Kesehatan Ibu dan Anak

Demam pada Anak - Gejala, Penyebab, & 3 Cara Pengobatan

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi29 Desember 2025

BAGIKAN
artikel feature image

Demam pada anak adalah kondisi ketika suhu tubuh meningkat di atas batas normal melebihi 37,5°C. Kondisi ini umumnya terjadi karena respons alami tubuh terhadap infeksi, baik akibat virus maupun bakteri.

Namun, bagi banyak orang tua, demam sering kali menimbulkan kekhawatiran besar. Anak terlihat lemas, rewel, sulit tidur, bahkan kadang tidak mau makan. Kekhawatiran ini semakin meningkat jika suhu tubuh anak terus naik atau disertai gejala lain seperti kejang atau kesulitan bernapas.

Agar tidak panik berlebihan, penting bagi orang tua untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi saat anak demam. 

Oleh karena itu, simak artikel ini sampai akhir untuk mengetahui gejala, penyebab, serta cara mengatasi demam pada anak dengan tepat dan aman.

Apa Itu Demam pada Anak?

demam pada anak

Ilustrasi demam pada anak

Demam pada anak adalah kondisi ketika suhu tubuh meningkat di atas batas normal. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), suhu tubuh pada penderita demam biasanya lebih dari 37,5°C jika diukur melalui ketiak (aksila) atau lebih dari 38°C jika diukur melalui dubur (rektal).

Sebuah studi internasional menunjukkan bahwa keluhan demam sering kali muncul pada sekitar 20%-30% kunjungan ke UGD atau unit pediatrik darurat

Demam pada anak sejatinya bukanlah penyakit, melainkan tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi, bisa disebabkan oleh virus, bakteri, atau faktor lain seperti imunisasi dan kelelahan.

Sebagian besar demam pada anak bersifat ringan dan dapat sembuh dengan istirahat, hidrasi, serta pemantauan suhu secara teratur. Namun, demam tinggi pada bayi di bawah 3 bulan harus segera diperiksakan ke dokter karena bisa menandakan infeksi serius.

Secara teknis, demam berfungsi sebagai mekanisme adaptif untuk mengoptimalkan kinerja leukosit (sel darah putih) dan membatasi replikasi patogen. 

Namun, klasifikasi tingkat suhu dan korelasi usia menjadi parameter red flag utama yang menentukan urgensi tindakan medis, terutama pada kelompok usia rentan.

  • Definisi Suhu Kritis: Suhu ≥ 38,0°C (rektal) atau ≥ 37,2°C (aksila).
  • Signifikansi Usia: Suhu ≥ 38,0°C pada bayi berusia di bawah 3 bulan merupakan kegawatdaruratan medis dan memerlukan evaluasi kemungkinan sepsis.
  • Klasifikasi: Demam tinggi (hiperpireksia) secara teknis didefinisikan pada suhu ≥ 40°C. Kondisi ini dapat berpotensi memicu kejang demam.
  • Indikasi Aktivitas Imun: Demam adalah mekanisme pertahanan; tujuannya bukan untuk menormalkan suhu, melainkan meningkatkan kenyamanan anak.

Penyebab Demam pada Anak

Secara etiologi, penyebab demam pada anak didominasi oleh infeksi (baik virus maupun bakteri) yang memicu kaskade inflamasi, namun evaluasi diferensial diagnosis harus mencakup faktor non-infeksi. 

Memahami pemicu ini adalah esensi dari penanganan demam pada anak yang tepat. Sebab, penanganan antibiotik hanya efektif untuk infeksi bakteri, sementara infeksi virus sering kali self-limiting. 

Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan Gastroenteritis adalah penyebab tersering pada usia prasekolah.

Beberapa penyebab demam pada anak di antaranya adalah:

1. Infeksi Virus Umum

Penyebab demam pada anak yang pertama bisa berasal dari infeksi virus umum. Infeksi seperti ini adalah penyebab tersering pada anak usia demam pada anak 1 tahun hingga demam pada anak 3 tahun.

Infeksi virus umum yang menjadi penyebab demam pada anak yaitu:

  • Bronkiolitis
  • Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)
  • Demam Berdarah
  • Jenis Pneumonia Tertentu
  • Flu Singapura
  • Roseola.

Baca Juga: Ini Alasan Vaksin Influenza Perlu Diulang Setiap Tahun

2. Infeksi Bakteri Serius

Kemudian, penyebab demam pada anak yang berikutnya bisa berasal dari infeksi bakteri serius seperti:

  • Tuberkulosis (TBC)
  • Infeksi Saluran Kemih (ISK)
  • Difteri
  • Infeksi Telinga
  • Demam Rematik
  • atau Meningitis. 
  • Kondisi ini memerlukan identifikasi cepat dan intervensi antibiotik spesifik.

