Edukasi Obat & Apotek
Hipertensi (Darah Tinggi) - Gejala, Penyebab, & Pengobatan
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 04 Februari 2026

Hipertensi adalah kondisi medis yang ditandai dengan tekanan darah yang lebih tinggi dari normal. Hipertensi bisa berkembang tanpa gejala yang jelas, namun meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan kerusakan ginjal jika tidak dikendalikan.
Kekhawatiran akan komplikasi jangka panjang membuat banyak orang ingin mengetahui cara mencegah, mengelola, dan menurunkan tekanan darah secara efektif.
Di artikel ini, Anda akan menemukan penjelasan lengkap tentang penyebab hipertensi, gejalanya, serta strategi pencegahan dan pengobatan yang terbukti efektif, sehingga Anda bisa mengambil langkah tepat untuk menjaga kesehatan jantung dan tekanan darah Anda.
Apa Itu Hipertensi?

Ilustrasi cek tensi dengan dokter
Hipertensi adalah kondisi medis kronis di mana tekanan darah di pembuluh darah meningkat secara terus-menerus.
Kondisi tersebut membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, yang jika dibiarkan tanpa penanganan, dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan organ vital.
Tekanan darah diukur dalam dua angka: tekanan sistolik (angka atas, saat jantung berkontraksi) dan tekanan diastolik (angka bawah, saat jantung beristirahat).
Saat ini, prevalensi hipertensi pada populasi dewasa di kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai 33,82% pada populasi perkotaan.
Bahkan, di kawasan Asia Tenggara, lebih dari 294 juta orang berusia ≥30 tahun diperkirakan hidup dengan tekanan darah tinggi.
Sedangkan dalam survei di Indonesia, prevalensi hipertensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 60+ tahun, yaitu 63,2%.
Anda dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darah sistolik Anda mencapai 140 mmHg atau lebih, dan/atau tekanan darah diastolik Anda mencapai 90 mmHg atau lebih.
Jadi, apa itu hipertensi? Singkatnya, hipertensi adalah tekanan yang berlebihan dan berbahaya di dalam sistem sirkulasi darah Anda.
Gejala Hipertensi
Gejala hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas di awal. Oleh karena itulah, hipertensi sering juga disebut sebagai silent killer, yang diam-diam sangat berbahaya jika tak kunjung ditangani dengan tepat sesuai pemeriksaan dan anjuran dokter.
Namun, ketika tekanan darah sudah sangat tinggi atau menyebabkan komplikasi, beberapa gejala hipertensi yang biasanya muncul yaitu:
- Sakit kepala berat, terutama di bagian belakang kepala saat bangun tidur.
- Pusing atau vertigo.
- Mata berkunang-kunang.
- Mimisan yang tidak biasa.
- Kelelahan atau kebingungan.
- Masalah penglihatan, seperti penglihatan kabur.
- Telinga berdenging (tinnitus).
- Nyeri dada atau sesak napas.
Baca Juga: 15 Ciri-Ciri Vertigo karena Asam Lambung, Jangan Sepelekan!
Penyebab Hipertensi
Mengenal penyebab hipertensi adalah langkah awal untuk mengendalikannya. Penting bagi Anda untuk memahami bahwa penyebab tekanan darah tinggi bisa bermacam-macam, bahkan sering kali tidak diketahui secara pasti.
Berdasarkan asalnya, hipertensi dapat dibedakan menjadi dua jenis penyebab utama yang memiliki pendekatan penanganan yang berbeda:
1. Hipertensi Primer (Esensial)
Hipertensi primer paling sering ditemukan dan biasanya berkembang perlahan dalam waktu bertahun-tahun. Penyebab hipertensi primer adalah jenis darah tinggi yang penyebabnya tidak diketahui dengan pasti (idiopatik).
Meskipun penyebab pastinya misterius, kondisi ini sangat erat kaitannya dengan kombinasi faktor genetik, usia, dan gaya hidup tidak sehat (seperti diet tinggi garam dan kurang gerak).
