Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
15 Gejala Gagal Jantung: Kenali Penyebab & Cara Mengatasinya
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 04 Februari 2026

Gejala gagal jantung bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sesak napas, pembengkakan di kaki dan pergelangan, mudah lelah, detak jantung yang tidak teratur, hingga batuk berkepanjangan.
Kondisi ini terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah secara efektif untuk memenuhi kebutuhan tubuh, sehingga organ-organ penting tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.
Gagal jantung bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penyakit jantung koroner, hipertensi, atau kerusakan otot jantung akibat serangan jantung sebelumnya. Penting untuk mengenali tanda-tanda awalnya agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
Untuk memahami lebih lanjut mengenai apa saja gejala gagal jantung dan cara mengatasinya, simak informasi lengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Gagal Jantung?

Ilustrasi Perbandingan Gagal Jantung | Sumber: RWJ Barnabas Health
Gagal jantung, atau dalam istilah medis disebut Heart Failure (HF) atau Congestive Heart Failure (CHF) merujuk pada sindrom klinis yang kompleks, ditandai dengan manifestasi berkurangnya kemampuan jantung untuk memompa dan/atau mengisi darah.
Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI, 2020), kondisi gagal jantung merupakan abnormalitas struktur dan fungsi jantung yang berujung pada ketidakmampuan mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh.
Prevalensi penyakit jantung di Indonesia mencapai 1,5% dari total penduduk (Riskesdas 2018), dengan pembiayaan terbesar yang ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), mencapai Rp15,37 triliun di tahun 2022. Angka ini menegaskan betapa seriusnya ancaman gagal jantung secara nasional dan ekonomi
Penyebab Gagal Jantung:
- Patofisiologi Kritis: Gagal jantung sering kali diawali oleh kondisi yang merusak otot jantung (miokard), seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang menyebabkan kematian otot jantung, atau Hipertensi kronis yang memberikan beban tekanan berlebih secara terus-menerus.
- Progresif dan Memburuk: Kondisi ini bersifat progresif. Pasien yang telah lolos dari serangan jantung, secara otomatis berpotensi tinggi untuk terkena gagal jantung kronis di kemudian hari karena adanya kerusakan permanen pada otot jantung.
15 Gejala Gagal Jantung
Mengenali gejala gagal jantung adalah kunci untuk deteksi dini dan penanganan yang cepat. Gejala tidak selalu muncul mendadak (akut), sering kali berkembang perlahan (kronis) dan dapat bervariasi tergantung sisi jantung yang terpengaruh (kiri atau kanan).
Berikut adalah 15 gejala gagal jantung yang wajib Anda waspadai, termasuk korelasi dengan tahapan penyakit.
1. Sesak Napas Saat Beraktivitas atau Beristirahat
Kondisi ini, dikenal sebagai dyspnea, adalah salah satu gejala khas dan paling umum dari gagal jantung, khususnya gagal jantung kongestif sebelah kiri. Jantung kiri bertanggung jawab memompa darah kaya oksigen ke seluruh tubuh.
Ketika fungsinya melemah, darah akan kembali ke pembuluh darah paru (vena pulmonalis), menyebabkan cairan bocor dan menumpuk di paru-paru (kongesti pulmonal).
- Spesifik Akut/Awal: Sesak napas terasa saat melakukan aktivitas fisik ringan (misalnya, naik tangga), yang secara fungsional termasuk dalam gagal jantung kelas II.
- Spesifik Lanjut: Sesak napas terjadi bahkan saat istirahat atau tidur telentang datar (ortopnea), yang membuat penderita sering terbangun tengah malam dengan sesak yang parah (Paroxysmal Nocturnal Dyspnoea/PND).
Baca Juga: Henti Jantung: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Pencegahannya
2. Pembengkakan (Edema) pada Kaki, Pergelangan Kaki, dan Perut
Pembengkakan atau edema perifer ini merupakan tanda dominan dari gagal jantung sebelah kanan, yang dikenal juga sebagai gejala gagal jantung kongestif.
Bilik kanan jantung tidak mampu memompa darah yang kembali dari tubuh ke paru-paru, menyebabkan penumpukan darah di pembuluh vena dan bocornya cairan ke jaringan, terutama di area yang dipengaruhi gravitasi seperti kaki dan tungkai.
- Contoh Kasus Nyata: Pembengkakan yang tidak hilang setelah diistirahatkan atau meninggalkan lekukan (disebut pitting edema) saat ditekan.
- Kaitan dengan Organ Lain: Pembengkakan ini juga bisa terjadi di perut (disebut asites), menandakan kongesti pada organ hati (hepatomegali).
