Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit
Benjolan di Vagina (Rektokel) - Gejala, Penyebab, & Pengobatan
Ditulis Oleh
Admin TzuChi • 21 Januari 2026

Rektokel adalah kondisi medis yang terjadi ketika dinding rektum menonjol ke dalam vagina akibat melemahnya jaringan penyokong panggul.
Banyak wanita merasa khawatir atau tidak nyaman karena mengalami kesulitan buang air besar, rasa tekanan di panggul, atau munculnya benjolan di vagina. Kondisi ini bisa memengaruhi kualitas hidup sehari-hari dan menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatan jangka panjang.
Suatu penelitian memberikan bukti bahwa salah satu mekanisme yang mungkin memunculkan gejala pada rektokel adalah adanya perbedaan tekanan antara rektum dan vagina. Dengan kata lain, semakin besar tekanan yang tidak seimbang, semakin mungkin muncul gejala seperti kesulitan buang air besar
Simak artikel ini sampai akhir untuk memahami penyebab, gejala, serta pilihan penanganan rektokel yang tepat.
Apa Itu Rektokel

Ilustrasi perbandingan normal vs rektokel | Sumber: Healthdirect
Rektokel adalah kondisi medis ketika dinding rektum (bagian akhir usus besar) menonjol atau menggembung ke dalam dinding belakang vagina. Ini terjadi akibat melemahnya jaringan penyokong yang memisahkan rektum dari vagina.
Kondisi seperti ini sering kali disebut sebagai prolaps vagina posterior. Kondisi ini merupakan salah satu jenis prolaps organ panggul (POP), yaitu turunnya satu atau lebih organ panggul ke vagina.
Melansir dari salah satu jurnal, kondisi rektokel ini bisa tetap ringan atau memburuk seiring waktu, sehingga memerlukan penanganan bila mulai menimbulkan gejala seperti “benjolan” di vagina atau kesulitan buang air besar
Rektokel sendiri memiliki ‘saudara’ lain dalam kategori prolaps organ panggul, seperti:
- Sistokel adalah: Kondisi ketika dinding kandung kemih menonjol ke dalam dinding depan vagina.
- Enterokel adalah: Kondisi ketika usus halus menonjol ke dinding atas vagina.
Baca Juga: 11 Ciri-Ciri Janin Masuk Panggul, Tanda Persalinan Mendekat!
Gejala Rektokel
Meskipun rektokel tidak selalu menimbulkan gejala, penting untuk Anda mengenali tanda-tanda ketika ia mulai memengaruhi kualitas hidup Anda. Ketika gejala muncul, biasanya terasa lebih tidak nyaman daripada nyeri.
Gejala rektokel meliputi:
- Tonjolan Jaringan Lunak: Anda dapat merasakan adanya tonjolan jaringan lunak di dinding belakang vagina, terutama saat Anda mengejan atau batuk.
- Perasaan Belum Tuntas Saat BAB: Merasa rektum belum sepenuhnya kosong setelah buang air besar, yang dapat menyebabkan Anda merasa perlu ke toilet berkali-kali.
- Perlu Bantuan Jari (Splinting): Harus menekan jari Anda pada tonjolan di vagina untuk mendorong keluar kotoran, suatu tindakan yang disebut splinting.
- Kebocoran Kotoran (Inkontinensia Feses): Kebocoran kotoran tanpa terkendali (inkontinensia tinja), yang dapat sangat mengganggu.
- Vagina Terasa Longgar: Merasakan kelonggaran atau hilangnya kekencangan otot pada vagina.
- Hubungan Seksual yang Menyakitkan (Dispareunia): Merasakan nyeri atau ketidaknyamanan selama hubungan seksual.
- Tekanan dan Rasa Penuh: Merasakan tekanan atau rasa penuh pada rektum atau vagina, terutama setelah berdiri lama.
- Dorongan Mendesak (Urgensi Feses): Merasakan dorongan kuat untuk buang air besar beberapa kali sehari.
Penyebab Rektokel
Penyebab utama dari rektokel adalah melemahnya otot-otot, ligamen, dan jaringan ikat yang membentuk dasar panggul (pelvic floor). Otot dasar panggul berfungsi seperti "tempat tidur gantung" yang menopang organ-organ panggul Anda.
