Pencegahan & Deteksi Dini Penyakit

Jantung Berdebar - Gejala, Penyebab, & Pengobatannya

logo author

Ditulis Oleh

Admin TzuChi12 Januari 2026

BAGIKAN
artikel feature image

Jantung berdebar sering dirasakan sebagai detak yang cepat, tidak teratur, atau terasa kuat hingga ke dada dan leher. Sensasi ini bisa muncul tiba-tiba, bahkan saat sedang beristirahat, dan kerap disertai keluhan seperti sesak napas, pusing, atau rasa cemas berlebihan.

Banyak orang merasa khawatir apakah jantung berdebar hanya efek stres atau tanda adanya gangguan serius pada jantung.

Untuk mengetahui penyebab, faktor risiko, dan cara menanganinya dengan tepat, temukan penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Apa Itu Jantung Berdebar?

jantung berdebar

Ilustrasi Jantung Berdebar

Jantung berdebar (palpitasi) adalah sensasi ketika Anda merasa detak jantung Anda tidak normal. Ini bisa terasa seperti jantung Anda berdenyut terlalu kuat, terlalu cepat, atau tidak beraturan.

Dalam literatur medis, palpitasi didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman dari detak jantung yang cepat, berdebar-debar, ataupun tidak teratur.

Meskipun sering kali kondisi ini tidak berbahaya dan mereda dengan sendirinya, sangat penting untuk mengetahui kapan ia menjadi tanda masalah kesehatan yang serius.

  • Sensasi ini bisa muncul secara mendadak, baik saat Anda sedang beraktivitas maupun ketika Anda sedang beristirahat.
  • Selain di dada, Anda mungkin juga merasakan denyutan ini di tenggorokan atau leher.
  • Biasanya, episode jantung berdebar hanya berlangsung singkat, hanya hitungan detik atau menit.

Gejala Jantung Berdebar

ukuran detak jantung normal

Ukuran Detak Jantung Normal | Sumber: Orami

Gejala jantung berdebar tidak selalu berupa detak yang cepat. Terkadang, sensasinya bisa sangat bervariasi bagi setiap orang. 

Oleh karena itu, mari perhatikan berbagai gejala jantung berdebar  yang mungkin pernah Anda alami di bawah ini:

1. Detak Jantung Cepat (Takikardia)

Sensasi jantung berdebar paling umum pada palpitasi adalah jantung terasa berdetak lebih cepat dari biasanya, bahkan dalam kondisi istirahat. Secara medis, ini disebut takikardia, yaitu detak jantung di atas 100 kali per menit pada orang dewasa.

Penyebabnya bisa fisiologis seperti stres, cemas, olahraga, demam, konsumsi kafein atau patologis, seperti gangguan irama: atrial fibrilasi, supraventricular tachycardia, atau ventricular tachycardia. Jika terjadi mendadak, disertai pusing, sesak, atau nyeri dada, ini perlu pemeriksaan segera.

Baca Juga: Berapa Detak Jantung Normal? Ketahui Cara Ukurnya & Kapan Harus Waspada!

2. Detak Jantung Terasa Melompat atau Melewatkan Satu Denyutan

Sebagian orang menggambarkan sensasi jantung berdebar seperti detak jantung yang seolah berhenti sejenak, lalu disusul detak yang lebih kuat. Fenomena ini sering disebabkan oleh ekstrasistol (premature beat), di mana impuls listrik jantung muncul lebih awal dari jadwal normal.

Akibatnya, jantung “pause” sesaat sebelum memompa lebih kuat berikutnya. Biasanya tidak berbahaya, tapi bisa menjadi tanda awal aritmia bila sering terjadi atau disertai gejala lain.

3. Jantung Terasa Bergetar atau Berkibar-kibar

Beberapa pasien juga sering kali menggambarkan sensasi jantung berdebar seperti jantung bergetar halus di dalam dada, yang dalam istilah medis sering berkaitan dengan fibrilasi atrium (AF) atau flutter atrium.

Pada kondisi ini, ruang atas jantung (atrium) berkontraksi secara cepat dan tidak terkoordinasi, menyebabkan denyutan yang terasa seperti “berkibar” di dada.

Fibrilasi atrium merupakan kelainan irama jantung serius karena dapat meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung, terutama jika tidak terdeteksi dini.

4. Jantung Berdenyut Terlalu Kuat

​​Terkadang kecepatan detak jantung normal, tetapi setiap denyut terasa menghentak sampai bisa terasa di dada, leher, atau kepala.

Ini terjadi saat kontraksi jantung meningkat kekuatannya, misalnya akibat kecemasan, anemia, hipertiroidisme, atau tekanan darah tinggi.