3. Kelelahan dan Keletihan Ekstrem (Fatigue)
Gejala gagal jantung stadium awal sering kali ditandai dengan kelelahan yang tidak wajar. Karena jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan tubuh, tubuh secara otomatis mengalihkan aliran darah dari organ yang dianggap "kurang vital" (seperti otot anggota gerak) ke organ vital lainnya (jantung dan otak).
Kelelahan ini tak hanya berupa mengantuk, akan tetapi juga rasa lemas yang terus-menerus dan kesulitan nyata dalam menyelesaikan aktivitas sehari-hari, seperti berbelanja atau berjalan jarak pendek.
4. Batuk atau Mengi yang Terus-menerus
Batuk persisten ini sering kali keliru dianggap sebagai gejala flu atau penyakit paru-paru. Pada gagal jantung, batuk terjadi akibat penumpukan cairan di paru-paru (kongesti pulmonal).
Bentuk batuk dapat mengeluarkan dahak yang berbusa, berwarna putih, atau bahkan bercampur darah (merah muda). Batuk ini juga sering memburuk di malam hari.
5. Kenaikan Berat Badan Mendadak
Kenaikan berat badan yang tidak disengaja lebih dari 2 kg dalam seminggu harus diwaspadai sebagai penumpukan cairan yang cepat (retensi cairan), bukan lemak. Ini adalah sinyal bahaya akan memburuknya gejala gagal jantung kongestif.
6. Sering Buang Air Kecil pada Malam Hari (Nokturia)
Ketika Anda berbaring untuk tidur, cairan yang menumpuk di kaki dan tungkai akan kembali ke aliran darah dan diproses oleh ginjal. Ginjal merespons ini dengan memproduksi lebih banyak urine, menyebabkan Anda sering terbangun untuk buang air kecil.
7. Peningkatan Denyut Jantung (Takikardia) atau Palpitasi
Gejala gagal jantung yang berikutnya adalah ketika jantung mencoba mengkompensasi berkurangnya kapasitas memompa dengan berdetak lebih cepat. Peningkatan detak jantung ini dapat terasa sebagai berdebar-debar (palpitasi).
8. Kurang Nafsu Makan atau Mual
Sistem pencernaan menerima aliran darah yang lebih sedikit karena tubuh mengalihkannya ke organ vital. Hal ini mengganggu proses pencernaan dan dapat menyebabkan perut terasa kembung, begah, atau mual.
9. Kebingungan atau Gangguan Berpikir
Dalam kondisi gagal jantung yang sudah lanjut, berkurangnya aliran darah ke otak, serta perubahan kadar zat tertentu dalam darah (seperti natrium), dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, atau hilang ingatan, terutama pada pasien usia lanjut.
10. Nyeri Dada
Meskipun nyeri dada lebih identik dengan serangan jantung, pada gagal jantung nyeri bisa timbul jika penyebab dasarnya adalah Penyakit Jantung Koroner (PJK). Nyeri dada yang menjalar juga bisa menjadi tanda komplikasi seperti serangan jantung.
11. Sianosis (Kulit Kebiruan)
Sianosis merupakan gejala gagal jantung yang muncul pada kondisi gagal jantung yang sangat parah. Kulit, bibir, atau ujung jari menjadi kebiruan karena paru-paru mengalami kekurangan oksigen akibat kongesti cairan yang ekstrem.
12. Gejala Gagal Jantung Stadium 3 (NYHA Kelas III)
Menurut klasifikasi fungsional New York Heart Association (NYHA), gejala gagal jantung stadium 3 ditandai dengan:
- Batasan Aktivitas Nyata: Pasien memiliki keterbatasan aktivitas fisik yang jelas.
- Gejala Saat Ringan: Tidak ada keluhan saat istirahat, namun aktivitas fisik ringan (misalnya, berpakaian, menyapu ringan) sudah menyebabkan kelelahan, berdebar (palpitasi), atau sesak napas. Kondisi ini adalah peringatan serius.
13. Gejala Gagal Jantung Akut
Kondisi ini terjadi mendadak dan membutuhkan penanganan medis darurat. Gejala bisa mencakup:
- Sesak napas hebat yang datang tiba-tiba.
- Penumpukan cairan yang sangat cepat di paru-paru (edema paru akut).
- Tekanan darah rendah yang berbahaya (syok kardiogenik).
14. Penumpukan Cairan di Paru-paru (Edema Paru)
Selain menyebabkan sesak napas, gagal jantung dapat menimbulkan penumpukan cairan di paru-paru yang lebih berat daripada edema perifer.
Gejala bisa berupa batuk berdahak berbusa, mengi, dan rasa sesak parah terutama saat berbaring. Kondisi ini membutuhkan perhatian medis segera karena bisa mengancam jiwa jika tidak ditangani.
15. Pembengkakan Hati dan Gangguan Pencernaan (Hepatomegali dan Ascites)
Gagal jantung sisi kanan dapat menyebabkan tekanan balik pada vena hati, sehingga hati membesar (hepatomegali) dan cairan menumpuk di rongga perut (ascites).
Hal ini sering menyebabkan perut kembung, mual, dan penurunan nafsu makan. Kondisi ini menandakan gagal jantung sudah memengaruhi organ-organ lain di luar jantung.
Baca Juga: Jantung Bocor: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya
Cara Mengatasi Gagal Jantung
Cara mengatasi gagal jantung tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga perubahan gaya hidup dan pemantauan rutin.
Setiap langkah memiliki tujuan untuk meringankan gejala, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup. Berikut penjelasannya:
1. Pengobatan Medis
Ketika jantung tidak mampu memompa darah dengan optimal, dokter biasanya meresepkan obat seperti ACE inhibitor, beta-blocker, diuretik, atau digoxin.
Obat-obatan ini berfungsi mengurangi tekanan pada jantung, menurunkan retensi cairan, dan mengontrol gejala seperti sesak napas dan kelelahan. Pada kasus tertentu, tindakan intervensi seperti pemasangan pacemaker atau transplantasi jantung juga diperlukan.
2. Perubahan Gaya Hidup
Gaya hidup yang tepat bisa mengurangi tekanan pada jantung dan membantu pengobatan bekerja lebih efektif. Beberapa langkah penting meliputi:
- Diet rendah garam untuk mencegah penumpukan cairan dan tekanan darah tinggi.
- Olahraga ringan hingga sedang untuk memperkuat jantung dan meningkatkan stamina, tentu sesuai anjuran dokter.
- Berhenti merokok dan batasi alkohol karena keduanya memperburuk fungsi jantung dan menghambat efektivitas obat.
3. Pemantauan Rutin dan Perawatan Mandiri
Gagal jantung bisa memburuk secara bertahap, sehingga pemantauan adalah kunci agar tindakan cepat bisa dilakukan. Langkah-langkahnya meliputi:
- Pantau berat badan dan gejala untuk mendeteksi retensi cairan atau sesak napas yang memburuk.
- Kontrol rutin ke dokter untuk menyesuaikan dosis obat dan memantau fungsi jantung, ginjal, serta tekanan darah.
- Kelola stres dan tidur cukup agar tubuh dapat pulih, dan kualitas hidup tetap terjaga.
Dengan menjalankan langkah-langkah ini secara konsisten, gejala gagal jantung dapat dikontrol, risiko komplikasi berkurang, dan pasien bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Kapan Anda Harus ke Dokter?
Anda harus menyadari bahwa penyakit jantung, termasuk gagal jantung, dapat bermetamorfosis dan menyasar ke semua kalangan.
Pencegahan dan penanganan dini sangat vital, sebab kondisi gagal jantung bisa sembuh total tidak ada, namun gejalanya dapat dikontrol secara efektif dan kualitas hidup dapat ditingkatkan secara signifikan melalui penanganan medis yang tepat.
Segera cari bantuan medis darurat jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala akut seperti:
- Nyeri dada yang hebat dan mendadak.
- Sesak napas yang tiba-tiba dan parah.
- Pingsan atau hampir pingsan.
- Jantung berdebar sangat cepat atau tidak teratur.
Bagi gejala yang sifatnya kronis dan progresif seperti kelelahan, edema ringan, atau sesak saat aktivitas ringan, jangan tunda untuk menjadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis jantung terbaik di Indonesia.
Tzu Chi Hospital PIK hadir sebagai solusi komprehensif untuk diagnosis dan penanganan masalah kardiovaskular Anda.
- Pilihan Dokter Terbaik: Klik menu Cari Dokter di website resmi Tzu Chi Hospital PIK untuk mencari dokter spesialis Anda.
- Deteksi Dini dan Pencegahan: Untuk meminimalisir kemungkinan berkembangnya penyakit serius seperti gagal jantung di kemudian hari, segera lakukan medical check up rutin.
- Hubungi kami via WhatsApp untuk menjadwalkan janji temu dan konsultasi bersama dokter spesialis jantung kami.
Dapatkan penanganan yang cepat dan terukur dengan standar pelayanan internasional yang berbasis welas asih dan teknologi kedokteran terkini. Jantung Anda adalah organ paling penting. Pastikan ia berada di tangan yang tepat.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Hendra Simarmata, Sp.JP
Referensi:
American Heart Association. (2025, May 21). Classes and Stages of Heart Failure
ANTARA News. Kemenkes: Jantung dan Stroke Habiskan Dana JKN Rp15,37 Triliun.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. (2020). Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung (Edisi ke‑2). Jakarta: PP PERKI.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. (2019). Hasil Utama Riskesdas 2018 Nasional. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.