Beberapa kejadian yang dapat menyebabkan kerusakan atau peregangan berlebihan pada jaringan penyokong ini meliputi:
1. Penuaan dan Melemahnya Otot Panggul
Seiring bertambahnya usia, otot dan jaringan penyokong panggul cenderung kehilangan kekuatan dan elastisitas dan menimbulkan rektokel.
- Otot panggul melemah seiring usia
- Hormon menopause menurunkan tonus otot
- Dinding vagina lebih mudah terdorong
2. Kehamilan dan Persalinan
Penyebab rektokel yang kedua adalah proses kehamilan dan persalinan memberi tekanan besar pada panggul, yang bisa merusak otot dan ligamen penyokong.
- Tekanan janin pada panggul
- Trauma otot dan ligamen saat persalinan vaginal
- Persalinan lama atau dengan alat meningkatkan risiko
3. Sembelit Kronis dan Mengejan Berlebihan
Mengejan terus-menerus saat buang air besar memberikan tekanan ekstra pada dinding posterior vagina, lama-kelamaan menyebabkan penonjolan rektum.
- Mengejan berulang saat buang air besar
- Memberi tekanan tambahan pada dinding vagina
- Memicu munculnya benjolan di vagina
Baca Juga: 9 Makanan Penyebab BAB Berdarah, Pecinta Pedas Waspada!
4. Kelebihan Berat Badan atau Obesitas
Tekanan yang terus-menerus dari berat badan berlebih dapat mempercepat kelemahan otot dan jaringan penyokong panggul.
- Tekanan lebih pada dasar panggul
- Mempercepat melemahnya jaringan penyokong
5. Faktor Genetik atau Bawaan
Beberapa penyebab rektokel juga terjadi bagi beberapa orang yang memiliki jaringan ikat lebih lemah secara alami, membuat mereka lebih rentan mengalami rektokel.
6. Riwayat Operasi Panggul Sebelumnya
Operasi panggul sebelumnya, terutama yang melibatkan rahim, vagina, kandung kemih, atau rektum, dapat melemahkan jaringan penyokong anterior atau posterior vagina.
Rektokel terjadi ketika dinding posterior vagina dan fascia rectovaginal melemah, sehingga rektum terdorong ke arah vagina.
Bagaimana operasi mempengaruhi rektokel:
-
Histerektomi (pengangkatan rahim):
- Ligamen uterosakral dan fascia yang menahan vagina bisa terganggu.
- Dapat menyebabkan penurunan dukungan pada dinding posterior vagina, sehingga memudahkan terbentuknya rektokel.
-
Operasi prolaps uteri atau perbaikan organ panggul lainnya:
- Perbaikan jaringan penyokong sebelumnya bisa gagal atau menyebabkan redistribusi tekanan pada fascia posterior.
- Kadang membentuk titik lemah baru yang menjadi lokasi rektokel.
-
Operasi anorektal atau reseksi usus:
- Manipulasi rektum atau fascia rectovaginal dapat mengurangi kekuatan dinding posterior vagina.
- Risiko munculnya rektokel meningkat, terutama saat menahan tinja atau saat aktivitas fisik berat.
7. Peningkatan Tekanan di Perut Secara Berulang dan Jangka Panjang
Aktivitas yang meningkatkan tekanan intra-abdomen secara kronis akan menekan dasar panggul. Ini termasuk:
- Batuk kronis yang parah (misalnya pada perokok atau penderita asma).
- Sembelit kronis yang menyebabkan mengejan berlebihan saat BAB.
- Sering mengangkat beban berat.
Faktor dan Risiko Rektokel
Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama. Ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan mengalami rektokel atau prolaps organ panggul lainnya:
- Genetik/Riwayat Keluarga: Jika ibu atau saudara perempuan Anda mengalami prolaps organ panggul, Anda mungkin memiliki kecenderungan genetik terhadap jaringan ikat yang lebih lemah.
- Obesitas: Kelebihan berat badan secara signifikan meningkatkan tekanan di perut, yang terus-menerus menekan dasar panggul.
- Usia: Jaringan ikat cenderung melemah seiring bertambahnya usia.
- Kelahiran dengan Bayi Besar: Melahirkan bayi dengan berat lahir di atas rata-rata dapat meningkatkan trauma pada otot dasar panggul.
- Penuaan: Seiring bertambahnya usia, otot-otot dasar panggul cenderung melemah. Perubahan hormon selama masa menopause juga dapat menurunkan kekuatan dan ketegangan otot di area panggul.