Baca Juga: 12 Makanan Penyebab Tipes, Stop Jajan Sembarangan!

3. Reaksi Imunologis Pasca Vaksinasi

Reaksi ini dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI). Demam timbul sebagai respons normal sistem imun anak terhadap antigen yang dimasukkan. 

Reaksi ini umumnya ringan, tidak berbahaya, dan hanya berlangsung singkat (1-2 hari). KIPI yang sering menjadi penyebab demam pada anak adalah dari pemberian:

  • Vaksin DPT
  • Vaksin MMR.

4. Penyakit Tropis

Di wilayah endemik, demam pada anak bisa menjadi manifestasi dari penyakit tropis yang ditularkan melalui vektor. 

Malaria adalah contoh klasik yang menunjukkan pola demam yang khas. Ciri-ciri demam pada Malaria meliputi:

  • Menggigil hebat
  • Demam yang bersiklus (terjadi dalam siklus 3 atau 4 hari sekali).

5. Tumbuh Gigi (Teething)

Meskipun bukan penyakit, proses tumbuh gigi dapat memicu peningkatan suhu ringan yang sering dikaitkan dengan peradangan lokal pada gusi dan peningkatan air liur, terutama pada bayi, sehingga menimbulkan demam

Ciri-ciri demam akibat tumbuh gigi antara lain:

  • Peningkatan suhu ringan
  • Gusi bengkak
  • Banyak mengeluarkan air liur
  • Anak suka menggigit benda di sekitarnya, seperti pakaian.

6. Penyakit Inflamasi Sistemik

Penyebab demam pada anak non-infeksius seperti ini bersifat serius karena melibatkan peradangan pembuluh darah (vaskulitis). Penyakit Kawasaki membutuhkan penanganan khusus untuk mencegah kerusakan jantung permanen.

Contoh kondisi terkait:

  • Penyakit Kawasaki, vaskulitis sistemik yang menyerang pembuluh darah sedang.
  • Pediatric Inflammatory Multisystem Syndrome (PIMS/MIS-C), komplikasi inflamasi pasca infeksi SARS-CoV-2 (COVID-19).
  • Systemic Juvenile Idiopathic Arthritis (sJIA), peradangan kronis dengan gejala demam tinggi berulang dan nyeri sendi.

Ciri khas penyakit Kawasaki:

  • Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari 5 hari)
  • Disertai dengan ruam kemerahan pada hampir seluruh bagian tubuh.

7. Reaksi Alergi

Kemudian, demam juga sering menjadi bagian dari reaksi hipersensitivitas tubuh terhadap zat tertentu, seperti obat-obatan. Demam yang timbul biasanya disertai manifestasi alergi lainnya pada kulit dan saluran napas.

Contoh penyebab medis:

  • Reaksi terhadap antibiotik seperti ampisilin, amoksisilin, atau sulfonamid.
  • Drug Reaction with Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS syndrome), reaksi alergi berat dengan demam, ruam, dan gangguan organ.
  • Serum sickness-like reaction, reaksi terhadap protein asing dari obat atau vaksin.

8. Reaksi Transfusi

Pada anak yang menjalani transfusi darah, demam dapat muncul segera setelah prosedur sebagai reaksi terhadap komponen darah donor. 

Kondisi ini disebut reaksi transfusi febril dan memerlukan pemantauan ketat karena bisa menandakan adanya ketidakcocokan atau reaksi imun tubuh terhadap sel darah asing.

Beberapa reaksi yang terjadi:

  • Febrile Non-Hemolytic Transfusion Reaction (FNHTR), reaksi terhadap sitokin atau antibodi leukosit donor.
  • Hemolytic Transfusion Reaction, terjadi karena ketidakcocokan golongan darah (mismatch ABO).
  • Transfusion-Related Acute Lung Injury (TRALI), komplikasi berat akibat antibodi plasma donor.

9. Faktor Lingkungan

Demam pada anak tidak selalu disebabkan oleh infeksi. Paparan panas berlebih, seperti bermain terlalu lama di bawah sinar matahari tanpa hidrasi cukup, dapat menyebabkan heatstroke, gangguan serius pada sistem pengaturan suhu tubuh. 

Kondisi ini bisa memicu suhu tubuh sangat tinggi dan berpotensi mengancam jiwa jika tidak segera ditangani.