2. Hipertensi Sekunder
Kemudian yang kedua adalah hipertensi sekunder, yaitu jenis tekanan darah tinggi yang memiliki penyebab yang jelas dan teridentifikasi.
Kondisi ini disebabkan oleh berbagai penyakit lain yang mendasari dan bisa terjadi secara mendadak, bahkan pada usia muda.
Kondisi atau penyakit yang bisa menyebabkan hipertensi sekunder antara lain:
- Penyakit Ginjal: Yaitu ginjal yang rusak kesulitan mengatur cairan dan garam dalam tubuh, yang secara langsung memengaruhi tekanan darah.
- Hipertiroidisme: Kondisi di mana kelenjar tiroid terlalu aktif memproduksi hormon, yang dapat mempercepat detak jantung dan meningkatkan tekanan darah.
- Penyakit Jantung Bawaan: Kelainan struktural pada jantung atau pembuluh darah besar yang sudah ada sejak lahir.
- Kelainan Bawaan pada Pembuluh Darah: Misalnya penyempitan aorta (koarktasi aorta), yang memaksa jantung bekerja lebih keras.
- Sleep Apnea: Gangguan tidur serius di mana pernapasan berhenti dan dimulai berulang kali. Ini menyebabkan penurunan kadar oksigen dan pelepasan hormon stres yang dapat meningkatkan tekanan darah.
- Penggunaan Obat-Obat Tertentu: Beberapa obat dapat memengaruhi tekanan darah, seperti dekongestan (obat flu), pil KB (kontrasepsi oral), atau kortikosteroid.
- Penyalahgunaan NAPZA: Penggunaan zat adiktif tertentu dapat memicu peningkatan tekanan darah yang berbahaya.
- Kecanduan Alkohol: Konsumsi alkohol berlebihan secara kronis dapat merusak jantung dan meningkatkan tekanan darah secara signifikan.
Faktor dan Risiko Hipertensi
Saat ini, ada sejumlah faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena hipertensi. Berikut adalah faktor-faktor dan risiko hipertensi yang penting untuk Anda ketahui dan waspadai:
1. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah
Perlu diketahui bahwa beberapa faktor risiko hipertensi tidak dapat diubah atau dikendalikan, namun penting untuk mengetahuinya agar lebih waspada. Faktor-faktor tersebut antara lain:
- Usia (di atas 65 tahun).
- Adanya riwayat keluarga dengan kondisi medis yang sama,
- Alami kondisi kronis tertentu seperti diabetes, penyakit ginjal, dan sleep apnea.
- Sedang hamil.
- Tingkat stres yang tinggi.
Baca Juga: Gagal Ginjal, Sesaat atau Seumur Hidup?
2. Faktor Risiko yang Dapat Diubah
Ini adalah faktor-faktor hipertensi yang paling mungkin dapat Anda kendalikan dan ubah untuk mengurangi risiko hipertensi:
- Sering mengonsumsi makanan tinggi garam berlebihan.
- Kelebihan berat badan atau obesitas.
- Kurang mengonsumsi buah dan sayuran.
- Tidak aktif secara fisik atau jarang berolahraga.
- Memiliki kebiasaan merokok.
- Banyak mengonsumsi minuman beralkohol.
- Mengonsumsi terlalu banyak makanan atau minuman yang mengandung kafein.
Diagnosis Hipertensi dan Peranan Pemeriksaan Lanjutan
Diagnosis hipertensi yang pertama kali dilakukan adalah dengan mengajukan pertanyaan mendalam mengenai riwayat kesehatan Anda dan keluarga, serta faktor gaya hidup seperti kebiasaan merokok, diet tinggi garam, dan konsumsi alkohol.
Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan fisik dan pengukuran tekanan darah yang akurat. Tekanan darah diukur menggunakan alat tensimeter (sphygmomanometer).
Pengukuran ini harus dilakukan berulang kali pada waktu yang berbeda untuk memastikan bahwa kondisi tekanan darah tinggi bersifat konsisten.
