkafein dan Air Dingin
Sebaiknya hindari kopi, teh, minuman energi, cokelat, atau soda berkafein setidaknya 2–3 jam sebelum tes. Kafein bersifat stimulatif yang dapat mempercepat denyut jantung (takikardia) dan memengaruhi ritme jantung sementara.
Begitu juga dengan air dingin atau es, yang dapat memicu refleks vasovagal dan menyebabkan perubahan irama jantung sesaat. Keduanya dapat menimbulkan hasil EKG yang tidak mencerminkan kondisi normal.
2. Jangan Gunakan Lotion atau Minyak
Hindari penggunaan losion, minyak, bedak, atau krim tubuh pada dada, lengan, dan tungkai di hari pemeriksaan. Zat-zat ini dapat menghambat konduktivitas listrik dan membuat elektroda sulit menempel dengan sempurna di permukaan kulit.
Jika elektroda tidak menempel dengan baik, akan muncul artefak atau gangguan sinyal (noise) yang bisa meniru pola aritmia atau membuat hasil EKG sulit ditafsirkan dengan benar.
3. Informasikan Penggunaan Obat
Selanjutnya, sampaikan kepada dokter atau petugas medis mengenai seluruh obat, vitamin, atau suplemen herbal yang sedang Anda gunakan. Beberapa obat dapat memengaruhi aktivitas listrik jantung, seperti:
- Obat jantung, misalnya beta-blocker, digoksin, antiaritmia,
- Obat antidepresan atau antipsikotik,
- Antibiotik tertentu, seperti makrolida atau fluorokuinolon,
- Suplemen herbal seperti ginseng atau efedra (ephedra) yang bisa meningkatkan denyut jantung.
Memberi tahu dokter memungkinkan mereka menafsirkan hasil EKG dengan tepat atau menjadwalkan ulang pemeriksaan bila diperlukan.
4. Siapkan Pakaian yang Mudah Dilepas
Selama pemeriksaan, Anda biasanya diminta untuk melepaskan pakaian bagian atas dan mengenakan jubah rumah sakit agar area dada dapat diakses untuk pemasangan elektroda.
Kenakan pakaian longgar, tanpa logam, dan hindari aksesori seperti kalung atau sabuk besar. Ini membantu proses pemeriksaan berjalan cepat dan nyaman tanpa gangguan.
Baca Juga: 10 RS Jantung Jakarta Terbaik – Layanan, Fasilitas & Alamat
Prosedur Melakukan Elektrokardiogram (EKG)
Prosedur elektrokardiogram (EKG) pada umumnya memakan waktu kurang dari 10 menit, namun hasilnya sangat penting untuk menilai kondisi fungsi jantung secara menyeluruh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata akurasi interpretasi EKG oleh dokter dari semua tingkat pelatihan hanya sekitar 54% sebelum pelatihan dan meningkat ke sekitar 67% setelah pelatihan
Berikut tahapan prosedur EKG secara lengkap:
1. Persiapan Awal
Anda akan diminta berbaring di meja pemeriksaan dan mengganti pakaian bagian atas dengan jubah rumah sakit.
Petugas akan membersihkan area dada, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki dengan kapas alkohol. Jika terdapat rambut tebal di dada, sebagian kecil mungkin dicukur untuk membantu elektroda menempel sempurna.
2. Pemasangan Elektroda
Tenaga medis akan menempelkan hingga 12 elektroda kecil berbentuk stiker perekat pada permukaan kulit di dada, lengan, dan kaki.
Tiap elektroda dihubungkan dengan kabel tipis menuju mesin EKG. Elektroda ini berfungsi mendeteksi sinyal listrik dari jantung melalui konduksi kulit.
Kadang digunakan gel konduktor untuk memperkuat kontak antara kulit dan elektroda, sehingga sinyal listrik dapat terbaca lebih jelas.
3. Proses Perekaman Aktivitas Listrik
Selama perekaman berlangsung, Anda akan diminta untuk tetap diam, bernapas normal, dan tidak berbicara. Gerakan kecil, seperti berbicara atau menggigil, dapat menimbulkan gangguan (noise) pada hasil EKG.