Fase reaksi yang terjadi:

  • Heat exhaustion, fase awal kelelahan panas, disertai lemas dan berkeringat banyak.
  • Heatstroke klasik, terjadi akibat paparan suhu ekstrem tanpa hidrasi cukup.
  • Exertional heatstroke, akibat aktivitas fisik berlebihan dalam cuaca panas.

10. Keganasan

Jika anak mengalami demam berkepanjangan tanpa penyebab jelas (Fever of Unknown Origin), dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan penyakit hematologi atau onkologi, seperti leukemia atau limfoma.

Pada kondisi ini, demam bukan karena infeksi, melainkan akibat respons tubuh terhadap pertumbuhan sel abnormal di dalam sistem darah atau jaringan.

Contoh penyakit:

  • Leukemia limfoblastik akut (ALL), kanker darah paling sering pada anak, menimbulkan demam, pucat, dan perdarahan.
  • Limfoma Hodgkin dan Non-Hodgkin, kanker sistem limfatik yang menyebabkan demam dan pembesaran kelenjar getah bening.
  • Neuroblastoma, tumor sistem saraf simpatis, sering menyebabkan demam tak jelas sumbernya.

Gejala Demam pada Anak

Karena demam pada anak disebabkan oleh peningkatan suhu di atas batas normal, maka reaksi pada anak bisa dilihat dari tanda-tanda yang muncul di sekitar tubuh maupun perubahan perilaku. 

Selain suhu yang tinggi, ada sejumlah gejala demam pada anak dan perubahan perilaku yang sering terjadi seperti:

  1. Tubuh terasa hangat atau panas saat disentuh, terutama di dahi, leher, atau punggung.
  2. Wajah tampak memerah, kulit terasa kering atau justru berkeringat berlebihan.
  3. Anak menjadi rewel, lemas, atau lebih banyak tidur dari biasanya.
  4. Penurunan nafsu makan dan minum.
  5. Detak jantung dan pernapasan lebih cepat dari normal.
  6. Menggigil atau gemetar, terutama saat suhu tubuh baru mulai naik.
  7. Sakit kepala atau nyeri otot ringan.
  8. Dehidrasi ringan, yang ditandai dengan bibir kering, air seni berkurang, atau warna urine lebih pekat.

Pada beberapa kasus, terutama pada bayi dan balita, demam juga bisa disertai dengan:

  • Kejang demam (febrile seizure).
  • Menangis terus-menerus atau sulit dibangunkan.
  • Kesulitan bernapas atau tampak sesak.

Diagnosis Demam pada Anak

Diagnosis definitif demam memerlukan pendekatan analitis yang terstruktur, dimulai dari anamnesis komprehensif, pemeriksaan fisik, hingga investigasi laboratorium untuk mengidentifikasi etiologi spesifik. 

Diagnosis demam pada anak bertujuan untuk menentukan penyebab utama kenaikan suhu tubuh, apakah berasal dari infeksi, faktor lingkungan, atau kondisi medis lainnya. 

Proses diagnosis biasanya dilakukan secara bertahap oleh dokter melalui beberapa langkah berikut:

1. Anamnesis (Wawancara Medis)

Dokter akan menanyakan riwayat demam anak, seperti:

  • Kapan demam mulai muncul dan berapa lama berlangsung.
  • Pola naik-turunnya suhu tubuh.
  • Gejala penyerta (batuk, pilek, ruam, muntah, diare, nyeri, atau kejang).
  • Riwayat vaksinasi, konsumsi obat, serta kemungkinan paparan penyakit dari lingkungan.

2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan dilakukan untuk mencari tanda-tanda infeksi atau gangguan lain, misalnya:

  • Pemeriksaan tenggorokan, telinga, dan paru-paru.
  • Palpasi perut untuk mendeteksi pembesaran organ.
  • Pemeriksaan kulit untuk melihat adanya ruam atau tanda infeksi lokal.

3. Pengukuran Suhu Tubuh Anak

Sebelum menentukan penyebab, dokter atau orang tua perlu memastikan cara pengukuran suhu dilakukan dengan benar.

Agar hasilnya akurat, berikut panduan area tubuh yang dapat diukur menggunakan termometer sesuai usia anak:

  • Usia < 3 bulan: pengukuran melalui dubur (rektal).
  • Usia ≥ 6 bulan: dapat diukur melalui dubur atau telinga (timpani).
  • Usia ≥ 4 tahun: dapat menggunakan dubur, telinga, atau mulut (oral).