- Sembelit: Usaha mengejan yang terus-menerus saat buang air besar dapat memberikan tekanan berlebihan pada otot-otot dasar panggul.
Diagnosis Rektokel
Jika Anda mengalami gejala-gejala yang mengarah ke kondisi rektokel, biasanya dokter spesialis akan melakukan langkah-langkah diagnosis yang cermat seperti:
1. Wawancara Medis Mendalam
Dokter akan menanyakan secara detail tentang gejala Anda, termasuk kapan keluhan dimulai, tingkat keparahan, dan riwayat persalinan. Dokter akan menanyakan secara spesifik tentang kesulitan BAB, karena ini adalah petunjuk penting untuk rektokel.
2. Pemeriksaan Panggul (Vaginal dan Rektal)
Pemeriksaan fisik adalah cara utama untuk mendiagnosis rektokel.
- Dokter akan meminta Anda mengejan atau batuk (seperti saat cara mengecek peranakan turun) untuk melihat penonjolan organ panggul.
- Dokter akan menilai tingkat keparahan prolaps (biasanya menggunakan sistem POP-Q).
3. Prosedur Diagnostik Tambahan (Jika Diperlukan)
Tergantung kebutuhan, dokter biasanya dapat menyarankan:
- Defekografi: Pemeriksaan pencitraan khusus untuk mengevaluasi bagaimana rektum dan organ panggul bergerak saat Anda BAB.
- Urodinamik: Tes untuk mengevaluasi fungsi kandung kemih, karena sering kali rektokel terjadi bersamaan dengan cystocele adalah (sistokel).
Cara Mengatasi dan Pengobatan Rektokel
Penanganan rektokel disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala dan prolaps, serta keinginan Anda. Perlu diingat bahwa dalam banyak kasus, penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.
Beriku adalah cara mengatasi rektokel yang paling sering digunakan:
1. Terapi Konservatif (Non-Bedah) untuk Tingkat Ringan
Untuk kasus rektokel ringan, tindakan ini biasanya disarankan terlebih dahulu:
- Latihan Otot Dasar Panggul (Senam Kegel): Latihan ini bertujuan untuk memperkuat otot yang menopang organ panggul. Ini adalah salah satu cara mengatasi rahim turun saat hamil muda atau prolaps ringan.
- Pessary: Alat silikon yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menopang organ yang prolaps.
- Perubahan Gaya Hidup: Menghindari mengejan saat BAB (dengan mengonsumsi makanan kaya serat) dan menurunkan berat badan.
2. Perbaikan Bedah (Operasi)
Jika perawatan konservatif tidak cukup untuk mengatasi gejala Anda, operasi adalah pilihan berikutnya.
Selanjutnya, Anda dan dokter spesialis terkait akan mendiskusikan berbagai faktor untuk menentukan prosedur yang tepat, seperti:
- Usia dan kondisi kesehatan umum Anda.
- Tingkat keparahan prolaps Anda.
- Keinginan Anda untuk kehamilan berikutnya.
- Keinginan Anda untuk terus melakukan hubungan intim (perlu diketahui bahwa ada salah satu operasi untuk POP yang disebut colpocleisis yang menutup lubang vagina, dan ini akan didiskusikan secara mendalam).
Operasi umum untuk rektokel biasa disebut kolporafi posterior. Dokter bedah Anda akan mengangkat jaringan rusak yang tidak lagi menopang organ panggul Anda, kemudian menjahit jaringan sehat untuk menambah dukungan.
Sering kali, dokter bedah melakukan operasi rektokel melalui vagina Anda, suatu pendekatan yang umumnya tidak meninggalkan bekas luka luar.
Pencegahan Rektokel
Pencegahan rektokel terbaik umumnya akan berfokus pada meminimalkan ketegangan pada otot dasar panggul, seperti:
1. Hindari Sembelit (Konstipasi)
Mengejan saat sembelit adalah penyebab umum kerusakan dasar panggul. Pastikan Anda mengonsumsi cukup serat, minum air yang cukup, dan jangan menunda BAB.
2. Jaga Berat Badan Ideal
Pertahankan Indeks Massa Tubuh (IMT) sehat. Penurunan berat badan akan mengurangi tekanan kronis pada dasar panggul Anda.
3. Latihan Dasar Panggul Secara Rutin
Lakukan senam kegel setiap hari sebagai bagian dari rutinitas kebugaran Anda, bahkan ketika Anda tidak memiliki gejala rektokel.
4. Hindari Mengangkat Beban Berat yang Berlebihan
Jika Anda harus mengangkat beban yang berat, cobalah untuk menggunakan teknik yang benar, seperti tekuk lutut, bukan punggung, lalu buang napas saat mengangkat.
FAQ Seputar Rektokel
Rektokel adalah kondisi yang sering menimbulkan pertanyaan seputar gejala, penyebab, serta pilihan penanganannya.
Untuk membantu memahami lebih jelas, berikut rangkuman pertanyaan yang paling sering diajukan mengenai rektokel.
1. Bisakah kotoran tersangkut di rektokel?
Ya, salah satu gejala khas rektokel adalah defekasi yang terhambat. Kotoran (feses) dapat tersangkut dalam kantong yang menonjol (rektokel) dan membuat Anda merasa tidak lampias, bahkan setelah BAB. Inilah mengapa beberapa penderita harus menekan dinding vagina untuk mengeluarkan kotoran.
2. Apa yang terjadi jika rektokel tidak diobati?
Jika prolaps vagina posterior (rektokel) tidak diobati, kondisinya cenderung memburuk seiring waktu. Gejala akan bertambah parah, menyebabkan kesulitan BAB, nyeri panggul, dan potensi luka (ulkus) pada jaringan yang menonjol keluar.
3. Apakah rektokel merupakan hernia?
Secara teknis, ya. rektokel adalah sejenis hernia. Hernia terjadi ketika suatu organ atau jaringan menonjol melalui dinding otot yang menahannya. Dalam kasus rektokel, rektum mengalami herniasi ke dinding belakang vagina melalui jaringan yang melemah.
Baca Juga: Obat Hernia: Jenis & Cara Pengobatan Paling Ampuh!
4. Bisakah rektokel hilang dengan sendirinya?
Rektokel yang sudah terbentuk tidak akan hilang dengan sendirinya, kecuali rektokel yang terjadi sementara selama kehamilan, yang mungkin membaik setelah persalinan.
Namun, dengan terapi konservatif seperti Kegel dan pessary, gejala dapat sangat berkurang, dan kondisi dapat dikelola dengan baik.
Kapan Sebaiknya Anda Pergi ke Dokter?
Jangan tunda untuk mencari bantuan profesional jika Anda mulai merasakan tekanan di panggul, kesulitan BAB yang signifikan, atau benjolan yang keluar dari vagina. Peranakan turun atau prolaps organ panggul dapat memengaruhi kualitas hidup Anda.
Di Tzu Chi Hospital PIK, kami memiliki pusat perawatan ibu dan anak dengan tim spesialis kebidanan dan kandungan dengan keahlian khusus di bidang uroginekologi yang fokus pada kelainan dasar panggul.
Kami menawarkan diagnosis yang cermat dan rencana perawatan yang dipersonalisasi, mulai dari terapi konservatif hingga prosedur bedah rekonstruktif minimal invasif.
Jangan biarkan ketidaknyamanan mengganggu hidup Anda. Ambil langkah pertama menuju pemulihan dan peningkatan kualitas hidup sejak Anda hari ini!
- Silakan cari dokter spesialis di menu Cari Dokter pada website Tzu Chi Hospital PIK.
- Jadwalkan medical check up rutin Anda untuk deteksi dini masalah kesehatan panggul dan lainnya.
- Hubungi kami via WhatsApp untuk menjadwalkan konsultasi dan janji temu bersama dokter spesialis.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Christian, Sp.OG
Referensi:
BioMed Central. (2021). Rectal–Vaginal Pressure Gradient in Patients with Pelvic Organ Prolapse and Symptomatic Rectocele. BMC Women’s Health.
Harvard Health Publishing. Rectocele (A–Z). Harvard Health.
Related Article
Artikel Populer

Omeprazole: Manfaat, Dosis, Cara Minum, & Efek Samping

Amoxicillin: Dosis, Kegunaan, dan Efek Samping

Menu Diet Sehat 7 Hari untuk Turunkan BB tanpa Menyiksa Diri

Kedutan Mata Kanan & Kiri Bawah: Penyebab & Cara Mengatasinya menurut Medis