Mesin kemudian akan merekam gelombang listrik jantung dalam bentuk grafik yang menunjukkan setiap fase detak jantung:
4. Setelah Pemeriksaan Selesai
Setelah proses perekaman selesai, elektroda dilepaskan dari kulit dengan hati-hati. Tidak ada efek samping atau rasa nyeri setelahnya.
Hasil EKG akan berupa grafik bergelombang (tracing) yang menunjukkan aktivitas listrik jantung Anda.
Jika hasilnya normal, artinya ritme dan kecepatan jantung Anda berada dalam kisaran sehat, dan tidak diperlukan pemeriksaan tambahan.
Namun jika ditemukan kelainan seperti perubahan pada segmen ST, gelombang T, atau interval QT, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan lanjutan, misalnya tes darah jantung, echocardiogram, atau angiografi koroner, untuk memastikan diagnosis.
Baca Juga: Dokter Jantung Terbaik di Jakarta dan Indonesia, Cek Sekarang!
Efek Samping Elektrokardiogram (EKG)
Berikut adalah efek samping dari EKG yang bisa juga bersifat sementara:
- Sensasi tidak nyaman saat elektroda dilepas (seperti mencabut plester)
- Kemerahan atau iritasi ringan pada kulit
- Bekas lengket atau sisa gel konduktor di kulit
- Rasa pegal atau tidak nyaman karena berbaring terlalu lama
- Reaksi stres ringan seperti gugup atau jantung berdebar
- Sangat jarang: alergi terhadap perekat elektroda
Risiko dan Komplikasi Elektrokardiogram (EKG)
Secara umum, pemeriksaan EKG tergolong sangat aman dan tidak menimbulkan risiko serius karena tidak melibatkan alat tajam, radiasi, atau aliran listrik eksternal.
Namun, dalam beberapa kondisi tertentu, terutama pada pemeriksaan EKG stres, mungkin muncul risiko ringan sebagai berikut:
- Tidak menimbulkan risiko serius karena prosedur bersifat non-invasif
- Tidak menyebabkan sengatan listrik atau cedera jaringan
- Risiko iritasi kulit akibat perekat elektroda
- Reaksi alergi ringan terhadap gel atau perekat (jarang terjadi)
- Rasa tidak nyaman atau cemas selama pemeriksaan
- Risiko tambahan pada EKG stres (treadmill) seperti kelelahan, sesak napas, atau nyeri dada ringan, selalu diawasi ketat oleh tenaga medis
Kapan Harus ke Dokter?
Kesehatan jantung Anda adalah fondasi kesuksesan jangka panjang. Jika Anda mencurigai adanya masalah, atau jika hasil skrining awal menunjukkan adanya EKG tidak normal, jangan menunda kunjungan ke dokter spesialis jantung.
Pada sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun EKG dapat menunjukkan abnormalitas jantung, sensitivitasnya untuk skrining penyakit jantung sebagai alat tunggal masih terbatas.
Tzu Chi Hospital PIK menyediakan layanan kardiologi yang komprehensif dengan teknologi terbaru dan tim dokter yang ahli. Selain itu, Anda juga bisa melakukan medical check up secara rutin,
Jika Anda ingin menemukan ahli jantung terbaik, silakan cari dokter pilihan Anda pada menu Cari Dokter di website Tzu Chi Hospital PIK.
Untuk kemudahan menjadwalkan konsultasi dan janji temu bersama dokter, Anda bisa Hubungi kami via WhatsApp sekarang juga.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Stephanie Salim, Sp.JP
Referensi:
An Evidence-Based Review of the Resting Electrocardiogram as a Screening Technique for Heart Disease. (2001). American Journal of Medicine, 110(4), 314–319.
Cook, D. A., Oh, S. Y., & Pusic, M. V. (2020). Accuracy of Physicians’ Electrocardiogram Interpretations: A Systematic Review and Meta-Analysis. JAMA Internal Medicine, 180(11), 1461–1471.
Paudel, B., Sharma, D., & Bhandari, R. (2013). Diagnostic Significance of 24-Hour Holter Monitoring in Patients with Palpitation. Journal of Nepal Health Research Council, 11(24), 278–281.