Pemilihan lokasi pengukuran penting karena hasil dapat bervariasi; suhu rektal biasanya paling akurat untuk mendeteksi demam pada bayi dan anak kecil.

4. Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium dan Radiologi)

Jika penyebab belum jelas, dokter dapat melakukan beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Tes darah lengkap (CBC) untuk menilai infeksi bakteri atau virus.
  • Urinalisis untuk mendeteksi infeksi saluran kemih.
  • Rontgen dada (X-ray thorax) bila dicurigai pneumonia.
  • Tes serologi atau kultur darah jika demam berlangsung lama tanpa sebab jelas (Fever of Unknown Origin).

5. Evaluasi Lanjutan

Pada kasus tertentu, terutama demam berkepanjangan atau berulang, dokter anak dapat bekerja sama dengan spesialis lain (misalnya spesialis infeksi, imunologi, atau onkologi) untuk menyingkirkan penyakit kronis atau keganasan.

Pengobatan Demam pada Anak

Tidak semua demam pada anak memerlukan pengobatan medis. Dalam banyak kasus, demam ringan merupakan reaksi alami tubuh terhadap infeksi dan akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa hari. 

Tujuan utama penanganannya adalah meningkatkan kenyamanan anak dan mencegah komplikasi, bukan semata-mata menurunkan suhu tubuh.

Beberapa cara pengobatan demam pada anak yaitu:

1. Perawatan di Rumah

Bila demam tidak disertai gejala berat, orang tua dapat membantu menurunkan suhu anak dan menjaga kondisinya dengan langkah-langkah berikut:

  • Atur suhu kamar anak agar tetap sejuk, tidak terlalu panas atau dingin.
  • Mandikan anak dengan air hangat suam-suam kuku, bukan air dingin.
  • Kenakan pakaian dan selimut yang tipis serta nyaman, agar panas tubuh mudah keluar.
  • Jaga asupan cairan anak sesuai usia, bisa dengan ASI, air putih, atau larutan elektrolit/oralit untuk mencegah dehidrasi.
  • Tidak perlu memaksa anak makan banyak, yang penting cukup asupan cairan dan nutrisi ringan.
  • Pastikan anak cukup istirahat, hindari aktivitas berat sampai suhu tubuh stabil.
  • Kompres hangat di dahi, ketiak, atau lipatan paha juga dapat membantu menurunkan suhu secara bertahap.

Baca Juga: Optimalkan Kekebalan Tubuh Anak, Pentingnya Imunisasi Sejak Awal Kehidupan

2. Pemberian Obat Penurun Panas (Antipiretik)

Jika suhu tubuh anak mencapai 38°C atau lebih dan tampak tidak nyaman, dokter dapat merekomendasikan penggunaan obat penurun panas seperti:

  • Paracetamol (acetaminophen), aman digunakan untuk bayi dan anak dengan dosis sesuai berat badan.
  • Ibuprofen, bisa digunakan untuk anak di atas 6 bulan, jika tidak memiliki gangguan lambung atau alergi terhadap obat ini.

Perhatian penting:

  • Jangan berikan aspirin pada anak karena dapat menyebabkan sindrom Reye, kondisi langka namun berbahaya.
  • Hindari memberikan dua jenis obat penurun panas bergantian tanpa petunjuk dokter.
  • Selalu ikuti aturan dosis dan interval pemberian sesuai anjuran dokter atau label kemasan.

3. Pengobatan Sesuai Penyebab

Jika penyebab demam adalah kondisi medis tertentu, maka pengobatan harus diarahkan secara spesifik ke penyebabnya seperti:

  • Infeksi bakteri → memerlukan antibiotik sesuai resep dokter.
  • Infeksi virus → cukup dengan perawatan suportif dan observasi.
  • Heatstroke atau dehidrasi berat → membutuhkan rehidrasi cairan dan penanganan medis segera.
  • Kondisi serius seperti sepsis, pneumonia, atau demam berkepanjangan → membutuhkan evaluasi dan perawatan di rumah sakit.

Komplikasi Demam pada Anak

Sebagian besar demam pada anak bersifat ringan dan akan mereda dengan sendirinya. Namun, pada kondisi tertentu, demam dapat menimbulkan komplikasi, terutama bila suhu tubuh naik terlalu tinggi atau berlangsung lama tanpa penanganan. Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah kejang demam (febrile seizure).