Palpitasi jenis ini sering muncul pada orang dengan sensitivitas tinggi terhadap perubahan tekanan darah atau hormon adrenalin. Meski bisa jinak, pemeriksaan tetap penting untuk menyingkirkan gangguan struktural jantung.

5. Cepat Lelah dan Jantung Berdebar

Kombinasi kelelahan berlebihan dan jantung berdebar merupakan tanda bahwa otot jantung mungkin bekerja lebih keras dari normal.

Kondisi ini dapat muncul pada gagal jantung awal, anemia berat, gangguan elektrolit, atau aritmia kronik.

Jika jantung tidak mampu memompa darah secara efisien, tubuh kekurangan oksigen sehingga mudah lelah bahkan saat melakukan aktivitas ringan.

6. Tiba-tiba Terbangun dan Jantung Berdebar

Palpitasi yang muncul saat tidur atau bahkan membangunkan Anda di malam hari merupakan tanda penting yang sering diabaikan.

Bisa disebabkan oleh gangguan irama jantung nokturnal, sleep apnea, refluks asam lambung (GERD), atau kecemasan berat.

Pada beberapa kasus, palpitasi malam hari juga berkaitan dengan gangguan sistem saraf otonom, yang mengatur detak jantung secara otomatis.

Penyebab Jantung Berdebar

Jika Anda sering merasakan sensasi jantung berdebar yang mengganggu, langkah pertama adalah mengidentifikasi pemicunya.

Penting bagi Anda untuk mengetahui bahwa detak jantung yang terasa kencang atau tidak teratur (palpitasi) tidak selalu disebabkan oleh masalah serius pada organ jantung itu sendiri.

Sering kali, penyebabnya justru berasal dari luar jantung, seperti kebiasaan sehari-hari atau kondisi tubuh lainnya.

Menurut penelitian prospektif terhadap 190 pasien dengan keluhan jantung berdebar, penyebab pasti dapat diidentifikasi pada 84% kasus.

Dari jumlah tersebut, 43% disebabkan oleh gangguan jantung (aritmia), 31% oleh faktor psikiatri seperti kecemasan atau stres, 10% oleh penyebab lain, dan 16% tidak diketahui penyebabnya.

Berikut adalah tujuh penyebab jantung berdebar yang sering dikeluhkan:

1. Gaya Hidup yang Memicu Jantung Berdebar

Kebiasaan harian Anda memiliki dampak besar pada irama detak jantung. Stimulan dan kurangnya istirahat adalah pemicu yang sangat umum:

  • Minuman Berkafein dan Alkohol: Konsumsi kopi, teh, minuman berenergi, atau minuman beralkohol yang berlebihan dapat memicu jantung berdetak lebih cepat dan kuat.
  • Merokok: Nikotin adalah stimulan kuat yang dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
  • Tidur yang Tidak Cukup: Kurang istirahat membuat sistem saraf Anda tegang, yang kemudian memengaruhi irama jantung.
  • Latihan Fisik yang Sangat Berat: Meskipun olahraga itu sehat, aktivitas fisik yang terlalu intensif dan mendadak bisa memicu palpitasi.
  • Penyalahgunaan Zat: Penggunaan obat terlarang seperti kokain atau amfetamin secara langsung merangsang jantung.

2. Faktor Psikologis dan Kondisi Emosional

Kondisi pikiran dan emosi Anda adalah pemicu non-fisik yang paling sering menyebabkan jantung berdebar kencang. Jika Anda merasa gelisah dan jantung berdebar, ini mungkin penyebabnya:

  • Stres atau Kecemasan: Saat Anda stres, tubuh melepaskan hormon seperti adrenalin yang secara alami mempercepat detak jantung.
  • Serangan Panik: Merupakan episode intens dari rasa takut dan cemas yang tiba-tiba, seringkali disertai detak jantung yang sangat cepat dan kuat.
  • Ketakutan Luar Biasa: Reaksi kaget atau takut yang ekstrem dapat memicu respons tubuh serupa dengan serangan panik.

3. Efek Samping dari Obat-obatan

Beberapa jenis obat yang Anda konsumsi untuk mengobati kondisi lain bisa tanpa sengaja memicu atau memperburuk palpitasi. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda:

  • Obat yang digunakan untuk asma (inhaler).
  • Obat tekanan darah tinggi tertentu (antihipertensi).
  • Obat pilek dan flu yang mengandung dekongestan (phenylephrine).
  • Beberapa jenis antihistamin (obat alergi) dan antidepresan.

4. Fluktuasi Hormon dalam Tubuh

Perubahan kadar hormon dalam tubuh, terutama pada wanita, juga dapat menjadi penyebab jantung berdebar dan memengaruhi kecepatan dan kekuatan detak jantung:

  • Masa Menstruasi: Fluktuasi hormon bulanan.
  • Kehamilan: Peningkatan volume darah dan perubahan hormon dapat menyebabkan jantung berdebar ringan.
  • Menopause: Perubahan hormonal yang signifikan sering dikaitkan dengan peningkatan kasus palpitasi.

Baca Juga: 8 Perbedaan Darah Haid dan Hamil: Ciri, Warna, hingga Baunya

5. Gangguan Irama Jantung (Aritmia)

Penyebab jantung berdebar seperti irama jantung adalah kondisi medis di mana masalahnya memang berada pada sistem kelistrikan jantung. Jenis-jenis gangguan irama ini memerlukan diagnosis dan penanganan dari Dokter Spesialis Jantung:

  • Fibrilasi Atrium (AFib): Detak jantung tidak teratur dan seringkali sangat cepat.
  • Takikardia Supraventrikular (SVT): Detak jantung cepat yang berasal dari bagian atas jantung.
  • Takikardia Ventrikular: Detak jantung cepat yang berasal dari bilik jantung, seringkali lebih serius.

6. Penyakit Jantung Struktural

Jika jantung berdebar muncul sebagai gejala, maka penyakit jantung struktural adalah kondisi mendasarnya yang harus segera ditangani:

  • Gagal Jantung: Jantung tidak dapat memompa darah secara efisien.
  • Penyakit Katup Jantung: Katup jantung yang bermasalah dapat menyebabkan kerja jantung lebih keras.
  • Kardiomiopati: Otot jantung yang melemah atau membesar.
  • Penyakit Jantung Bawaan: Kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir.

7. Kondisi Medis Lain di Luar Jantung

Detak jantung Anda juga sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Beberapa penyakit dan kondisi umum berikut bisa menjadi penyebab jantung berdebar yang tersembunyi:

  • Hipertiroidisme: Kelenjar tiroid yang terlalu aktif menghasilkan hormon berlebihan, memicu jantung berdetak kencang.
  • Anemia: Kekurangan sel darah merah membuat jantung bekerja lebih keras untuk mendistribusikan oksigen.
  • Dehidrasi: Kekurangan cairan tubuh memengaruhi tekanan darah dan irama jantung.
  • Demam Tinggi: Peningkatan suhu tubuh di atas 38°C secara otomatis meningkatkan detak jantung.
  • Hipoglikemia: Kadar gula darah rendah, sering terjadi pada penderita diabetes, dapat memicu palpitasi.

Faktor dan Risiko Jantung Berdebar

Jantung berdebar bisa disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi tubuh yang normal hingga gangguan medis tertentu. Memahami penyebabnya penting untuk menentukan apakah keluhan ini bersifat sementara atau memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

1. Faktor Fisiologis (Non-Patologis)

Faktor fisiologis biasanya bersifat sementara dan tidak berbahaya, namun bisa menimbulkan sensasi berdebar yang mengganggu.

  • Stres dan kecemasan: memicu pelepasan hormon adrenalin yang mempercepat detak jantung.
  • Konsumsi kafein, nikotin, dan alkohol: zat stimulan yang meningkatkan aktivitas listrik jantung.
  • Kurang tidur dan kelelahan: mengganggu keseimbangan sistem saraf otonom sehingga jantung mudah berdebar.
  • Perubahan hormon: terjadi pada masa menstruasi, kehamilan, atau menopause.
  • Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit: menyebabkan gangguan transmisi sinyal listrik jantung.

2. Faktor Medis (Patologis)

Jika berdebar terjadi tanpa pemicu jelas atau disertai gejala lain seperti pusing atau sesak, bisa jadi ada kondisi medis yang mendasari.

  • Gangguan irama jantung (aritmia): seperti fibrilasi atrium atau takikardia.
  • Penyakit jantung struktural: misalnya penyakit jantung koroner, kelainan katup, atau kardiomiopati.
  • Anemia: jantung bekerja lebih keras untuk mengompensasi kekurangan oksigen.
  • Demam atau infeksi: meningkatkan detak jantung sebagai respons metabolik tubuh.
  • Gangguan tiroid: hipertiroidisme mempercepat metabolisme dan aktivitas jantung.
  • Efek samping obat: seperti dekongestan, bronkodilator, atau obat stimulan tertentu.

3. Faktor Gaya Hidup dan Lingkungan

Beberapa kebiasaan atau kondisi luar juga bisa berpengaruh pada ritme jantung, seperti:

  • Kurang olahraga atau aktivitas ekstrem tiba-tiba.
  • Paparan panas berlebih atau dehidrasi berat.
  • Konsumsi suplemen herbal atau zat terlarang (amfetamin, kokain).
  • Stres emosional kronis atau tekanan psikologis tinggi.

4. Faktor Risiko Pribadi

Beberapa kondisi juga bisa membuat seseorang lebih rentan mengalami palpitasi.

  • Riwayat keluarga penyakit jantung atau aritmia.
  • Hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi.
  • Obesitas dan sleep apnea (gangguan napas saat tidur).

Diagnosis Jantung Berdebar

Menentukan penyebab jantung berdebar tidak bisa hanya berdasarkan gejala. Dokter perlu menilai pola, durasi, dan kondisi penyerta melalui wawancara, pemeriksaan fisik, serta tes penunjang. 

Tujuannya adalah memastikan apakah palpitasi bersifat ringan atau menandakan gangguan irama jantung serius.

Oleh karena itu, diagnosis jantung berdebar pada umumnya meliputi:

1. Anamnesis (Wawancara Medis)

Dokter akan menggali informasi terkait:

  • Kapan jantung berdebar terjadi (saat istirahat, aktivitas, atau malam hari).
  • Durasi, frekuensi, dan sensasi yang dirasakan (cepat, tidak teratur, keras).
  • Faktor pemicu seperti stres, kafein, obat, atau riwayat penyakit.
  • Gejala penyerta seperti pusing, sesak napas, nyeri dada, atau pingsan.

2. Pemeriksaan Fisik

Tahapan ini dilakukan untuk menilai tanda-tanda gangguan jantung atau faktor sistemik lainnya.

  • Mengukur tekanan darah dan denyut nadi.
  • Memeriksa irama jantung dengan stetoskop.
  • Menilai kemungkinan pembesaran jantung, gangguan tiroid, atau anemia.

3. Pemeriksaan Penunjang Jantung

Tes ini membantu mendeteksi adanya kelainan irama atau struktur jantung.

  • Elektrokardiogram (EKG): merekam aktivitas listrik jantung untuk mendeteksi aritmia.
  • Holter Monitor 24 Jam: alat pemantau EKG portabel untuk mendeteksi gangguan irama yang muncul secara berkala.
  • Ekokardiografi (USG Jantung): menilai struktur dan fungsi jantung, termasuk katup dan aliran darah.
  • Tes Latih Jantung (Exercise Stress Test): menilai reaksi jantung saat beraktivitas fisik.

4. Pemeriksaan Laboratorium

Dalam hal pemeriksaan laboratorium, tes darah dapat membantu menemukan penyebab non-jantung.

  • Pemeriksaan kadar elektrolit: kalium, natrium, magnesium.
  • Tes fungsi tiroid: mendeteksi hipertiroidisme yang sering memicu palpitasi.
  • Kadar hemoglobin: menilai kemungkinan anemia.
  • Kadar gula darah dan profil lipid: mendeteksi risiko penyakit kardiovaskular.

Baca Juga: Jantung Koroner: Gejala, Penyebab, Pengobatan dan Bahayanya

Pengobatan & Cara Mengatasi Jantung Berdebar

Berikut 6 cara mengatasi jantung berdebar yang dipicu faktor non-medis:

1. Lakukan Teknik Pernapasan Dalam

Ketika Anda merasa cemas dan jantung berdebar, teknik ini dapat menstimulasi saraf vagus (saraf yang mengatur detak jantung), membantu memperlambat irama jantung Anda.

Teknik ini juga efektif sebagai cara mengatasi jantung berdebar saat tidur atau saat serangan panik.

  • Tarik Napas Dalam: Coba teknik pernapasan 4x4: Tarik napas perlahan selama 4 hitungan, tahan 4 hitungan, dan buang napas perlahan selama 4 hitungan. Ulangi sampai Anda merasa lebih tenang.
  • Manuver Vagal Sederhana: Cobalah batuk dengan keras, seolah-olah Anda ingin mengeluarkan dahak. Peningkatan tekanan ini dapat membantu mengatur ulang detak jantung Anda.

2. Penuhi Kebutuhan Cairan dengan Minum Air Putih

Tahukah Anda bahwa dehidrasi adalah salah satu pemicu umum jantung berdebar? Saat tubuh kekurangan cairan, darah menjadi lebih kental. Jantung Anda harus bekerja ekstra keras untuk memompa darah kental ini, yang bisa menyebabkan sensasi berdebar.

Minum segelas air putih segera saat Anda merasakan palpitasi. Memastikan asupan cairan harian Anda cukup adalah cara preventif yang sangat penting.

3. Jaga Keseimbangan Elektrolit Melalui Makanan Sehat

Elektrolit seperti Kalium, Kalsium, dan Magnesium sangat penting untuk menjaga sinyal listrik dan fungsi pemompaan jantung yang teratur. Kekurangan elektrolit dapat menyebabkan detak jantung tidak stabil.

  • Sumber Kalium: Konsumsi buah seperti pisang dan alpukat, atau sayuran seperti bayam dan ubi jalar.
  • Sumber Kalsium dan Magnesium: Ada pada susu, produk olahannya, sayuran hijau, dan kacang-kacangan.

4. Kelola Stres dengan Bijak dan Rutin Lakukan Relaksasi

Karena stres dan kecemasan adalah penyebab utama detak jantung cepat, belajar mengelola kondisi mental Anda adalah cara mengatasi jantung berdebar jangka panjang yang paling efektif.

  • Aktivitas Relaksasi: Coba teknik mindfulness, meditasi, atau yoga.
  • Olahraga Ringan: Melakukan olahraga teratur juga merupakan strategi ampuh untuk melepaskan ketegangan dan mengelola stres.

5. Hindari Stimulan dan Ubah Gaya Hidup

Menjalani gaya hidup sehat adalah fondasi pencegahan. Banyak kasus jantung berdebar terjadi karena kebiasaan yang memicu.

  • Batasi Stimulan: Kurangi atau hentikan konsumsi kafein berlebihan (kopi, minuman energi), alkohol, dan yang paling penting, rokok.
  • Perhatikan Diet: Kurangi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.

6. Pertimbangkan Suplemen (Vitamin D) dengan Konsultasi Dokter

Selain elektrolit, nutrisi lain juga berperan, salah satunya Vitamin D. Meskipun bukan elektrolit, Vitamin D membantu tubuh menyerap dan mengedarkan elektrolit, sehingga berperan dalam menjaga irama jantung.

Baca Juga: Dokter Jantung Terbaik di Jakarta dan Indonesia, Cek Sekarang!

Komplikasi Jantung Berdebar

Jantung berdebar umumnya tidak berbahaya bila terjadi sesekali dan tanpa kelainan jantung. Namun, jika disebabkan oleh gangguan irama atau penyakit jantung tertentu, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah serius yang memengaruhi fungsi jantung dan sirkulasi darah.

Komplikasi biasanya muncul ketika ritme jantung menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur sehingga mengganggu kemampuan jantung memompa darah secara efektif.

Beberapa komplikasi jantung berdebar yang dapat terjadi antara lain:

  • Aritmia berat, seperti fibrilasi atrium atau ventrikel yang berpotensi mengancam jiwa.
  • Gagal jantung, akibat kerja jantung yang terlalu berat atau efisiensi pompa yang menurun.
  • Stroke, karena adanya pembentukan bekuan darah saat irama jantung tidak teratur.
  • Pingsan atau kehilangan kesadaran, akibat aliran darah ke otak yang menurun mendadak.
  • Serangan jantung, bila palpitasi berkaitan dengan penyakit arteri koroner.
  • Gangguan kecemasan kronis, karena rasa cemas berlebihan terhadap sensasi berdebar yang terus berulang.

Kapan Harus ke Dokter?

Kesehatan jantung adalah investasi terbesar Anda. Jika Anda mengalami gejala yang mengkhawatirkan, apalagi jika disertai risiko, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan tim spesialis jantung yang kompeten dan berpengalaman.

Tzu Chi Hospital PIK menyediakan layanan kardiologi yang komprehensif, didukung oleh teknologi diagnostik terkini seperti EKG, Holter Monitor, Ekokardiografi, hingga fasilitas Studi Elektrofisiologi dan Ablasi Jantung.

Yuk, mulailah menjaga kesehatan jantung Anda hari ini!

  • Klik menu Cari Dokter di website kami untuk mencari dokter spesialis jantung terbaik.
  • Jadwalkan pemeriksaan kesehatan rutin dengan medical check up untuk deteksi dini.

Untuk menjadwalkan konsultasi dan janji temu, silakan Hubungi kami via WhatsApp.

 

Artikel ini telah ditinjau oleh Dr. Agill Agassi Tsalitsa, Sp.JP, FIHA

 

Referensi:

Good Clinical Practice Network. Evaluation and Outcomes of Patients with Palpitations

PubMed Central. Palpitations: What is the Mechanism, and When Should We Treat Them?


Related Article

Topik Terkini



VIDEOS