Hasil pengukuran tekanan darah tersebut kemudian akan diklasifikasikan ke dalam kategori berikut:
Kategori tekanan darah menurut pengukuran:
|
Kategori |
Tekanan Sistolik (Angka Atas) |
Tekanan Diastolik (Angka Bawah) |
|
Normal |
Di bawah 120 mmHg |
Dan di bawah 80 mmHg |
|
Meningkat (Prahipertensi) |
120–129 mmHg |
Dan kurang dari 80 mmHg |
|
Hipertensi Tingkat 1 |
130–139 mmHg |
Atau 80–89 mmHg |
|
Hipertensi Tingkat 2 |
≥ 140 mmHg |
Atau ≥ 90 mmHg |
|
Krisis Hipertensi |
Lebih tinggi dari 180 mmHg |
Dan/atau lebih tinggi dari 120 mmHg |
Apabila hasil pengukuran masih samar, atau jika Anda sudah dipastikan menderita hipertensi, dokter akan mencari tahu penyebab hipertensi sekunder dan mendeteksi kerusakan organ (target organ damage) yang mungkin terjadi akibat kondisi kronis ini.
Beberapa metode pemeriksaan penunjang dapat dilakukan yaitu:
1. Pemantauan Rawat Jalan (Ambulatory Monitoring)
Tujuannya adalah untuk memeriksa tekanan darah Anda secara teratur selama periode 6 hingga 24 jam menggunakan alat portabel.
Ini membantu mendiagnosis fenomena seperti 'hipertensi jas putih' (tekanan darah tinggi hanya saat di klinik) atau 'hipertensi tersembunyi' (tekanan darah tinggi hanya terjadi di luar klinik).
2. Test Pemeriksaan Fisik
Selain pemeriksaan fisik, beberapa tes tambahan sering dilakukan untuk membantu mendiagnosis hipertensi dan mencari penyebabnya.
Pemeriksaan ini mencakup tes laboratorium dan pencitraan (imaging) untuk menilai organ-organ yang berperan dalam regulasi tekanan darah:
a. Tes Laboratorium
- Tes Kadar Kolesterol dan Gula Darah: Untuk memeriksa kondisi yang dapat menyebabkan atau memperburuk tekanan darah tinggi (seperti diabetes atau kolesterol tinggi).
- Pemeriksaan Fungsi Ginjal dan Tes Urine: Untuk menilai fungsi ginjal. Tes urine dapat mengidentifikasi adanya protein, darah, atau hormon kortisol yang tinggi.
- Pemeriksaan Fungsi Tiroid: Untuk menilai fungsi kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) dan dapat memengaruhi tekanan darah.
b. Pemeriksaan Pencitraan (Imaging)
- USG Ginjal: Untuk melihat kondisi ginjal secara umum.
- CT Scan Ginjal dan Kelenjar Adrenal: Memberikan gambaran yang lebih rinci untuk mendeteksi tumor atau kelainan struktural pada organ yang dapat memicu hipertensi sekunder.
3. Pemeriksaan Jantung
Pemeriksaan jantung adalah suatu jenis pemeriksaan kunci untuk menilai dampak hipertensi pada organ jantung Anda, dengan meliputi dua proses pemeriksaan beriku:
a. Elektrokardiogram (EKG)
Caranya dengan mengukur aktivitas listrik jantung dan mengetahui seberapa cepat atau lambat jantung berdetak.
b. Ekokardiogram
Pemeriksaan non-invasif ini menggunakan gelombang suara (ultrasound) untuk menghasilkan gambaran detail detak jantung. Ini menunjukkan bagaimana darah bergerak melalui jantung dan katup jantung, serta menilai fungsi pompa jantung.
Cara Mengatasi Hipertensi
Meskipun hipertensi primer (yang tidak memiliki penyebab spesifik) umumnya tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, kondisi ini dapat dikendalikan secara efektif untuk mencegah komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, dan gagal ginjal.
Cara mengatasi hipertensi biasanya melibatkan kombinasi perubahan gaya hidup dan pengobatan sesuai kebutuhan, di antaranya:
1. Pengaturan Gaya Hidup
Perubahan gaya hidup adalah langkah pertama dan sangat penting dalam mengontrol hipertensi:
- Penurunan Berat Badan: Bahkan penurunan 5–10% dari berat badan bisa memberi dampak positif.
- Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension): Diet ini menekankan konsumsi buah, sayuran, biji-bijian, dan produk susu rendah lemak, serta membatasi lemak jenuh dan gula tambahan.
- Pembatasan Garam: Mengurangi asupan garam hingga kurang dari 2.300 mg per hari (sekitar 1 sendok teh) dapat membantu menurunkan tekanan darah.
- Aktivitas Fisik Teratur: Olahraga seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda minimal 150 menit per minggu dapat membantu menurunkan tekanan darah dan memperkuat jantung.
- Hindari Rokok dan Batasi Alkohol: Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat memperburuk hipertensi dan meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.
- Kelola Stres: Teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau hobi positif dapat membantu menurunkan tekanan darah.
2. Pengobatan (Obat-Obatan Anti-Hipertensi)
Jika perubahan gaya hidup belum cukup, dokter dapat meresepkan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah. Jenis obat dan dosis ditentukan berdasarkan kondisi spesifik pasien, termasuk:
- Diuretik: Membantu tubuh membuang kelebihan garam dan air.
- ACE Inhibitor dan ARB: Membantu melebarkan pembuluh darah sehingga tekanan darah menurun.
- Beta-blocker: Mengurangi beban kerja jantung dan denyut jantung.
- Calcium Channel Blocker: Membantu pembuluh darah rileks dan menurunkan tekanan darah.
Pencegahan Hipertensi
Dikarenakan hipertensi bisa berkembang tanpa gejala yang jelas,maka dibutuhkan langkah pencegahan sangat penting agar tekanan darah tetap normal dan risiko komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal dapat dikurangi.
Berikut beberapa cara efektif untuk mencegah hipertensi:
1. Pola Makan Sehat
Cobalah mengatur pola makan yang seimbang dan tepat sebagai fondasi utama untuk mencegah hipertensi seperti:
- Konsumsi banyak buah, sayuran, biji-bijian, dan protein rendah lemak.
- Kurangi makanan olahan, garam, dan gula berlebih.
- Hindari lemak jenuh dan trans; pilih minyak sehat seperti minyak zaitun atau minyak kanola.
2. Menjaga Berat Badan Ideal
Berat badan yang sehat membantu menjaga tekanan darah tetap normal, berikut idealnya yaitu:
- Penurunan berat badan 5–10% dapat berdampak signifikan pada tekanan darah.
- Mempertahankan indeks massa tubuh (BMI) ideal sangat dianjurkan.
3. Aktivitas Fisik Teratur
Olahraga rutin membantu jantung bekerja lebih efisien dan menurunkan tekanan darah, di antaranya:
- Lakukan olahraga minimal 30 menit per hari, 5 hari per minggu.
- Pilih jenis olahraga yang menyenangkan, seperti jalan cepat, berenang, bersepeda, atau senam ringan.
4. Hindari Rokok dan Batasi Alkohol
Menghindari rokok dan membatasi alkohol sangat penting untuk mencegah hipertensi dan komplikasi jantung. Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko penyakit kardiovaskular.
5. Kelola Stres
Stres yang tinggi dapat memicu peningkatan tekanan darah, sehingga perlu dikelola dengan baik. Teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, yoga, atau hobi menenangkan dapat membantu.
6. Pemeriksaan Rutin
Monitoring tekanan darah secara berkala membantu deteksi dini hipertensi. Lakukan pemeriksaan, terutama jika memiliki faktor risiko seperti usia ≥ 40 tahun, riwayat keluarga hipertensi, atau penyakit kronis lainnya.
Baca Juga: Tekan Risiko Hipertensi dengan Gaya Hidup Sehat
FAQ Seputar Hipertensi
Berikut adalah beberapa FAQ atau pertanyaan seputar hipertensi yang sering ditanyakan oleh para penderita:
1. Apa makanan yang harus saya hindari ketika saya memiliki tekanan darah tinggi?
Anda harus menghindari makanan tinggi garam, lemak jenuh, dan lemak trans (seperti makanan cepat saji, makanan olahan, junk food, dan daging olahan). Tingkatkan konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, dan makanan tinggi kalium.
2. Bagaimana kolesterol tinggi terkait dengan hipertensi?
Kolesterol tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah (patofisiologi hipertensi yang melibatkan pengerasan arteri), yang dikenal sebagai aterosklerosis.
Kondisi ini membuat pembuluh darah menyempit dan kaku, yang pada akhirnya memaksa jantung memompa lebih keras dan menyebabkan hipertensi. Kedua kondisi ini adalah risiko hipertensi utama penyakit kardiovaskular.
3. Bagaimana cara menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi) dengan cepat di rumah?
Jika tekanan darah Anda tiba-tiba melonjak tinggi, segera cari pertolongan medis darurat. Untuk penurunan yang stabil, tidak ada solusi cepat.
Namun teknik pernapasan dalam, istirahat total, atau meminum obat yang diresepkan dapat membantu sementara. Jangan mencoba pengobatan rumahan ekstrem karena dapat membahayakan.
4. Mengapa tekanan darah saya tinggi meskipun saya berolahraga?
Olahraga adalah cara mencegah hipertensi yang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang bisa menjadi pencegahan utama.
Faktor genetik, pola makan tinggi garam, stres kronis, atau adanya kondisi medis lain yang memengaruhi ginjal atau hormon, semuanya dapat berkontribusi pada hipertensi. Konsultasikan dengan dokter Anda untuk pemeriksaan menyeluruh.
5. Apakah hipertensi bersifat genetik?
Ya, ada komponen genetik. Jika ada riwayat hipertensi dalam keluarga, risiko hipertensi Anda meningkat. Namun, genetika hanya memuat potensi; gaya hidup Anda menentukan apakah hipertensi bisa sembuh atau terkendali.
6. Apakah hipertensi merupakan penyakit kronis?
Ya, sebagian besar kasus hipertensi primer adalah kondisi kronis yang memerlukan pemantauan dan manajemen jangka panjang. Pengobatan dan perubahan gaya hidup harus dilakukan secara berkelanjutan.
Kapan Harus ke Dokter?
Mengingat hipertensi dampak yang bisa berakibat fatal, setiap orang dewasa harus secara teratur memeriksa tekanan darahnya, bahkan jika Anda merasa sehat.
Jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi, obesitas, atau gaya hidup kurang sehat, waktu yang tepat adalah sekarang.
Jangan biarkan silent killer ini mengancam masa depan Anda. Tzu Chi Hospital PIK memiliki tim dokter spesialis jantung, ahli gizi, dan fasilitas diagnostik modern, termasuk EKG canggih, untuk memastikan Anda mendapatkan penanganan terbaik.
Ambil langkah proaktif untuk kesehatan Anda hari ini:
- Segera klik menu Cari Dokter di website Tzu Chi Hospital PIK untuk mencari dokter spesialis Anda.
- Jadwalkan medical check-up tahunan Anda untuk mendeteksi hipertensi dan komplikasi lainnya sedini mungkin.
- Hubungi kami via WhatsApp sekarang untuk menjadwalkan konsultasi dan janji temu bersama dokter.
Artikel ini telah ditinjau oleh Dr. Marihot Tambunan, Sp.PD-KGH
Referensi:
PubMed. (2021). Prevalensi hipertensi pada populasi dewasa di kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai 33,82% pada populasi perkotaan. PubMed.
Organisasi Kesehatan Dunia. (2025). Di kawasan Asia Tenggara, lebih dari 294 juta orang berusia ≥30 tahun diperkirakan hidup dengan tekanan darah tinggi. WHO.
PMC. (2022). Dalam survei di Indonesia, prevalensi hipertensi tertinggi ditemukan pada kelompok usia 60+ tahun, yaitu 63,2%. PubMed Central.