Beberapa kondisi dapat menjadi komplikasi demam pada anak, terutama jika tidak ditangani dengan baik, antara lain:

  • Kejang demam: Terjadi akibat peningkatan suhu tubuh yang mendadak, terutama pada anak usia 6 bulan–5 tahun.
  • Dehidrasi: Tubuh kehilangan banyak cairan karena demam tinggi dan kurang asupan minum.
  • Gangguan kesadaran: Suhu tubuh ekstrem dapat menyebabkan anak tampak linglung atau sulit dibangunkan.
  • Heatstroke (sengatan panas): Terjadi akibat paparan panas berlebih dan gangguan pengaturan suhu tubuh.
  • Sepsis: Infeksi berat yang menyebar ke seluruh tubuh dan menimbulkan kerusakan organ.
  • Gangguan metabolik atau sirkulasi: Demam tinggi berkepanjangan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dan tekanan darah.

Berikut langkah-langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan jika anak mengalami kejang demam:

  • Longgarkan atau lepaskan pakaian anak agar sirkulasi udara lancar.
  • Jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut anak (termasuk sendok, jari, atau obat).
  • Posisikan anak berbaring miring atau tengkurap di lantai agar jalan napas tetap terbuka dan mencegah tersedak.
  • Singkirkan benda tajam atau keras dari sekitar anak untuk mencegah cedera.
  • Pegang tubuh anak dengan lembut hanya untuk mencegah gerakan berlebihan, bukan untuk menahan kejangnya.
  • Amati dan catat durasi kejang, umumnya berlangsung kurang dari 5 menit.
  • Setelah kejang berhenti, bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan, terutama jika ini adalah kejadian pertama kali atau kejang berlangsung lebih dari 5 menit.

Pencegahan Demam pada Anak

Pencegahan demam pada anak paling efektif berfokus pada reduksi paparan patogen dan penguatan sistem imun anak. Strategi pencegahan bersifat primer dan sekunder, yang harus diterapkan oleh seluruh anggota keluarga.

Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan tangan: Biasakan anak mencuci tangan sebelum makan dan setelah beraktivitas.
  • Memberikan makanan bergizi seimbang: Nutrisi yang cukup membantu memperkuat daya tahan tubuh anak.
  • Memastikan anak cukup istirahat: Tidur yang cukup membantu sistem imun bekerja optimal.
  • Menjaga kebersihan lingkungan: Hindari penumpukan debu, kotoran, atau genangan air yang menjadi sumber penyakit.
  • Hindari kontak dengan orang sakit: Batasi interaksi anak dengan individu yang sedang demam, batuk, atau pilek.
  • Pastikan imunisasi lengkap: Vaksinasi sesuai jadwal membantu mencegah penyakit penyebab demam seperti campak, flu, atau tifoid.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional di Tzu Chi Hospital PIK?

kapan harus ke dokter

Sebagai orang tua yang bertanggung jawab, Anda harus menetapkan ambang batas yang jelas kapan demam dapat dikelola di rumah dan kapan harus mencari evaluasi medis segera.

Ketika demam disertai tanda bahaya atau telah melebihi durasi klinis yang diizinkan, seperti melewati batas maksimal demam pada anak yang bisa ditoleransi, maka dibutuhkan fasilitas kesehatan yang memiliki kapabilitas diagnostik dan intervensi yang cepat dan terintegrasi.

Dalam hal ini, Tzu Chi Hospital PIK bisa menjadi pilihan tepat bagi Anda ketika demam pada anak tak kunjung usai setelah beberapa hari.

Di Tzu Chi Hospital PIK, tim dokter spesialis anak kami dilengkapi dengan teknologi diagnostik terkini untuk penanganan demam pada anak secara akurat dan cepat, memastikan perawatan terbaik sesuai standar etika dan medis.

Jangan biarkan demam mengganggu keceriaan aktivitas bermain anak Anda. Dapatkan kepastian diagnosis dan penanganan terbaik hari ini!

Yuk, periksakan anak Anda hari ini.

  • Segera temukan dokter spesialis anak yang Anda butuhkan dengan klik menu Cari Dokter di website Tzu Chi Hospital PIK.
  • Selalu lakukan medical check up rutin untuk memantau kesehatan anak secara berkala dan meminimalisir kemungkinan penyakit/demam di kemudian hari.

Hubungi kami via WhatsApp sekarang juga untuk menjadwalkan janji temu dan konsultasi bersama dokter kami yang berpengalaman.

 

Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Dasman, Sp.A

 

Referensi:

Devopress. The Burden Of Visits For Fever At A Paediatric Emergency Room: A Retrospective Study On Patients Presenting At The Cantons Hospital Of Fribourg, A Peripheral Public Hospital Of Switzerland.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Penanganan Demam pada Anak.


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS